Rabu, 17 Desember 2014

Bupati KLU Resmikan Pasar Harian Anyar

Lombok Utara - Bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu, SH, 17/12, meresmikan perubahan satatus pasar umum mingguan Desa Anyar Kecamatan Bayan menjadi pasar harian. Peresmian pasar tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemukulan gong oleh Bupati KLU.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengaku di KLU baru memiliki dua pasar harian, yaitu pasar Tanjung dan Gondang. Sementara di Kecamatan lainnya seperti pasar Pemenang dan Kayangan belum berubah status, kecuali pasar umum Desa Anyar Kecamatan Bayan. “Pasar di KLU ini cukup banyak, tapi rata-rata pasar mingguan, dan kedepan akan kita usahakan pasar yang ada menjadi pasar harian”, katanya.

Menyorotyi perjalana KLU yang sudah berusia 6 tahun, menurut Djohan Sjamsu sudah banyak pembangunan yang dicapai termasuk pengaspalan jalan sepanjang 200 km lebih dari total panjang jalan 525 km. Kendati demikian, bupati  juga tidak menutup mata bahwa selain capaian tersebut juga masih banyak masalah daerah yang belum terselesaikan, seperti angka kemiskinan yang masih tinggi.

Dikatakan, kedepan program yang akan terus dikawal pemerintah adalah kerjasama dengan New Zaeland untuk kerjama meningkatkan pertanian dan pemasaran hasilnya, pembangunan Bandar laut internasional dan pembangunan kilang minyak internasional. “Untuk kilang minyak, direktur utama pertamina pusat sudah bertemu dengan saya membicarakan potensi yang dimiliki KLU yaitu kilang minyak”, katanya dsambut tepuk tangan ratusan peserta yang hadir.

Sementara anggota DPD RI, Hj. Baiq Diah Ratu Ganefi mengaku bahwa potensi yang dimiliki KLU cukup luar biasa, baik pertanian, perkebunan dan pariwisatanya. Potensi yang dimiliki daerah ini pada lima tahun mendatang akan dapat menjadi icon bagi daerah lain. “KLU sebelum terpisah dengan Lombok Barat kita belum pernah melihat jalan yang sangat bagus seperti sekarang ini, demikian juga dengan potensi yang dimiliki sungguh sangat luar biasa”, tegasnya.

Sedangkan Kepala Dinas Perindustrian,  Perdagangan, Koperasi dan UKM KLU, DR. Abdul Hamid mengatakan,  pengalihan status pasar mingguan menjadi pasar harian di Desa Anyar  sebagai bagian upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan laju perekonomian masyarakat, dan memberikan kemudahan untuk mendapatkan barang serta memotivasi semangat masyarakat untuk jual beli di pasar harian.

Yang menjadi kendala di beberapa pasar yang ada di KLU, lanjut Abdul Hamid adalah belum adanya bangunan kantor juru pungut, serta belum tersedianya WC dan musalla. Dan persoalan ini masih banyak dikeluhkan oleh pengunjung pasar. “Insya Allah semua keluhan ini kita akan upayakan pembangunannya pada tahun 2015 mendatang, dan akan menambah pembangunan pasar di Desa Sambik Elen”, jelasnya.
Selengkapnya... »»  

Jumat, 14 November 2014

Dewan KLU Cuatkan Pansus RTLH Setelah Konsultasi Dengan Kemenpera

Lombok Utara,  Informasi dugaan masih adanya rumah tidak layak huni (RTLH) yang belum selesai, sejumlah Dewan yang duduk di komisi-komisi DPRD KLU mulai mencuatkan perlunya dibentuk Panitia Khusus (Pansus). Terlebih program dari Kementerian Perumahan Rakyat tersebut dialokasikan sejak tahun 2013 lalu – khususnya di Kecamatan Bayan.

Anggota Komisi III DPRD KLU, L. M. Zakki, kepada wartawan, Selasa (11/11), mengaku sangat terusik dengan rumor yang berkembang terkait tidak selesainya rumah kumuh yang ada di Desa Akar-Akar. Di Desa Akar-Akar, warga di sejumlah Dusun menerima program rumah kumuh tahun 2013 lalu, bersamaan dengan 3 Desa lain, yaitu Desa Sambik Elen, Desa Senaru dan Desa Karang Bajo. Menjadi rahasia umum di masyarakat, bahwa dari 4 Desa penerima tahun lalu itu, hanya Karang Bajo yang berhasil menuntaskan program. Sebaliknya, di 3 Desa lainnya, masih ditemukan ada rumah penerima RTLH yang terbukti belum jadi.

“Ada sejumlah warga yang melapor, sampai datang ke rumah memberitahukan rumah mereka belum jadi. Dasar itu, saya berinisiatif mengerahkan pendukung saya untuk mengecek ke bawah. Dan ternyata benar, ada sejumlah warga yang memang rumahnya belum jadi,” kata Zakki yang mengaku memiliki bukti dokumentasi lapangan.

Rumor RTLH yang belum selesai ini tidak hanya menghangat karena pemberitaan sejumlah media. Namun di level Dewan pun, Zakki mengakui, masih ada pro kontra. Di antara kalangan Dewan, diduga ada yang tidak menginginkan Pansus RTLH.

“Di komisi, saya hampir jotos-jotosan, anehnya lagi, sampai saya yang diserang balik dan dituding membawa masalah pribadi ke lembaga. Bagaimana bisa masalah rumah kumuh warga adalah masalah pribadi saya,” cetusnya.

“Saya tetap pada komitmen, Pansus harus tetap jalan, apapun ancaman mereka, saya tetap jalan demi masyarakat,” cetusnya lagi. Usut punya usut, ternyata beberapa malam lalu, Zakki sampai menghubungi Polsek terdekat untuk meminta bantuan perlindungan polisi karena adanya ancaman yang ia terima.

Disebutkan, Kemenpera mengalokasikan total Rp 30 miliar untuk rehab RTLH tuntas Kecamatan Bayan. Dana itu dialokasikan masing-masing Rp 15 miliar pada 2013 dan Rp 15 miliar tahun ini. Konon hanya Desa Anyar yang sampai saat ini belum menerima, tanpa alasan yang jelas.

Anggota Komisi III lainnya, Artadi, SH., mengklaim jika pihaknya telah melakukan konsultasi dengan Kemenpera terkait masalah itu. Pihaknya dibuat kaget karena laporan ke pusat, program yang dijalankan tahun 2013 lalu dilaporkan tuntas. Termasuk klaim laporan yang disampaikan ke BPKP juga tuntas 100 persen. Namun menyadari masih adanya laporan yang diterima sepihak oleh person anggota dewan, ia justru makin yakin, rumah kumuh bertolak belakang dengan fakta klaim 100 persen jadi.

“Pelaksanaan program harus mencau pada Permen Kemenpera No. 6 tahun 2013. Di sana jelas aturannya apa saja. Untuk itu kami masih kumpulkan sampel dulu, baru setelah itu kami selesaikan di tingkat komisi. Jika tidak selesai, baru kami ajukan ke lintas komisi untuk dibuatkan Pansus,” ujar Artadi.

Rupa-rupanya, informasi dan laporan RTLH yang tidak selesai tidak hanya diterima Komisi III yang membidangi. Ketua Komisi I DPRD KLU, Ardianto, SH., juga mengklaim menerima laporan serupa. Oleh karena itulah, dirinya menyarankan agar Anggota Komisi III DPRD KLU segera menuntaskan investigasinya. Jika dipandang perlu untuk membuat Pansus, dirinya dengan senang hati akan ikut terlibat.

“Kami di Komisi I sangat mendukung dibuatnya Pansus. Pansus tidak serta merta mencari persoalan, tetapi mendalami dan mengklirkan persoalan yang terjadi sehingga tidak menjadi isu semata. Bagi saya, teman-teman Komisi III tidak harus mencari sampel sampai 30 unit, 3 rumah pun bisa jadi sampel,” dukung Ardianto. (sk-22/0001/ari: Harian Suara NTB)
Selengkapnya... »»  

Algas AR, Wartawan Senior KLU dan Pejuang Rakom Meninggal Dunia

Innalillahi Wainna Ilaihi Roji'un. Aludi AR, SH., biasa disapa Algas, meninggal di usia 56 tahun. Sosok wartawan dan pejuang Rakom yang dikenal humoris dengan pernyataan kontroversial ini menghembuskan nafas terakhir di RSUP NTB, Selasa (11/11) malam.

Deki, putra ketiga almarhum menerangkan bahwa sang ayah, wafat karena menderita sesak nafas. Tidak ada keganjilan yang dialami maupun terlihat dari raut muka almarhum sebelum meninggal. Senin (10/11) sekitar pukul 8 malam, almarhum di bawa ke RSUD Tanjung. Diagnosa rumah sakit menunjukkan almarhum sesak nafas. Senin sore sebelum dirujuk ke RSUD Tanjung, informasi menyebutkan almarhum sempat jalan kaki di gang-gang sekitar kediaman, Dusun Kapu, Desa Jenggala, Kecamatan Tanjung. Almarhum juga sempat merasa pusing, mual dan muntah. Hal itu lantaran almarhum cukup sibuk menyelesaikan proyek dokumenter 33 desa di KLU.

"Selasa pagi sekitar pukul 10, ayah dirujuk dari RSUD Tanjung ke RSUP NTB. Sore menjelang wafat, almarhum diperiksa intensif dengan sejumlah alat medis, termasuk kejut jantung selama 1 jam," kata Deki, menambahkan sang ayah menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 7, Selasa malam.

Selama menangani shooting dokumenter Desa-Desa di KLU, Ahmad Yani, famili almarhum, menjadi tangan kanan selama di lapangan. Aktivitas sehari sebelum wafat, bersama almarhum ia mengambil dokumentasi di lokasi Air Terjun Tiu Teja, Desa Santong, Kecamatan Kayangan. Medan yang cukup berat karena harus turun naik 450 anak tangga sampai ke lokasi, diduga membuat sesak nafas almarhum tambah akut.

"Almarhum sesekali mengaku hanya kecapekan. Selama aktivitas, seperti biasa tidak ada yang janggal pada diri beliau. Bahkan beliau sempat bercerita seperti apa dan bagaimana pengalamannya menjadi wartawan," ucap Ahmad.

Almarhum tercatat meninggalkan 6 orang anak dari 3 orang istri. Dari istri pertama, Siti Aisyah, asal Sumbawa, dengan status cerai, Algas meninggalkan 2 orang anak. Dari istri kedua, bernama Marni, juga berstatus cerai, meninggalkan dua putra. Dan istri ketiga, Puspita, meninggalkan 2 anak. Dari 6 orang anaknya, hanya si bungsu yang berjenis kelamin perempuan.
Selain anak, Algas juga meninggalkan 2 orang cucu dari putra pertama dan kedua dari istri pertama.

Sekilas biografi Almarhum, Algas lahir di Pendua, Desa Pendua, Kecamatan Kayangan tahun 1958. Masa sekolah anak-anak dari SD hingga SMA ia tamatkan di Bangku Madrsah, masing-masing M NW Gondang, MTs NW Haramain Narmada, dan MAN Mataram. Di Perguruan Tinggi, ia mengambil jurusan Hukum di Universitas Mahasawaraswati Mataram tahun 1987.

Karir profesi almarhum lebih banyak dihabiskan di bangku jurnalistik, antara lain pernah menjabat sebagai wartawan Bali Pos Biro NTB di Mataram, Pimp Bank Dana Yasa Tanjung, wartawan Suara Nusa Mataram, kontributor TPI (sekarang MNCTV), kontributor La Tivi dan TVRI serta ketua Forum Radio Komunitas Lombok Barat. Ia juga dipercaya sebagai Kades sesait setelah Pendua baru mekar dari Desa induk,  pada periode 2002 -2008. Semasih memangku jabatan sebagai Ketua PWI KLU, ia juga terpilih sebagai Komisioner di KPUD Lombok Utara periode 2008-2013.Selain itu ia dipercaya sebagai koordinator liputan di majalah Tioq-Tata-Tunaq hingga akhir hayatnya.

Almarhum dimakamkan di pemakaman Dusun Pendua, Rabu sore ba'da ashar. Ribuan pelayat menghadiri pemakaman almarhum.Selamat jalan kawan seperjuangan, semoga amal ibadah almarhum diterima disisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan tetap sabar menerima ujian ini.Amiin (ari)

Selengkapnya... »»  

Truk Muat Batako Rumah Kumuh Oleng

Lombok Utara - Truk yang memuat 2000 biji batako untuk bangunan rumah kumuh di Dusun Mandala Desa Bayan Kecamatan Bayan, 11/11 oleng dipertigaan jalan Pada Mangko menuju Dusun Mandala.

Saep, sopir truk naas mengaku, batako diangkut dari Desa Akar-Akar menuju dusun Mandala. Namun pas dipertigaan jalan Pada Mangko menuju Mandala terdapat pengkolan maut dan sedikit menanjak, sehingga mobil truk tidak bisa naik.

“Mobil truk tidak bisa naik, sehingga saya banting stir ke pinggir jalan. Dan untung ada kayu sebagai penyangga bak mobil sehingga tidak jatuh ke jurang kedalaman sekitar 30 meter”, katanya sambil melihat sebelan ban mobilnya masuk tanah dipinggir jurang.

Dikatakan, batako yang dibawa untuk bangunan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Dusun Mandala. Sayang pas pukul 10.00 wita mobil truk yang bernopol DR 8864 DA oleh kepinggir jurang, sehingga harus menunggu bantuan mobil pengerek.

Pantauan media ini menunjukkan, dilokasi kejadian puluhan warga datang membantu menurunkan batako untuk meringankan beban mobil truk yang tersangkut di pohon kayu nangka yang ada dipinggir jalan.

Sementara Kades Bayan, R. Madikusuma mengatakan, jumlah bantuan BSPS dari Kemenpera untuk Desa Bayan 537 unit yang dkelola oleh supplier dari Desa Akar-Akar. “Ada 537 unit rumah yang dibantu tahun ini oleh Kemenpera RI, dan kejadian olengnya truk yang memuat batako rumah kumuh merupakan kejadian yang kedua. Yang pertama ketika mengangkut batako ke Bayan Timur dan yang kedua di pengkolan dusun Pada Mangko”, jelasnya.
Selengkapnya... »»  

Jumat, 05 September 2014

Pedagang Pasar Ancak Akan Diatur Secara Bertahap

Lombok Utara - Para pedagang yang memadati sebagian badan jalan jalur wisata Senaru Dan Bayan di pasar Ancak, yang menjadi sorotan pengguna jalan akan ditertibkan secara bertahap.
“Tujuan pengaturan pelayanan bagi para pedagang ini untuk memperlancar arus lalu lintas menuju obyek wisata Senaru dan Bayan, karena kita tahu pendapatan daerah itu lebih besar dari pariwisata sehingga jalur tersebut perlu dinetralisir dari pedagang yang mangkal setiap hari kamis”, kata Kasi Retribusi Dispenda KLU, Supriadi, ketika bertemu dengan Kades Karang Bajo, 4/9.
Pengaturan para pedagang ini, lanjut Supriadi diawali dengan hasil survey langsung ke lokasi pasar, dimana ditemukan beberapa los pasar masih kosong dari pedagang. “Hari ini kita sudah lakukan survei. Dan kita temukan los pasar yang berajarak sekitar 100 meter dari jalan raya masih banyak yang kosong sehingga pedagang dapat dimasukkan ke dalam pasar”, jelasnya.
Sebelum dilakukan penertiban, ada beberapa agenda pertemuan yang harus dilakukan, yaitu pada hari senin 8/9, pemerintah desa akan melakukan pertemuan dengan para tokoh pemuda, tomas, SPSI untuk merencanakan langkah-langkah antisipasi, apakah para pedagang yang tidak bisa berjualan  didalam pasar dapat menempati lapangan sebagai tempat jualan sementara. Dan itu tergantung kesepakatan pemerintah desa dengan para tokoh setempat.
Setelah kesepakan tercapai, maka tanggal 11/9 petugas Dispenda bersama Pol PP dan pemerintah desa akan melakukan sosialisasi langsung ke pedagang yang berjualan di pinggir jalan raya, Kemudian pada tanggal 18/9 barulah akan dilakukan penertiban dan semua pedagang setiap hari kamis tidak ada lagi yang berjualan dipinggir jalan.
Terkait soal sampah seusai pasaran hari kamis yang berserakan didepan masjid dan Pustu Desa Karang Bajo, menurut Supriadi, untuk menghindarinya, maka para pedagang tidak akan dberikan lagi menjajakan dagangannya dipinggir jalan depan masjid dan Pustu. “Nanti kita atur, dan kalau bisa jalan alternatif yang menghubungkan Ancak-Kopang ini dikosongkan dari pedagang. Sementara didepan masjid dan Pustu dapat dijadikan sebagai tempat parkir sepeda motor, dan jalan yang menuju Dusun Kopang sebagai tempat roda empat, yang retribusinya nanti dapat ditarik oleh desa”, jelasnya.
Sementara pedagang yang menempati lapangan desa, lanjut Supriadi tidak boleh dibangun permanen, harus bongkar pasang dan retribusi (cukai) pedagang tetap dipungut oleh Dispenda, sementara sewa tempat jualannya akan diserahkan pengelolaannya ke desa. “Ia kita ingin juga membantu PAD desa melalui penertiban ini”, tegasnya.
Kepala Desa Karang Bajo, Kertamalip mengaku, pada tahun 2004, pada dasarnya pemerintah desa pernah melakukan pungutan bagi para pedagang yang berjualan di lapangan desa. Akan tetapi seelah berjalan 3 bulan, pungutan tersebut disetop  oleh Dispenda. “Dan sejak saat itu pemerintah desa tidak pernah lagi menarik retribusi sewa tempat di lapangan kepada para pedagang”, katanya.
Ketika ditanya siapa yang memungut sewa tempat di lapangan, salah seorang perangkat desa Karang Bajo mengaku, itu diambil oleh petugas pasar. “Saya pernah tanya para pedagang yang berjualan dipinggir jalan dan lapangan, mereka mengaku sudah membayar sewa tempat jualan ke petugas pasar, ”, kata perangkat desa yang enggan dipublikasikan namanya.
Sedangkan petugas pasar, Mitranom mengaku, tidak pernah melakukan pungutan sewa tempat kepada para pedagang diluar los pasar. “Saya sepeserpun tidak pernah melakukan pungutan sewa tempat di lapangan selain bayar cukai para pedagang”, katanya membantah.

Selengkapnya... »»  

Cupak Gerantang Kritik Kelemahan Petugas Keamanan

Lombok Utara - Seni tari Cupak dan Gerantang, ternyata bukan saja sebagai media sosialisasi program dan hubiran bagi masyarakat arus bawah, namun dapat juga dijadikan sebagai media penyampai kritik dan saran bagi para pemegang kebijakan, baik ditingkat desa, kecamatan ataupun daerah.
Ini terlihat jelas dari pesan-pesan yang disampaikan si Cupak kepada adiknya Gerantang ketika pentas didepan bupati Lombok Utara, H. Djohan Sjamsu dan wakil ketua DPRD KLU, Mariadi, S.Ag, serta beberapa pejabat teras KLU dan Muspika Kecamatan Bayan pada acara peresmian pasar Lendang Gagak Desa Sukadana.
“Nane ne adik dek te bani tindok kelem, karena perampok bilang malem datang lek taok ne, sementara petugas keamanan masi lemah bantu ite jage kemanan kampung, (Sekarang ini adek Gurantang kita tidak berani tidur malam, karena perampok tiap malam datang ketempat kita)”, kata si Cupak yang diperankan oleh Sirmanem dan Gurantang, Remati ini.
Ungkapan si Cupak Ruak Bangket ini kontan disambut  tawa dan tepuk tangan dari para penonton, termasuk bupati KLU yang didampingi istrinya juga ikut tersenyum mendengar kata-kata kocak yang diolah oleh Sirmanem.
Cupakpun kemudian melanjutkan kalimatnya, para perampok belakangan ini mengambil barang milik warga seperti sapi dibawa kabur melalui pantai dengan menggunakan kapal. “Mun wah perampok taek kapal jauk sampi adek tinggal ne bedadah, karena ite ne dekte bedoe kapal kadu ngjar, (kalau sudah naik kapal, para perampok tinggal ngangkat tangan berdadah kepada kita, karena kita tidak punya kapal untuk mengejarnya”, ungkapnya.
Sirmanem pun dengan sedikit centil minta kepada Pemda KLU untuk menyiapkan pestol dan kapal laun untuk menembak dan mengejar pelaku perampokan, termasuk minta kepada aparat keamanan untuk sigap dan siap membantu warga.
Kritik dan saran ini memang cukup wajar diungkapkan oleh Sirmanem, karena mengingat belakangan ini sudah beberapa kali warga kehilangan sapid an barang berharga lainnya akibat ulah dari maling yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan. Dan semua barang tersebut dibawa melalui laut dengan menggunakan kapal, sehingga sulit ditemukan warga.
Seperti kejadian pada kamis malam 28/8 lalu, dimana kawanan maling berhasil mengembat empat ekor sapi sekaligus milik warga Teluk Desa Sukadana Kecamatan Bayan, yang sulit dikejar karena para pelaku membawa sapi curiannya melalui laut menggunakan kapal, bahkan para tamu tak diundang ini tak segan-segan menggunakan kekerasan.

“Kritik dan saran ini adalah masukan untuk petugas yang ada di Polsek Bayan, yang selama ini kita nilai cukup lemah dalam menjaga keamanan khususnya pada malam hari. Bahkan sudah lebih tiga kali terjadi kecurian di Desa Sukadana dalam beberapa bulan terakhir ini, namun satupun barang milik warga tak pernah ditermukan, apalagi mampu menangkap pelakunya”, ungkap beberapa warga yang menyaksikan pementasan Cupak Gurantang tersebut.

Seusai pentas, bupati KLU langsung bangkit menyalami Cupak Gurantang sambil mengacungkan jempol. “Terima kasih atas pementasannya”, kata Djohan Sjamsu
Selengkapnya... »»  

LPA Karang Bajo, Sebagai Lembaga Penghubung Antar Komunitas Adat

Masyarakat adat Karang Bajo seringkali dinilai sebagai masyarakat yang kumuh dan terbelakang, karena kuatnya mereka menjaga tradisi adat dan buadaya peninggalan leluhur. Dan untuk mengikis cap terbelakang dan kumuh tersebut, pada tahun 2008, didirikanlah sebuah lembaga yang belakangan dkenal dengan nama Lembaga Pranata Adat (LPA) Gubug Karang Bajo-Bayan.

LPA Gubug Adat Karang Bajo-Bayan ini, menurut sekertarisnya Renadi, S.Pd, sebagai lembaga penghubung antar komunitas adat Karang Bajo dengan komunitas adat lainnya, baik yang ada di Kabupaten Lombok Utara ataupun daerah lainnya di Indonesia. Dan sejak beridirinya lembaga adat tersebut berbagai kegiatanpun terus dilakukan untuk meningatkan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat adat setempat, seperti pelatihan bagi pranata dan praniti adat, hingga mengirim pemudanya belajar di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jakarta.

Pada tahun 2010, LPA Adat Gubug Karang Bajo Bayan mendapat bantuan dari Litbang PU Denpasar Bali yaitu berupa sebuah bangunan infrastruktur dan keaksiterturannya yang berkarakter ekologis-sosial budaya ekonomik. Pengembangan ‘Model’ disepakati dilakuakn di Kabupaten  Lombok Utara dengan pertimbangan bahwa KLU adalah kabupaten baru, kondisi geografis dan geologis yang berkarakter pulau, eksistensi nilai – nilai local  dan   masyarakat adat, dan sudah ada embrio untuk dijadikan model, yaitu Kecamatan Bayan yang telah disepakati sebagai Kawasan Kebudayaan.

Dalam bangunannya dikembangkan konsep model Eco-Tourism Village di Dusun Jambianom Kecamatan Tanjung dan model Eco-Techno Village di gubug adat Karang Bajo. Konsep Echo-Techno Village sebagai landasan pengembangan Desa Karang Bajo sebagai  model  pengembangan Desa adat ini telah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.. Dari konsep tersebut, Desa Karang Bajo berfungsi sebagai ; Pusat penelitan dan pengembangan teknologi arsitektur tradisional dan berbahan baku lokal dan; Pusat pengelolaan pengetahuan local / masyarakat adat Paer Daya - KLU. Konsep tersebut telah mendapat dukungan dari beberapa pihak, salah satunya dari BPTPT Denpasar. Sebagai Badan Pengembangan Teknologi Permukiman, BPTPT Denpasar telah menyumbangkan   3 model bangunan yang menggunakan material dari bahan lokal,  berupa Bale Gundem (terbuat dari limbah batu apung), Home Stay (terbuat dari Bambu Laminasi),  dan Berugaq Sakenam (terbuat dari kayu Sengon Laminasi).

Bangunan ini menjadi titik awal aktivitas warga dalam rangka mendorong keberdayaan masyarakat adat. Sebagai model pengembangan desa adat, konsep besar ini disepakati dinamakan sebagai Pusaka (Pusat Keberdayaan Warga) “SEBAYA TANTA”. Pembangunan 3 model bangunan tersebut dimulai bulan Januari 2011,  yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 7 Maret 2011. Peresmian Bangunan Model Pusaka “SEBAYA TANTA” pada tanggal 14 Juli Tahun 2011 . Model Kawasan yang dikembangkan ini merupakan model yang pertama di Indonesia dan dijadikan sebagai  pusat pembelajaran bagi warga  Indonesia lainnya.
Selain itu, lanjut Renadi, LPA Gubug adat Karang Bajo juga  telah membangun perpustakaan komunitas adat. Karena perpustakaan merupakan salah satu sarana pembelajaran yang dapat menjadi sebuah kekuatan untuk mencerdaskan bangsa. “ Perpustakaan mempunyai peranan penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan yang sekaligus menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan dan menyegarkan bagi masyarakat adat khusunya dan masyarakat secara umum”, jelas Renadi.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, maka tuntutan terhadap keterampilan sumber daya manusia tentu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Semua ini juga menjadi pemikiran pengurus LPA Gubug Adat Karang Bajo. Salah satu kegaiatannya dalah menciptakan dan mengembangkan  ekonomi yang kreatif serta mampu berorentasi pada pengetahuan keterampilan dan pembinaan ekonomi masyarakat secara mandiri.

Untuk menjalankan kelompok Pemuda Pranata dan Praniti adat terutama dalam bidang keterampilan, para Praniti:  sudah membuat kelompok penenun kain Abang, poleng, Lipaq, selendang    dan sebagian juga kelompok membuat baju, rok, Tas dan juga aksesoris seperti gelang, kalung dan gantungan kunci. Sementara kelompok praniti adat mulai mengembangkan pembuatan
miniatur, Masjid Kuno, Berugak, Lumbung (geleng) yang setiap anggotanya memiliki bakat/ide masing-masing, dan anggota yang lain ada yang memotong bahan berdasarkan ukuran, ada yang memasang kerangka miniatur dan ada menyiapkan parit dan anyam-anyaman.

Koperasi Serba Usaha Sebaya Tanta yang didirikan pada tahun 2004 lalu ini, berusaha member kemudahan bagi petani komunitas adat atau anggota lainnya dalam mendapatkan modal untuk melakukan usaha tani. Melalui koperasi ini juga kedepannya setelah memiliki modal besar akan di arahkan untuk meningkatkan hasil miniatur pada kelompok pranata dan tenun pada kelompok praniti, serta akan dikembangkan lagi dengan program-program lainnya.

Dana yang dikelola oleh Koperasi saat ini adalah dari Simpanan Pokok anggota sebesar Rp 100.000,00/anggota dan simpanan wajib Rp. 5.000,00/bulan. Jumlah anggota per 2012 adalah 58 orang, sehingga dengan dana yang minim, saat ini kegiatan yang berjalan hanya simpan-pinjam dengan sistem warnen, yaitu pengembalian atau penyetoran setelah panen untuk petani, dan bulanan untuk non petani.

Untuk mempertahan kelestarian adat dan budaya serta rumah-rumah tradisional yang ada di Karang Bajo, pengurus LPA Gubug Karang Bajo-Bayan terus berupaya mencari terobosan  baru, hingga akhirnya pada tahun 2014 lembaga ini dipercaya pengelola bantuan sosial dari Kepala Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk revitilasi 15 rumah adat tradisional.

Dalam kaitannya dengan keragaman budaya, Kertamalip, Kades Karang Bajo, menjelaskan bangsa Indonesia dibangun dalam keragaman budaya, keragaman itu di antaranya terwujud dalam keberadaan komunitas budaya di masyarakat, mereka hidup serta berkembang menghidupi nilai budaya dan aktipitas tradisionalnya masing masing, nilai nilai khas tersebut merupakan pegangan hidup dan pinsip aktipitas sehari hari bagi anggotanya, di yakini dengan teguh kebenaran dan kesakralannya serta di wariskan secara turun temurun yang  kini menjadi kekayaan bangsa yang wajib di lestarikan dan dilindungi.

Nilai budaya dan aktifitas tradisional ini  kemudian di sebut sebagai kearipan lokal merupakan warisan nenek moyang bangsa dalam tata nilai kehidupan yang menyatu dalam bentuk praktik religi  dan adat istiadat. Kearipan lokal merupakan alat sekaligus hasil dari dinamika strategi adaptasi komunitas budaya tersebut  terhadap lingkungannya dengan mengembangkan pengetahuna atau ide, norma, aktipitas dan pralatan untuk melanjutkan eksistensinya.

Berbagai bentuk kearipan lokal lanjut Kertamalip menjadi dasar bagi keragaman budaya bangsa, sekaligus sebagai modal bagi penguatan karatkter dan jati diri bangsa, oleh karena itu pemberdayaan dan rehabilitasi keberadaan  komunitas budaya di masyarkat adat karang Bajo perlu di lakukan.

Pemberdayaan dan peningkatan kualitas keberadaan komunitas budaya dalam rangka pelestarian kebudayaan salah satunya melalui Progam pasilitas Budaya di masyrakat. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat merehabilitasi keberadaan komunitas budaya di Karang Bajo sebagai wujud keragaman budaya di Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Propil Lembaga  Pranata Adat Gubug Karang Bajo-Bayan
Nama Lembaga : Lembaga Pranata Adat Gubuk Karang Bajo - Bayan
Alamat Lembaga : Dusun Karang Bajo, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB-Indonesia.
Tahun Terbentuk : 2008


Kepengurusan dan Struktur Lembaga :
1. Pelindung Penasehat : Kertamalip (Kepala Desa) dan Kyai Lebe 2. Ketua : Rianom, S. Sos 3. Sekretaris : Renadi, S. Pd 4. Bendahara : Kariadi, SP 5. Seksi-seksi/bidang : a. Adat Gama : Nisana b. Ibadah : Kasianom c. Lang-lang : Suriadi d. Perlengkapan : Sumadi e. Hukum : Iramalip, SH f. Taruna : Samsul Azis, S. Pt g. Perempuan : Sarbiniwati, S. Pd h. Kesenian : Remadi, S. Pd i. Rehabilitasi :Saptalip j. Juru Basa : Budianto k. Ekonomi : Mistradi 6. Anggota : Komunitas Masyarakat Adat Gubuk Karang Bajo

No Akta Notaris : 65 8. Tanggal Akta Notaris : 18 Juli 2013

Tujuan Lembaga :

I. Bidang Ekonomi : a. Memajukan koperasi Masyarakat Adat
b. Meningkatkan keterampilan pemuda
c. Pengawasan dan pengelolaan hutan adat serta kekayaan alam yan terkandung didalamnya
d. Laminasi bambu petung
e. Bio gas
f. Ecotourism

Bidang Sosial Budaya
 a. Melestarikan adat istiadat
b. Meningkatkan pengetahuan generasi muda dalam proses dan makna yang terkandung dalam prosesi ritual adat
c. Penyusunan kalender adat
d. Pemetaan wilayah adat
e. Memperkenalkan teknologi pemanfaatan bahan bangunan lokal ke Masyarakat
f. Revitalisasi rumah adat

Bidang Pendidikan
a. Meningkatkan keaktipan dari perpustakaan masyarakat adat b. Kursus Bahasa Inggris
c. Kursus Komputer
d. Membuka Sekolah Budaya

Bidang Kesehatan
a. Meningkatkan kesadaran masyarakat adat tentang kebersihan lingkungan
b. Membangun MCK di Kawasan Kampung Karang Bajo

 Visi Lembaga : Memperjuangkan dan memperhatikan seluruh eksistensi kehidupan Masyarakat adat Bayan dalam rangka mewujudkan Mayarakat Adat yang mandiri, bersatu, berdaulat, adil dan demokratis.

Misi Lembaga :
a. Mengendalikan kepercayaan diri, harkat dan martabat Masyarakat adat Bayan
b. Kesetaraan gender, sosial, budaya, pekerjaan
c. Mengembalikan kedaulatan Masyarakat adat Bayan untuk mempertahankan hak-hak ekonomi, sosial, budaya dan politik
d. Mencerdaskan dan meningkatkan kemampuan Masyarakat Adat Bayan e. Membela dan memperjuangkan pengekuan, penghormatan dan perlindungan hak-hak Masyarakat adat Bayan

 Kegiatan Lembaga :
a. Membentuk koperasi masyarakat adat
b. Membentuk kelompok pemuda adat c. Membentuk kelompok perempuan adat
d. Dokumentasi prosesi ritual adat dalam bentuk film dokumenter dan tulisan
e. Mendirikan sekolah budaya
f. Mendirikan perpustakaan
g. Menyusun kalender adat
h. Mengadakan kegiatan kursus-kursus
i. Pengadaan air minum mineral
 j. Ekowisata Budaya (ecotourism )
k. Revitalisasi Rumah Adat.

(Sumber: Renadi (35) Sekertaris LPA Gubug Adat Karang Bajo dan Kertamalip Kades Karang Bajo)
Selengkapnya... »»  

Tugas dan Fungsi Amaq Lokak Karang Bajo

Pranata adat yang ada di kepembelan Karang Bajo yaitu, Amak Lokak Gantungan Rombong, Kyai Lebe, Kyai Santri, Amak Lokak Penguban, Amak Lokak Pande, Amak Lokak Singgan Dalem, Pembekel, Amak Lokak Walin Gumi, Perumbak Daya, Perumbak Lauk, Penjeleng, Penyunat, Amak Lokak Dasan Anacak, dan Amak Lokak Pelabupati.

1.    Amak Lokak Gantungan Rombong

Amak Lokak Gantungan Rombong tinggal di rumah yang ada dalam areal Kampu Karang Bajo, Rumah tersebut hanya untuk Pemangku atau pejabat yang sudah diangkat sebagai Amak Lokak Gantungan Rombong. Rumah ini akan menjadi tempat tinggal selama menjabat sabagai pemangku.

 Pada setiap pergantian Pemangku atau pejabat adat maka rumah ini direhab atau direnovasi.
Pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong berdasarkan garis keturunan dan kesepakatan tokoh-tokoh adat Bayan.  Sementara Proses pengangkatannya  diawali dengan musyawarah (gundem) yang dilaksanakan di berugak Agung yang terletak didalam kampu. Gundem dihadari para tokoh masyarakat adat dari 4 kepembekelan yatu Bayan Barat, Bayan Timur, Loloan dan Karang Bajo. Gundem untuk penentuan Amak Lokak Gantungan Rombong dilakukan 3 kali yaitu pada hari senin, dengan rincian:

Gundem pertama,  mencari calon Amaq Lokak Gantungan Rombong
Gundem yang kedua, penetapan calon, dan
Gundem ketiga adalah pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong

Tugas Amak Lokak Gantungan Rombong selain sebagai penunggu kampu, juga sebagai penyilak atau tuan rumah pada setiap acara  ritual adat di kampu Karang Bajo.  menampung setiap nazar masyarakat adat dengan media sirih dan pinang dan menjaga kelestarian adat.

Untuk pemangku yang menjabat sebagai Amak Lokak Gantungan Rombong  diberikan lahan tanah sawah   (pecatu)yang letaknya di Bangket  Uban. Hasil dari lahan tersebut adalah sebagai sumber penghasilan dari Amak Lokak Gantungan Rombong. Dalam pengolahan lahan tidak langsung dikelola oleh Pemangku atau pejabat, tetapi yang mengelola adalah keluarga Pemangku yang dibantu oleh masyarakat adat.

2.    Kyai Lebe

Kyai Lebe adalah tokoh pemimpin dalam bidang keagamaan yang dibantu oleh Kyai Santri. Kyai Lebe ini memiliki rumah dinas yang letaknya disebelah utara Kampu Karang Bajo. Rumah Kyai Lebe memiliki kampu / pagar tersendiri yang dibangun oleh masyarakat Adat.

Pengangkatan Kyai Lebe diambil  dari Kyai Santri yang memiliki kemampuan lebih disbanding Kyai Santri lainnya, berdasarkan persetujuan atau pemilihan oleh para Kyai adat melalui musyawarah besar atau gundem di Berugak Agung. Gundem  dilaksanakan sama seperti  saat pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong.

Kyai Lebe bertugas sebagai pemimpin do,a pada setiap ritual Adat keagamaan yang digelar di kampu kampu Karang Bajo atau yang dihelat oleh komunitas secara adat. Selain itu Kiyai Lebe juga sebagai suri tauladan bagi para santrinya, serta memberikan tugas kepada Kyai Santri diwilayahnya masing-masing.

Pada setiap acara yang dipimpin oleh Kyai Lebe akan diberikan imbalan seiklasnya yang disebut dengan  “Batun Dupa”  dan diberikan lahan tanah sawah atau dalam bahasa adatnya disebut Pecatu yang letaknya juga di Bangket Uban,  yaitu disebelah timur Kampu Karang Bajo sebagai sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

3.    Kyai Santri

Kyai Santri adalah tokoh agama yang tugasnya untuk membantu Kyai Lebe. Kyai Santri ini diangkat berdasarkan garis keturunan yang ditempatkan pada setiap perkampungan atau dusun. Kyai Santri tidak memiliki rumah dinas, mereka tinggal di rumahnya masing-masing.

Pendapatan Kyai Santri ini juga akan diberikan imbalan pada saat dia memimpin setiap ritual Adat atau acara yang digelar oleh komunitas adat, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan dari si empunya hajat. Kyai santri tidak mendapatkan pecatu seperti Kyai Lebe, karena Kyai Santri hanya bertugas sebagai pembantu dari Kyai Lebe.

4.    Amak Lokak Penguban

Tempat tinggal Amak Lokak Penguban yaitu di rumah dinas yang letaknya di sebelan barat laut Kampu Karang Bajo. Tempat tinggal untuk setiap pranata ini dibangun oleh Masyarakat adat dan termasuk perbaikannya bila terjadi ada bahan bangunannya yang rusak.
Amak Lokak Penguban juga dipilih berdasarkan garis keturunan (prusa).  Pemilihan pranata ini tidak melalui gundem, karena ia diangkat  berdasarkan garis turun wali, artinya siapa saja yang mau dan mampu mengemban tugas sebagai Amak Lokak Penguban maka dialah yang akan bertugas dan menghuni rumah dinas yang sudah disiapkan.

Tugas dan fungsi Amak Lokak Penguban adalah sebagai Pembawa Payung Agung pada acara ritual Adat dan sebagai pemimpin dalam penebangan Bambu Tutul pada saat acara Maulid Adat. Untuk menghidupi keluarganya, Amak Lokaq Penguban diberikan mengelola tanah pecatu di Bangket Uban dan tanah matak (lahan kering) di Sinjang Borot Dusun Ancak Timur.

Tetapi karena adanya kepentingan pribadi dari para pejabat pemerintah pada masa lalu sehingga tanah pecatu tersebut menjadi hak milik pribadi saat ini. Amak Lokak Penguban tidak mendapat kontribusi dari tugasnya sebagai Pranata Adat,hanya menjalankan tugas dengan keyakinan untuk melanjutkan tugas dan fungsi dari garis keturunan.

5.    Amak Lokak Pande
Amak Lokak Pande tinggal di rumah dinas yang ada di sebelah utara Kampu Karang Bajo atau sebelah barat laut rumah dinas Kyai Lebe. Diangkat sama seperti Amak Lokak Penguban yaitu tidak melalui Gundem tetapi hanya melalui garis keturunan dan kemampuan saja.

Tugas dan fungsi dari Amak Lokak Pande adalah mengatur dan bertanggung jawab atas perkembangan adat dan jalannnya setiap ritual adat. Dari garis keturunan Pande ini akan selalu menjadi pejabat sementara jika terdapat kekosongan dari pranata adat yang tinggal di Kampu Karang Bajo terkecuali Kyai Adat.

Tanah sawah yang menjadi kontribusi untuk Amak Lokak Pande terletak di Bangket Bayan, Desa Bayan, tetapi status kepemilikan berbeda dengan pranata adat lainnya, dimana pada Amak Lokak Pande ini tanah sawahnya bukan milik dari Masyarakat adat umum tetapi milik pribadi dari garis keturunan Amak Lokak Pande yang dinamakan pecatu mider, sehingga yang menggarap atau mengelola tanah sawah tersebut adalah yang menjabat sebagai Amak Lokak Pande.

6.    Amak Lokak Singgan Dalem
Rumah dinas Amak Lokak Singgan Dalem ini adalah di sebelah barat Kampu Karang Bajo atau sebelah selatan rumah dinas Pembekel. Pengangkatan Amak Lokak Singgan Dalem ini juga sama seperti Amak Lokak Pande dan Penguban.

Tugas dan fungsinya adalah sebagai penyilak kebeberapa pranata adat yang ada di luar kepembekelan Karang Bajo pada saat ada rirual atau kegiatan adat,  seperti pada saat pengangkatan pranata adat,  acara maulid adat dan pada saat Gundem di berugak Agung.

Amak Lokak Singgan Dalem ini mendapat kontribusi dari tugasnya yaitu berupa tanah matak (lahan kering yang ada di sebelah utara Dusun Magling,dan di dusun Pelabupati, Desa Karang Bajo. Lahan ini hanya bisa ditanami pada musim hujan.

7.    Pembekel Adat


Pembekel adat memiliki rumah dinas di sebelah Barat Kampu Karang Bajo, atau sebelah utara rumah dinas Amak Lokak Singgan Dalem. Pembekel diangkat melalui Gundem juga di Berugak Agung selama tiga kali yaitu pada hari senin. Gundem pertama, untuk mencari calon pembekel, gundem kedua penetapan calon pembekel dan gundem ketiga adalah untuk pengangkatan pembekel.

Tugas dari pembekel hampir sama dengan tugas Kepala Dusun pada sistem kepemerintahan sekarang, yang berbeda adalah pembekel kontribusinya dapat dari pecatu, dan jumlah masyarakatnya tidak terdata serta batas wilayahnya luas. Pembekel hanya mengurus kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan  hubungan adat. Pecatu atau lahan sawah untuk Pembekel terletak di Koq Abang yang ada di Dusun Sembulan, Desa Bayan. Dari hasil pecatu inilah Pembekel bisa mengidupi atau menafkahi keluarganya.

8.    Amak Lokak Walin Gumi


Amak Lokak Walin Gumi adalah pranata Karang Bajo yang memiliki rumah dinas diluar Kampung Karang Bajo, yaitu di Trantapan, Dusun Lokok Aur. Proses pengangkatannya tidak melalui Gundem tetapi hanya dilihat dari garis keturunan atau prusa.

Tugas dan fungsinya adalah sebagai penunggu dari Gubuk Trantapan, penerima aspirasi dari masyarakat yang ada di Trantapan untuk kemudian disampaikan pada pranata Adat yang ada di Karang Bajo yaitu Pembekel.

Amak Lokak Walin Gumi juga memiliki pecatu untuk digarap, yang terletak di Batu Pulek, Dusun Pelabupati. Tetapi karena ada kepentingan pribadi oleh pejabat pemerintah sebelumnya sehingga lahan yang dijadikan sebagai pecatu tersebut sekarang menjadi milik pribadi.

9.    Perumbak Daya

Rumah dinas Perumbak Daya ini berada di sebelah hutan Adat Bangket Bayan yang terletak di Desa Bayan. Tempat tinggal dari Perumbak Daya ini sangat sepi, karena jauh dari tempat tinggal penduduk. Proses pengangkatannya dilakukan dengan Gundem di Berugak Agung Kampu Karang Bajo, yang dihadiri oleh tokoh masyarakat dari Bayan Barat, Bayan Timur, dan Loloan. Dalam Gundem tersebut dilaksanakan selama 3 kali pada setiap hari senin, yang cara  gundemnya sama dengan pengangkatan Amaq Lokak lainnya.

Tugas Perumbak daya adalah menjaga kelestarian hutan dari tangan orang yang tidak bertanggung jawab, menjaga mata air sebagai sumber penghidupan petani dan untuk kebutuhan rumah tangga. Jika terdapat orang yang menebang kayu di Hutan adat,  maka Perumbak Daya yang akan menangkap untuk diserahkan ke Pembekel Karang Bajo yang nantinya disidang melalui Gundem di Berugak Agung.

10.    Perumbak Lauk


Perumbak Lauk adalah pranata adat Karang Bajo yang memiliki rumah dinas di Loang Godek, Desa Loloan Kec. Bayan. Tempat tinggal Perumbak Lauk ini tidak sama sepinya dengan tempat tinggal Perumbak Daya, karena berada disebelah perkampungan masyarakat Loang Godek.

Proses pengakatan Perumbak Lauk sama seperti pengangkatan Perumbak Daya dan pranata adat lainnya yaitu melalui Gundem di Berugak Agung yang prosesnya sama dengan pengangkatan pranata adat lainnya.

Perumbak Lauk mengawasi orang-orang yang menangkap ikan dengan cara yang tidak baik seperti dengan menggunakan Bom. Dan bila ada yang  ketahuan melakukan pelanggaran di Laut Jawa akan disidang di Berugak Agung untuk diberikan Sanksi Adat.

11.    Penjeleng

Penjelang merupakan salah satu pranata Adat yang memiliki rumah dinas di sebelah barat daya rumah dinas Penguban. Tugasnya adalah sebagai pembuat Minyak Blonyo pada saat ritual adat Gawe Alip. Penjeleng memiliki pecatu atau lahan tanah sawah yang terletak di Dusun Pelabupati berupa tanah matak atau lahan kering.

12.    Penyunat


Penyunat memiliki rumah dinas yang ada di sebelah timur rumah dinas  Kyai Lebe. Tugasnya adalah sebagai pemotong ujung loloq laki-laki pada saat kitan. Penyunat memiliki pecatu atau lahan tanah sawah yang terletak di Dusun Sembulan, Pok Lendong, Desa Bayan.

13.     Amak Lokak Dasan Ancak

Amak Lokak Dasan Ancak ini memiliki rumah dinas di Dasan Ancak, Dusun Karang Bajo. Tugasnya adalah menerima aspirasi dari setiap masyarkat adat yang ada di kawasan Dasan Ancak untuk di sampaikan kepada pranata adat yang ada di Kampu Karang Bajo yaitu Pembekel. Amak Lokak Dasan Ancak di angkat tidak melalui Gundem, tetapi hanya melalui garis keturunan saja. Lahan yang digarap adalah lahan tanah matak (lahan kering) yang terletak di Dusun Pelabupati.

14.    Amak Lokak Pelabupati


Amak Lokak Pelabupati memiliki rumah dinas diluar Kampung Karang Bajo, yaitu di Dusun Pelabupati. Tugasnya adalah menerima aspirasi dari Masyarakat adat yang ada di Pelabupati untuk disampaikan kepada Pembekel yang ada di Karang Bajo. Proses pengangkatannya juga sama seperti Amak Lokak Lokak Dasan Ancak,  tidak melalui Gundem, hanya berdasarkan garis keturunan. Lahan yang dikelola adalah lahan tanak matak yang terletak di Dusun Pelabupati. (sumber: Kertamalip, Rianom, Mak Lokak Walin Gumi dan Renadi, S.Pd)
Selengkapnya... »»  

Menjelajah Kampung Tradisional Karang Bajo

 Menjelajah setiap sudut Bale Adat Gubug Karangbajo, sungguh amat mengesankan. Sebab, setiap orang luar yang ingin memasuki kawasan adat ini, harus memenuhi aturan adat yang berlaku. Semua rumah adat tersebut, tanpa jendela dan hanya ada satu pintu. Berlantai tanah, berdindingkan anyaman bambu, dan beratap rumbia. Perabotan rumah yang tampak mencolok, hanya berupa dua amben reyot. Sebuah amben, berkelambu kumal sehingga tidak tampak bagaimana keadaan guling, bantal dan selimutnya.

Tetapi amben yang satunya lagi dibiarkan tak berkelambu, sehingga tampak kasur dan bantalnya yang amat kumal. Selain itu, tidak ada skat-skat pembagi ruangan dalam rumah yang berukuran sekitar 4 x 6 meter itu.  Dan bagi pengunjung yang ingin masuk ke rumah adat diharuskan lepas celana panjang dan celana dalam.

Pakaian yang harus dikenakan adalah kain panjang tenunan asli Bayan yang dilapis dengan kain bermotif kotak-kotak. Agar tidak melorot, sabuknya pun rangkap dua. Sabuk dalam untuk kain panjang batik, dan sabuk luar untuk kain hitam kebiruan yang bermotifkan kotak-kotak. Pada kepala dikenakan penutup kepala khusus, yang dikenal dengan nama “sapuk” atau jong. Di kawasan bale atau kampu gubug Karang Bajo, dikelilingi pagar anyaman bambu setinggi kurang lebih 3 hingga 4 meter. Ada undak-undakan batu (tangga terbuat dari batu-red) di depan pintu masuk kawasan dalam itu.

Jika berada di kawasan dalam, sandal harus dilepas. Dalam komplek kampu terdapat beberapa bangunan seperti, Bruga Agung, Bruga Malang, Balai Pedangan, Balai Temboroka, dan beberapa bangunan adat lainnya. Khusus untuk Brugaq Agung, diperuntukkan sebagai tempat musyawarah atau memutuskan perkara.

Bruga Agung sendiri, berupa bangunan berbentuk panggung. Siapapun yang naik ke tempat ini, konon harus memiliki niat yang suci. Duduk pun tidak boleh sembarangan. Di antaranya, tidak boleh duduk dengan posisi kaki menggantung di tepi balai-balai dan harus duduk dengan bersila.

Rumah adat tradisional kampu Karang Bajo terdiri dari beberapa bagian, yaitu bagian luar adalah pagar keliling yang terbuat dari bambu. Dan ditengah pagar keliling terdapat sebuah pintu gerbang berkuran sekitar 2 meter. Ketika masuk dari pintu ini terdapat dua buah berugak angung sebagai tempat bermusyawarah bagi para tokoh adat 4 kepembekelan Karang Bajo. Didekat berugak agung ada sebuah bangunan rumah adat yang berukuran sekitar 4X4 meter yang disebut sebagai rumah pedangan tempat acara periapan ritual adat bagi perempuan.

Sementara disebelah timur yang berhadapan dengan rumah pedangan adalah rumah Amaq Lokaq Gantungan rombong yang berukuran 8X8 meter. Dan didepan rumah ini ada bangunan berugaq saka enam sebagai tempat menerima tamu atau keluarga yang berkunjung ke rumah adat Amaq Lokaq Gantungan Rombong.

Setiap rumah adat tradisional Karang Bajo terdiri dari beberapa bagian yaitu inan rumah (induk), amben beleq (berugak besar saka empat) yang bentuk bangunannya bertingkat dan harus menggunakan tangga bila naik, kemudian amben beriq (kecil) 3 buah ditambah dengan amben tempat menaruh perlengkapan masak dan amben tempat tidur. Dan semua rumah adat tanpa ventilasi, karena menggunakan dinding pagar bedeg yang rakitannya jarang, sehingga angin dapat keluar masuk dari celah-celah dinding tersebut.

Bahan bangunan rumah adat trandisional rata-rata menggunakan kayu sebagai tiangnya, bambu, alang-alang  untuk atap dan tali dari rotan untuk mengikat atapnya. Sementara lantainya dari tanah. Bangunan rumah adat mampu bertahan 20-30 tahun. Dan yang paling sering mengalami kerusakan adalah atapnya. Sedangkan peralatan yang ada di setiap rumah adat terdiri dari, periuk, cerek, terbuat dari tanah, piring cawan, mangkok dan tabak dan penginang/pabuan yang terbuat dari kayu. Alat penerang yang digunakan dalam rumah adat adalah lampu jojor (lilit) yang terbuat dari jarak dan kapas yang dilitkan pada kayu. Dan bagi yang menempati rumah adat harus memasak menggunakan kayu pada tungku batu, dan tidak boleh menggunakan kompor gas atau minyak tanah.

Rumah adat dalam kampu biasanya direnovasi pada saat adanya pergantian pemangku Amaq Lokaq Gantungan Rombong yang dpilih sekali dalam tiga tahun. Dan jika Amaq Lokaq dinilai masih mampu menjabat, maka para tokoh adat tinggal menetapkan dan melantiknya sebagai pemangku.

Setiap perbaikan rumah adat dilakukan secara gotong royong yang dikordinir oleh para tokoh adat dan pengurus LPA Gubug Karang Bajo-Bayan. Sedangkan rumah dinas adat yang tidak terawatt di Karang Bajo adalah rumah dinas Amaq Lokak Penyunat dan Amaq Lokaq Penyunat, karena tidak ada prusa (keturunan) yang menempati rumah tersebut.

Rumah adat tradisional tetap dirawat, karena sebagai tempat tinggal para pemangku dan Amaq Lokaq serta tempat prosesi ritual adat untuk mempertahankan adat dan budaya peninggalan leluhur sekaligus melindungi situs budaya yang ada. Selain itu, tujuannya juga, agar prusa (keturunan) para pemangku tidak putung (putus). Rumah adat juga tempat berkumpulnya  masyarakat adat pada saat prosesi ritual adat, karena masing-masing perusa atau garis keturunan akan mencari prusanya sendiri pada saat pelaksanaan adat. Dan cara merawat rumah adat agar tetap bertahan adalag mengganti bahan bangunan yang rusak. (Sumber: Kertamalip)
Selengkapnya... »»  

Mengenal Kampung Tradisional Karang Bajo - Bayan

Gubug adat Karang Bajo-Bayan  merupakan salah satu kampung tradisional yang terketak di Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara,  yang masih menjalankan dan menjaga adat istiadat kehidupan asli Suku Sasak-Bayan. Pola permukiman mengelompok dan terbentuk oleh kondisi alam yang berbukit-bukit dan berdasarkan sistem kekerabatan yang kuat dalam kehidupan masyarakatnya.

Pola permukiman di kampug adat ini terdapat pembagian wilayah berdasarkan stratifikasi sosial kemasyarakatannya.  Adanya awig-awig adat yang mengatur pembentukan pola perumahan sebagai bagian dari pola permukiman di Gubug  Adat  Karang Bajo-Bayan.  Selain itu, kehidupan komunitas adat, khususnya yang tinggal di Gubug Karang Bajo, cukup komunal dan ramah. Rumah adat yang dimilikinya, hanya dibatasi dengan pagar bambu dan memiliki nama tersendiri. Rumah-rumah adat ini ditempati oleh para tokoh pranata adat setempat, seperti kiyai, lebe, pemangku, pembekel dan Mak Lokaq (tetua adat).

Menurut Rianom, S. Sos, (52)  Kabid Budaya pada kantor Dikbudpora Kabupaten Lombok Utara, Karang Bajo terdiri dari dua suku kata, yaitu “karang” yang berarti pekarangan (halaman) dan “Bajo” yang diambil dari nama salah seorang musafir dari Suku Bajo.

Dijelaskan, ketika para tokoh setempat telah menganut ajaran agama Islam, mereka pun merencanakan untuk mendirikan sholat jum’at. Hanya pada saat itu jama’ahnya belum cukup satu muqim yakni baru 43 orang. Ketika musyawarah berlangsung datanglah seorang musafir dari Suku Bajo, sehingga muqim sebagai syarat pendirian sholat jum’at genap menjadi 44 orang. “Jadi ada kaitannya masyarakat yang tinggal di Gubug Karang Bajo dengan Suku Bajo yang ada di kampung Telaga Bagek Desa Sukadana”, kata Rianom yang juga anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ini.

Satu hal yang cukup misteri, bahwa masing-masing rumah adat yang ditempati oleh para tokoh setempat yang dibatasi dengan pagar bambu (kampu) memiliki nama tersendiri, seperti Karang Selam sebagai tempat tinggalnya Mak Lokak Penyunat atau juru khitan. Dan dalam pendapat komunitas adat, bila seorang anak belum dikhitan maka dia belum termasuk Selam (beragama Islam-red). Dan jika sudah dikhitan, maka anak tersebut dikenal dengan “selam sunat”.

Sementara rumah kampu di Karang Haji ditempati oleh Kiyai Lebe. Dan khusus tempat tinggalnya para pemangku (pemerintahan adat-red) berada di Karang Dalem. Sedangkan di Karang Tulis, sebagai tempat tinggal Pembekel adat yang berdampingan dengan Mak Lokak Singgan yang istilah sekarang sebagai panglima atau laskar.

Mak Lokak Pengauban yang bertugas membawa payung agung pada acara ritual praja mulud adat dan berfungsi memayungi umat, tinggal di Karang Tuban. Dan yang terpisah tempat tinggalnya dari kebanyakan Mak Lokak tersebut adalah Lokak Walin Gumi yang bertugas sebagai pemimpin acara bangaran pada pembukaan lahan baru atau membangun tempat tinggal. Selain fungsi tersebut, Lokak Walin Gumi juga bertugas sebagai wali hakim bila wali si perempuan tidak ada, yang istilah Bayannya keturunan yang putung (putus).

Selain Mak lokak yang tersebut diatas, masih ada lagi Mak Lokak lainnya, seperti Lokak Pandai yang bertugas sebagai penasehat dan pengambil keputusan bila terjadi perselisihan pendapat antar komunitas adat yang dibantu oleh Lokak Walin Gumi.

Di masyarakat adat juga dikenal adanya yang bertugas membuat ramuan obat atau berfungsi sebagai tabib. Dan peran ini dipegang oleh Mak Lokak Penjelang, yang pekarangan rumahnya masih kosong dan hanya ditandai dengan sebuah batu. Dan masih banyak lagi Mak Lokak lainnya yang fungsinya berbeda-beda, seperti Mak Lokak Gantungan Rombong, Lokak Bual, Lokak Pengauban, lokak inan aik dan lain-lainnya.

Khususnya komunitas adat di Bayan, memiliki tidak kurang 20 acara ritual, yang menurut beberapa tokoh adat, bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan Allah paling sempurna dan mulia serta diberi kelebihan berupa akal dan fikiran. Karenanya masyarakat adat Wetu Telu melakukan berbagai acara ritual, sebab menurut mereka, apa yang diciptakan Allah SWT, seperti hewan, ternak, tumbuh-tumbuhan, bumi dan langit, semuanya tidak bisa membuat acara sendiri. “Jadi tugas manusialah yang mengacarakannya”, kata beberapa tokoh adat setempat.

Satu contoh, kata Kertamalip, tumbuh-tumbuhan, kayu dan sejenisnya digelar acara bubur daun kayu yang prosesi pelaksanaannya di pimpin oleh para kiyai yang tujuannya untuk memohon kepada Yang Kuasa agar apa yang ditanam dapat tumbuh subur sehingga manusia mendapat mamfaatnya. “Kalau ritual ‘bubur petak’ (putih) itu adalah proses kejadian manusia dari yang laki, sedangkan bubur abang (merah) adalah proses kejadian manusia dari yang perempuan. Selain itu ada juga acara selamat desa atau gubug yang sering disebut dengan “pesta Alip” yang diadakan sewindu (8 tahun-red) sekali”, jelas Kertamalip.

Perlu diketahui, bahwa sejak seseorang dipercaya mengemban sebuah jabatan, maka sejak itu pula dalam pergaulan sehari-hari nama pejabat yang bersangkutan hilang dari sebutan. Tetapi, jabatan yang disandang menjadi sapaan. Misalnya Pak Anu menyandang jabatan Lokak Pande, maka dalam pergaulan sehari-hari sebutannya bukan Pak Anu, tetapi cukup Lokak Pande.(Sumber Rianom dan Kertamalip)
Selengkapnya... »»  

Selasa, 02 September 2014

Jelang Pilgub 2015, BKD KLU Minta PNS Tidak Terkotak-Kotak Dan Tetap Jaga Netralitas

Lombok Utara - Eskalasi politik jelang pemilihan bupati dan wakil bupati Lombok utara, Juli 2015 diprediksi akan semakin hangat bahkan dimungkinkan cenderung fluktuatif memanas. Pasal kedua bakal calon inkamben yakni bupati Djohan Sjamsu dan Wakil Bupati Najmul Akhyar dipastikan akan bertarung Head To Head yang sama-sama memiliki dukungan besar dari masyarakat Dayan Gunung.
Kondisi itu dikhawatirkan akan turut mempengaruhi fsikologis jajaran aparatur birokrasi, yang berimbas secara tidak langsung terhadap adanya upaya dukung mendukung yang mengarah kekedua bakal calon bupati tersebut.
Jika keberpihakan terjadi dikalangan PNS tersebut terjadi, maka perpecahan terjadi dan konsentrasi pegawai akan terkotak-kotak tak terelakan. Hal itu dikhawatirkan pasti akan mengganggu program dan kinerja aparatur yang bisa menghambat pelayanan kepada masyarakat.
Menyikapi hal itu kepala Bagian Kepegawaian Daerah (BKD) Lombok utara, Titi Hidayati., menghimbau agar seluruh aparatur PNS lingkup pemda tetap memegang teguh netralitas berpedoman pada sumpah janji PNS. Ia meminta supaya PNS tetap fokus bekerja secara professional dan tidak terpengaruh sehingga menggiring pada pengkotak-kotakan arah dukungan.
Titi mengatakan meski soal pilihan arah dukungan, merupakan hak seluruh masyarakat termasuk para PNS, namun sangat diharapkan jangan sampai dukungan politik itu menimbulkan konplik yang bisa memicu perpecahan. Apalagi bisa mengganggu pelayanan dan kerja aparatur untuk melayani rakyat, ungkapnya kepada Suarakomunitas.net, sabtu (30/8/2014).
"siapapun diantara kedua tokoh petahana yang berkompetisi itu menang menjadi bupati kedepannya, maka itu adalah putra terbaik Lombok utara pilihan rakyat yang wajib di hargai, dihormati dan dipatuhi," pungkasnya.
Pemilihan bupati dan wakil bupati kali kedua dilombok utara pasca definitif menjadi daerah otonom baru tahun 2008 lalu, memang masih delapan bulan lagi.
Namun bupati Djohan dan Wabup Najmul sudah memastikan tidak lagi bersama dan berkompetisi merebut kursi jabatan bupati. Hal itu berimbas terjadinya riak perpecahan dan arah dukungan diantara jajaran PNS lombok utara.
Direktur Nusantara Parliament Watch (NpW) lombok utara, Adam Tarfiin kepada situs jejaring Radio Komunitas nasional ini mengatakan, jelang pilkada KLU 2015, sejumlah pejabat dilingkup SKPD mulai kasak kusuk ikut-ikutan politik praktis. Nafsu memburu kedudukan dan sebagian diantaranya untuk mempertahankan jabatan nya kini dinikmati bisa jadi menggairahkan mereka turut bermain politik.
Di sebutkan Adam berdasarkan pengamatan dan data investigasi atas belasan aparatur dinas/SKPD yang dilakukan setidaknya kini jajaran PNS Dayan Gunung telah terbagi Dua, sebagian besar mendukung paket Djohan-Mariadi yang dinilai paling berpeluang dan sisanya mendukung paket bacalon Bupati Najmul Akhyar-Sarifudin.
Dalam beberapa pekan terakhir menurut Adam, pihaknya menemukan indikasi kuat sejumlah pejabat eselon III hingga II yang ditengarai turut berpolitik praktis dukung-mendukung kedua calon pasangan tersebut.
Ia tak menyebut nama pejabat secara detail, namun Adam mengaku merlihat kontras beberapa oknum pejabat diantaranya, di BPBD, Dinas BPM PPKB, dan Kalangan Asisten hingga sejumlah kepala Bagian (Kabag) di sekretariat daerah nampaknya lebih condong mengarahkan sokongan politiknya ke pendopo 2. Demikian hal nya dukungan pejabat mengalir juga ke kubu Djohan.
Realitas itu seharusnya menjadi prioritas atensi pemda terutama bagi Sekda selaku pembimbing PNS tertinggi. Keberpihakan politik sejumlah elit birokrasi itu jelas akan berdampak negatif terhadap program kerja pemda secara keseluruhan.
"Perlu sikap tegas sekda berupa punisment bagi mereka yang ditemukan berpolitik praktis, karena bisa saja memanfaatkan fasilitas atau anggaran negara untuk kepentingan kampanye, selain itu mereka juga telah nyata melanggar sumpah janji PNS," pungkasnya.
Adam menyatakan politik praktis diantara kalangan PNS sebenarny justeru lebih besar mudaratnya bagi aparatur itu sendiri, Mereka tidak sadar tengah bermain api dan mempertaruhkan karir birokrasinya.
Karena belajar dari pengalaman 5 tahun lalu, sejumlah pejabat eselon tinggi yang turut dukung mendukung calon bupati-wabup malah terjebak dan tersingkir dari kursi jabatan.
"bagi yang jagonya menang, akan selamat dan akan berlimpah jabatan atau mungkin materi, tapi yang jago nya keok, akan non job selama lima tahun," kata Adam yang juga wartawan senior lombok utara itu. (Ron/Gsfm)

Selengkapnya... »»