Rabu, 13 Juni 2012

Musuh Alami Hama dan Penyakit

Meldi - Suara Komunitas

Pengendalian hayati adalah suatu pengendalian hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasi musuh-musuh alami untuk menurunkan populasi hama. Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didefinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alami hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya atau lebih rendah di bandingkan apabila musuh alami tidak ada. Seperti yang terjadi pada puluhan petani yang tinggal di Desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, yang pada musim tanam tahun ini hampir semua tanaman padi petani terserang hama semut hitam. Dibutuhkan pengendalian alami dengan menggunakan musuh alali dari populasi hama.

Pengendalian alami adalah merupakan proses pengendalian yang berjalan dengan sendiri tanpa ada campur tangan manusia. Pengendalian alami terjadi tidak hanya karena bekerjanya musuh-musuh alami tetapi juga karena bekerjanya komponen-komponen ekosistem.

Faktor Penentu Dinamika Hama dan Penyakit

Musim Tanam

Pada musim kemarau, hama dan penyakit padi yang umumnya timbul berdasar- kan tingkat keparahannya adalah tikus, diikuti oleh penggerek batang, dan walang sangit. Oleh karena itu, langkah-langkah pengendalian dititikberatkan pada hama tikus.

Pada musim hujan, hama dan penyakit yang biasa timbul adalah tikus, wereng coklat, penggerek batang, lembing batu, penyakit tungro, blas, hawar daun bakteri, dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Dalam keadaan khusus, hama dan penyakit berkembang di luar kebiasaan tersebut. Misalnya pada musim kemarau yang basah, wereng coklat dapat juga menjadi masalah bagi varietas rentan (Hendarsih et al. 1999).

Stadia Tanaman

Pada periode bera, larva penggerek batang berada di dalam singgang dan adakalanya singgang terinfeksi virus tungro, dan berbagai penyakit yang disebab-kan oleh bakteri. Di dalam jerami bisa juga terdapat sklerotia dari beberapa penyakit jamur. Tikus bisa berada di tengah-tengah tanaman lain atau bersembunyi di tanggul irigasi. Pada lahan yang cukup basah, keong mas juga dapat ditemukan. Semua hama dan penyakit pada saat bera bisa menjadi sumber hama dan penyakit pada pertanaman berikutnya.

Di persemaian dapat dijumpai tikus, penggerek batang, wereng hijau, bibit terinfeksi tungro, dan telur siput murbai. Hama dan penyakit pada stadia vegetatif adalah siput murbai, ganjur, hidrelia, tikus, penggerek batang, wereng coklat, hama penggulung daun, ulat grayak, lembing batu, tungro, penyakit hawar daun bakteri, dan blas daun. Pada stadia generatif biasanya ada tikus, penggerek batang, wereng coklat, hama penggulung daun, ulat grayak, walang sangit, lembing batu, tungro, penyakit hawar bakteri, blas leher dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh cendawan.

Budi Daya Padi

Budi daya tanaman padi dalam usaha peningkatan produktivitas mem-pengaruhi keberadaan hama dan penyakit. Pengolahan tanah, pembersihan gulma dan singgang, pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam, pengairan, dan pemeliharaan ikan dapat mengurangi serangan beberapa hama dan penyakit padi. Pengairan berselang selain meningkatkan hasil panen juga mengurangi serangan penyakit padi. Namun bisa juga budi daya padi mempunyai pengaruh ganda yang berlawanan, yaitu pada satu sisi meningkatkan hasil panen, di sisi lain merangsang perkembangan hama dan penyakit. Introduksi varietas unggul di awal 1970 telah meningkatkan produksi padi yang tinggi, tetapi ledakan wereng coklat pada dekade 70an diduga terjadi karena adopsi varietas unggul yang peka terhadap wereng coklat dan responsif terhadap pemupukan (Mochida et al. 1980). Demikian juga ledakan penggerek batang padi putih pada dekade 90an, diduga disebabkan oleh luasnya pertanaman IR64 dan penyimpangan iklim (Hendarsih et al. 2000).

Musuh Alami

Pada pertanaman padi banyak sekali organisme berguna yang dapat menekan populasi hama dan patogen penyakit. Berbagai jenis laba-laba sangat berguna dalam memangsa berbagai serangga hama (Widiarta et al. 2001). Selain itu parasitoid berfungsi menekan peningkatan populasi hama serangga. Parasitoid telur wereng coklat Anagrus spp. dan Oligosita spp. berfungsi menekan ledakan wereng coklat secara alami. Selain itu di lapangan terdapat bakteri antagonis yang dapat menekan cendawan penyakit hawar pelepah daun (Sudir dan Suparyono 2000). Banyak entomopatogen yang secara tidak disadari ikut mengendalikan serangga hama, dan dapat dibiakkan untuk pengendalian secara hayati.

Tindakan Pengendalian

Pengendalian terhadap satu jenis hama dapat menimbulkan populasi yang asalnya tidak penting. Ledakan ganjur di Pantai Utara Jatiluhur pada tahun 1970an diduga karena gencarnya penyemprotan pestisida dari udara sejak 1968. Beberapa insektisida ternyata sangat toksik terhadap banyak fauna, termasuk musuh alami yang populasinya tertekan, sehingga populasi hama terus bertambah dan berubah menjadi hama yang resisten terhadap insektisida yang bersangkutan. Beberapa insektisida bukan saja berspektrum luas (broad spectrum) tetapi juga memicu perkembangan populasi (resurjensi). Hal tersebut terjadi pada wereng coklat, sehingga melahirkan Inpress No. 3 th 1986, tentang larangan 57 jenis insektisida. Adopsi varietas tahan adalah cara pengendalian yang paling aman terhadap lingkungan. Namun jika satu varietas tahan ditanam secara terus-menerus pada areal luas yang akan menyebabkan perubahan biotipe hama atau ras patogen penyakit. Untuk wereng coklat, perubahan biotipe menuju yang lebih ganas berlangsung sangat cepat, sebab kebanyakan varietas tahan diatur oleh gen monogenik. Tekanan terhadap populasi wereng sangat tinggi sehingga cepat berubah menjadi biotipe yang lebih virulen. Wereng hijau cepat beradaptasi dengan varietas baru sehingga dalam beberapa waktu musim tanam, varietas yang semula tidak tertular tungro menjadi rentan tungro, karena sifat ketahanan yang dimiliki adalah tahan wereng hijau. Varietas tahan blas cepat sekali menjadi rentan, karena ras blas di lapang cepat berubah dan menyesuaikan diri dengan varietas yang baru diintrodaksi. Luasnya pertanaman IR64 menyebabkan varietas ini diinfeksi parah oleh bakteri hawar daun. Dengan demikian diketahui bahwa pengendalian hama dan penyakit tidak bisa mengandalkan satu cara pengendalian.

Pola Tanam

Pada lahan beririgasi teknis, pengairan dapat diatur sehingga waktu tanam dapat ditentukan dan waktu tanam menjadi serempak. Tanam serempak dapat mengurangi serangan berbagai hama dan penyakit. Pengendalian tungro dengan waktu tanam tepat dan pergiliran varietas tahan dapat diterapkan pada lahan pertanaman serempak seperti di Sulawesi Selatan (Sama et al. 1991). Pada lahan yang penanamannya tidak serempak, pertanaman musim hujan setelah kekeringan paling rawan terhadap eksplosi hama dan penyakit, terutama setelah pertanaman MK II. Hama dan penyakit yang berpotensi eksplosif pada musim hujan setelah kekeringan adalah wereng coklat dan tungro. Kegagalan pengendalian tikus pada dua musim tanam sebelumnya akan memperparah serangan tikus pada musim hujan. Apabila dilakukan penanaman pada MK II maka akan terjadi akumulasi populasi. Pada kondisi tersebut keberhasilan pengendalian tikus pada musim hujan (sebelum MK I) berdampak terhadap keberhasilan pengendalian tikus pada MK I dan MK II, kemudian berlanjut pada musim hujan. Jika pengendalian tikus pada awal musim hujan sebelum kekeringan kurang baik, akan menyebabkan kegagalan berantai sampai musim hujan setelah kekeringan.

Di beberapa tempat, walaupun beririgasi teknis karena alokasi air yang terbatas atau kelompok tani kurang berjalan, waktu tanam menjadi tidak serempak. Pada pola tanam tidak serempak, hama yang perlu diamati adalah tikus, terutama pada musim kemarau. Ketidakserempakan tanam memberikan kesempatan bagi tikus untuk bereproduksi (breeding period) dalam waktu yang lebih panjang. Selain itu, pengendalian tungro dengan pergiliran varietas berdasarkan ketahanan terhadap wereng hijau kurang berhasil karena selalu ada tanaman yang muda, tempat wereng hijau berkembang menularkan virus tungro.

Parasit/Parasitoid

Parasit adalah arthropoda yang seluruh fase pertumbuhannya dilalui pada inang. Parasit ada yang tumbuh di dalam atau di luar inang. Parasitoid adalah parasit yang hanya pada fase nimfa/larva hidup pada inangnya, sedangkan pada fase imagonya hidup di luar inang dari madu atau tepung sari (DeBach et al. 1971). Jenis parasit Trichogramma telah dikembangkan dan dapat dibiakkan secara massal pada inang alternatifnya, untuk mengendalikan penggerek batang padi.

Patogen

Patogen menginfeksi serangga (entomopathogent) sampai mati. Tiga jenis patogen serangga yaitu jamur, bakteri, dan virus. Patogen dari jenis jamur yang dapat diperbanyak untuk mengendalikan wereng coklat, wereng hijau, dan lembing batu adalah Metarhizium dan Beuveria (Widiarta dan Kusdiaman 2002 Baehaki dan Kertohardjono 2003). Patogen dari jenis virus (nucleus poly-hydrosis virus=NPV) dapat digunakan untuk mengendalikan ulat grayak (Arifin et al. 2005).

Predator

Predator mematikan serangga dengan cara memakan (menggigit-mengunyah) adalah dari jenis laba-laba, dan yang mengisap adalah dari jenis kepik. Jenis predator yang diandalkan untuk mengendalikan wereng adalah dari jenis laba-laba (Lycosa), dan kepik (Cyrtorhinus, Microvelia). Laba-laba sulit dibiakkan secara massal karena sifatnya yang kanibal. Predator dari jenis kepik dapat diperbanyak, sehingga dapat dilepas dengan teknik inundasi. Walaupun demikian, disarankan untuk mengkonservasi bila ingin meningkatkan peran predator (Widiarta et al. 2001). Predator ini dapat dikonservasi dengan rotasi padi dengan palawija, menaruh mulsa jerami pada pematang atau membersihkan pematang setelah tanaman umur 1 bulan atau secara selektif bagi gulma yang berfungsi sebagai inang alternatif saja.

Sumber: Litbang Deptan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar