Sabtu, 05 Mei 2012

Kisah Denda Cilinaya

Wilayah Kabupaten Lombok Utara yang lebih dikenal masyarakatnya dengan sebutan Dayan Gunung, ternyata memiliki banyak peninggalan sejarah masa lalu, baik berupa benda,tulisan,rekaman maupun yang berbentuk lisan.

Salah satu bukti peninggalan sejarah masa lampau yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini adalah makam Denda Cilinaya, yang terletak di Labuhan Carik Bayan. Denda Cilinaya di kisahkan mati terbunuh oleh Patih Jero Tuek atas perintah Datu Keling.

Keberadaan makam Denda Cilinaya ini di kalangan masyarakat Dayan Gunung dan bahkan mungkin masyarakat sasak pada umumnya sudah banyak yang mengetahuinya. Sedangkan makam Patih Jero Tuek yang merupakan pembunuh Denda Cilinaya, yang keberadaannya tidak jauh dari makam Cilinaya, mungkin tidak banyak orang yang mengetahui.

Untuk bisa sampai ke lokasi makam Cilinaya, para pengunjung dihadapkan pada medan yang cukup melelahkan. Pasalnya, jarak makam dari pusat pemerintahan Kecamatan Bayan sekitar 1 km, dari Labuhan Carik kearah timur sekitar 350 meter. Para pengunjung yang menggunakan alat transportasi baik roda empat maupun roda dua, cukup di parkir di Labuhan Carik. Setelah itu, para pengunjung harus jalan kaki melewati pematang sawah dan sebuah kali yang membatasi lokasi makam dengan Labuhan Carik.

Menurut Raden Singanem (47), Situs makam Denda Cilinaya ini, untuk pertama kalinya di pelihara oleh mendiang orang tuanya Mangku Raden Singagrib (alm) sejak tahun 1977 silam. Setelah orang tuanya mangkat tahun 1980, dari sejak itulah dirinya aktif sebagai Mangku makam Denda Cilinaya ini.

Dikatakan Raden Singanem, dulu katanya, ketika dirinya masih kecil, lokasi makam ini masih gawah (hutan) yang di penuhi oleh tumbuhan ilalang. Waktu itu belum di ketahui bahwa di lokasi itu ada makam, seperti yang di kenal sekarang (Cilinaya).

Di lokasi itu ada makam Cilinaya, sekitar tahun 1977, berawal dari adanya warga Tanak Song Tanjung yang mendapatkan petunjuk dari paranormal dengan mendatangi lokasi itu untuk sebuah hajatan Ngurisan.

Dari paranormal yang mendapatkan wangsit dari pemilik makam inilah di ketahui bahwa di lokasi itu ada sebuah makam yang di kenal dengan makam Denda Cilinaya. Dari paranormal ini pula di ketahui bahwa yang menjadi Mangku atau yang menjadi penanggung jawab sebagai pemelihara makam itu harus yang lebih tua dari keluarga Raden Singagrib. Paranormal yang sudah di rasuki roh penghuni makam itu pula yang memerintahkan agar mencari Raden Singagrib dan Raden Singanem sebagai yang bertanggungjawab memelihara makam itu. Maka di putuskanlah Raden Singagrib yang memelihara pertama makam itu, karena menurut Paranormal yang sedang disanding roh makam itu, dia lebih tua. Setelah beliau mangkat tahun 1980, praktis Raden Singanem yang meneruskannya hingga sekarang.

Bagaimana kisah terbunuhnya putri Denda Cilinaya oleh Patih Jero Tuek atas perintah Datu Keling dan bagaimana makamnya bisa berada di atas montong dekat Labuhan Carik Bayan, Mangku Raden Singanem, yang merupakan generasi kedua sekaligus juru kunci makam Denda Cilinaya, bersama wartawan media ini mengisahkannya dalam tulisan ini.

Konon, menurut Mangku Raden Singanem, pada jaman ireng di sekitar Bayan Beleq sekarang ini, terdapat dua buah kerajaan besar yaitu Kerajaan Daha dan Kerajaan Keling. Posisi persisnya, katanya, bahwa Kerajaan Daha berada di wet timur Orong dan Kerajaan Keling berada di wet barat Orong.

Di ceritakan bahwa antara Datu Daha dan Datu Keling itu bersaudara. Masing-masing menjalankan pemerintahan di kerajaannya dengan aman gemah ripah loh jinawi. Namun kedua bersaudara ini belumlah cukup merasa bahagia kalau penggantinya kelak belum ada tanda-tanda akan di karuniai putra sebagai calon penerus penguasa kerajaan.

Maka kedua bersaudara ini (Datu Daha dan Datu Keling) berencana akan melakukan tapa brata di sebuah bukit atau montong yang dipenuhi hutan belantara, memohon kepada yang kuasa agar keduanya diberikan putra sebagai calon penggantinya kelak ketika mereka sudah mangkat.

Pada waktu yang sudah di tentukan, maka berangkatlah Datu Daha Mas Mutering Sejagat dengan membawa perlengkapan secukupnya menuju ke sebuah tempat yang juga sudah di tentukan yaitu Montong Kayangan. Dalam waktu yang bersamaan, Datu Keling Mas Mutering Sejagat pun berangkat pula menuju ke tempat itu, untuk bersama-sama melakukan tapa brata. Dalam perjalanan menuju tempat tapa brata itu, Datu Daha dan Datu Keling bertemu di perempatan Geruk Gundem untuk selanjutnya bersama-sama menuju Montong Kayangan.

Setiba di tempat melakukan tapa brata, masing-masing menghaturkan sesuai dengan syarat dan niatnya untuk mendapatkan anak. Dimana Datu Daha dalam nazarnya berniat, jika sang penguasa jagat memberikan anak perempuan, maka kelak dirinya akan membayar kaul, dengan persyaratan membawa lekok buak,kerbau bertanduk emas, ber ekor sutera, mengkupak slaka (bertapak kaki slaka) dan mentete gangsa ( alat yang di gelar atau yang dibentangkan) sebagai pijakan waktu bayar nazar mulai dari Kerajaannya hingga ke lokasi Montong Kayangan. Begitu pula dengan Datu Keling, bernazar yang sama, dengan persyaratan yang sama, namun Datu Keling menginginkan anak yang laki.

Dalam tapa bratanya itu, diceritakan tidak di ketahui berapa lama berlangsung.Hanya konon ceritanya semua hajat dari kedua pembesar kerajaan itu dikabulkan. Ajaib memang, kedua permaisuri dari dua buah kerajaan yang ada di lereng Gunung Rinjani sebelah utara itu pun mengandung secara bersamaan. Sebagaimana adat kebiasaan di kalangan istana kerajaan terhadap yang mengandung, maka di adakan pula acara ritual selamatan tiga bulanan,tujuh bulanan dan upacara kelahiran.

Setelah tiba waktunya untuk melahirkan, maka kedua permaisuri, baik kerajaan Datu Daha maupun kerajaan Datu Keling pun melahirkan anak sesuai dengan keinginan Datu Daha yang menginginkan anak perempuan maupun Datu Keling yang menginginkan anak laki-laki.

Berselang satu tahun kemudian, tibalah saatnya untuk menunaikan nazar mereka masing-masing.Kedua Datu dari dua kerajaan besar yang melingkari Gunung Rinjani itu pun sepakat untuk membayar nazar (kaul) sesuai dengan apa yang pernah mereka janjikan. Di ceritakan bahwa yang bisa menunaikan nazarnya itu baru Datu Keling. Sementara Datu Daha akan menyusul kemudian.

Maka Datu Keling berangkatlah menuju Montong Kayangan dengan di iringi seluruh kaula balanya untuk menunaikan janjinya membayar nazar, dengan membawa persyaratan seperti yang pernah di terimanya melalui wangsit ketika melakukan tapa brata dulunya ditempat itu.

Suatu ketika Cilinaya sebagaimana kebiasaan anak kecil sebayanya setiap harinya selalu bermain di halaman istana kerajaan. Sedang asyiknya bermain, tiba-tiba menghilang begitu saja dari alam dunia. Dengan menghilangnya Cilinaya ini, seluruh kalangan istana kerajaan Daha kala itu kaget. Maka Datu Daha mengerahkan seluruh kaula balanya untuk mencari putri semata wayangnya itu ke seluruh negeri. Namun upaya pencarian itu pun gagal, sang putri tidak ditemukan.Maka pencarian pun di hentikan.

Sementara itu di pinggir hutan belantara masih dalam wilayah Kerajaan Datu Daha, hiduplah sepasang suami isteri yang bernama Amak Lokaq dan Inaq Lokaq (Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol).Suatu hari Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol pergi ke kebun miliknya untuk mencari sayuran.Tiba-tiba keduanya mendengar ada suara tangisan anak kecil. Setelah diselidiki ternyata benar tangisan anak kecil.Lalu di bawa pulang ke pondoknya yang reot beratapkan ilalang dan berpagar bedek itu.
Setiba di rumah keduanya berunding, apa yang pantas untuk diberikan namanya.Sebab kalau di lihat dari wajahnya memang anak tadi berparas cantik. Dari sinilah timbul ide dari Amak Bangkol untuk memberikan nama Cilinaya (Cili=kecil, naya= bagus,elok).Itulah sebabnya nama Cilinaya terkenal hingga sekarang khususnya di kalangan masyarakat suku sasak Lombok.

Diceritakan, Denda Cilinaya pun hiduplah bersama Amak Bangkol dan Inaq Bangkol di gubuq terpencil di pinggir hutan kerajaan Daha hingga menginjak remaja.Dalam kesehariannya, dikisahkan bahwa Denda Cilinaya ini pekerjaannya adalah menyesek atau menenun. Sebagai seorang gadis belia pekerjaan menenun itu sangat di gemari olehnya.Sehingga tidak heran pekerjaan itu terus di tekuninya setiap hari. Itulah sebabnya pekerjaan menenun ini hingga sekarang para gadis atau kaum hawa di daerah Bayan Beleq masih dapat di lihat. Keberadaan Cilinaya di gubuq ini tidak ada yang tahu selain kedua orang tua angkatnya itu.

Raden Mas Panji putra Datu Keling saat itu juga baru menginjak remaja. Sebagai putra mahkota kerajaan, kegiatan sehari-harinya selain berlatih bela diri juga hobinya berburu. Suatu ketika, Raden Mas Panji berkeinginan pergi berburu ke hutan di pinggir kerajaan Daha.Keinginan itu kemudian disampaikan kepada ayahandanya (mamiknya) Datu Keling. Raja Keling pun mengijinkan putranya untuk pergi berburu rusa dihutan tutupan di pinggir daerah kekuasaan kerajaan Datu Daha.

Tiba waktu yang telah ditentukan, Raden Mas Panji berangkatlah menuju hutan yang dimaksud untuk berburu rusa, dengan diiringi tiga orang pengasuhnya Raden Krude, Raden Kalang dan Raden Semar. Hutan tutupan yang di tuju Raden Mas Panji beserta tiga orang pengiringnya itu diperkirakan berada di sebelah timur Bayan Beleq sekarang.

Diceritakan, hutan tutupan yang di jadikan lokasi berburu Raden Mas Panji ini pada jaman itu banyak sekali di huni oleh binatang buruan seperti babi rusa,kijang, dan berbagai jenis burung. Sedang asyiknya berburu, tiba-tiba Raden Mas Panji merasa kehausan, kepingin minum.Maka di carilah mata air di sekitar hutan itu.Namun ketika sampai di dekat sebuah gubuq, Raden Mas Panji mendengar ada suara Jajak (alat tenun) sedang di mainkan. Lalu Raden Mas Panji berfikir kalau ada suara Jajak seperti itu, berarti ada orang penghuni gubuq itu. Dengan demikian berarti dapat minta air untuk sekedar melepas dahaga,pikirnya.Raden Mas Panji pun tanpa pikir panjang langsung menuju gubuq itu untuk minta air minum.Singkat cerita, Inaq Bangkollah yang memberikan air minum kepada Raden Mas Panji.Sementara Cilinaya sembunyi dalam rumah. Walau demikian, Cilinaya sempat juga dilihat oleh Raden Mas Panji.Seketika itu pula hati Raden Mas Panji tertutup untuk melanjutkan perburuannya. Akhirnya berburu pun gagal di lanjutkan.

Dengan bersusah payah, ketiga pengiring itu mengajak Raden Mas Panji pulang kembali ke istana kerajaan.Namun Raden Mas Panji tidak menghiraukan ajakan ketiga pengiringnya itu.Akhirnya, Raden Mas Panji ditinggal.

Setiba di istana kerajaan, pengiring Raden Mas Panji itu melapor kepada Mamiknya Datu Keling. Mendengar laporan itu, maka Datu Keling murka.

Keadaan inilah yang membuat Raden Mas Panji betah tinggal di gubuq itu selama 3 tahun. Hingga akhirnya Raden Mas Panji menikah dengan Denda Cilinaya dan di karuniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Raden Megatsih.

Tiga tahun telah berlalu,kemurkaan Datu Keling belum sirna begitu saja atas kelakuan dan perbuatan putra satu-satunya sebagai harapan penggantinya kelak, rela tinggal di sebuah gubuq dipinggir hutan. Maka Datu Keling mengumpulkan para punggawa kerajaan untuk musyawarah. Dalam musyawarah tersebut, atas titah raja telah disepakati untuk menjemput Raden Mas Panji yang sudah lama tinggal di gubuq pinggir hutan kawasan kerajaan Daha.

Konon ceritanya seluruh punggawa dan kaula bala kerajaan Keling di kerahkan untuk menjemput putra mahkota Raden Mas Panji, dibawah pimpinan kedua maha patih Jero Tuek dan Adipati (Mangkubumi dan Mangkunegaran).

Alasan Datu Keling menjemput anaknya ini adalah dikatakan dirinya kepingin makan hati menjangan. Agar putra satu-satunya inilah yang berburu untuknya.Padahal dalam hatinya sebenarnya ingin memisahkan Cilinaya dengan anaknya Raden Mas Panji. Karena menurutnya, tidak pantaslah seorang putra mahkota (Pangeran) kerajaan kawin dengan orang kebanyakan.Padahal seandainya Datu Keling mengetahuinya, sebenarnya Cilinaya itu adalah putri saudaranya Datu Daha yang dikabarkan sempat hilang 20 tahun silam.Tapi karena Datu Keling sama sekali tidak mengetahuinya, maka hal itulah yang dilakukannya.

Datu Keling salah kaprah, karena dianggapnya anaknya Raden Mas Panji kawin dengan anaknya Amaq Bangkol itu tidak sederajat. Itulah sebabnya di utus patih dalam (Mangkubumi-Jero Tuek) dan patih luar (Mangkunegaran-Adipati) untuk menjemput putranya Raden Mas Panji pulang, dengan alasan Mamiknya Datu Keling sakit keras dan ingin makan hati menjangan putih.

Maha Patih Jero Tuek dan Maha Patih Adipati pun berangkatlah menuju hutan dimana Raden Mas Panji tinggal bersama isterinya Cilinaya. Raden Mas Panji ketika mendengar kabar itu, lalu minta ijin pada isterinya untuk memenuhi keinginan dan permintaan ayahandanya Datu Keling.Cilinaya pun mengijinkan suaminya berangkat berburu memenuhi pesan Datu Keling. Namun sebelum suaminya Raden Mas Panji berangkat, Cilinaya memberikan sebuah cincin sambil berpesan pada suaminya, apabila cincin ini gugur (hancur) dari jarinya, berarti dirinya sudah tidak ada di dunia ini.

Dikisahkan, usai memberikan cincin pada suaminya itu, maka Cilinaya dan suaminya Raden Mas Panji berpisahlah. Mas Panji bersama pengiringnya yang lain, selain Patih Jero Tuek dan Adipati, berangkatlah menuju hutan untuk berburu demi memenuhi permintaan ayahandanya Datu Keling yang kepingin makan hati menjangan putih.Sementara Jero Tuek dan Adipati tetap tinggal di gubuq tempat Cilinaya berada bersama keluarganya.

Kemudian setelah kira-kira jarak 1 km Raden Mas Panji pergi masuk hutan berburu, maka Patih Jero Tuek dan Patih Adipati menjalankan maksud sebenarnya mereka berada di tempat itu, yaitu ingin melenyapkan Cilinaya dari muka bumi. Namun sebelum niat kedua maha patih itu dilaksanakan, Cilinaya mengajak keduanya ke kebun miliknya di pinggir pantai bawah pohon ketapang, yang menurut Mangku Raden Singanem, lokasi yang dimaksud oleh Cilinaya ketika itu adalah pantai sekitar 200 meter kearah timur laut dari makam Cilinaya yang sekarang.”Di lokasi inilah Cilinaya dibunuh oleh patih Jero Tuek,”kata Raden Singanem.

Sebelum dibunuh, Cilinaya berpesan kepada patih Jero Tuek, “Mun tetu aku anak dedoro bebenes, agar darahku mencerit tun gon gumi berbau, kemudian mun tetu aku terijati anak raja, maka biar darahku mencerit taik sengeh,”(Kalau benar saya ini anak rakyat jelata, agar darah saya muncrat keluar menetes ke bumi berbau busuk dan kalau benar saya ini keturunan raja, agar darah saya keluar muncrat dari tubuh saya berbau harum).

Patih Jero Tuek pun usai Cilinaya menyampaikan pesannya itu melakukan tugasnya untuk melenyapkan keberadaan Cilinaya dari atas bumi. Patih Jero Tuek terkejut dan kaget, ternyata darah Cilinaya muncrat keatas bumi dibarengi dengan bau harum mewangi. Pikirnya ternyata ucapan Cilinaya itu benar bahwa dirinya adalah keturunan raja yang tidak lain adalah putri Datu Daha yang dikabarkan hilang 20 tahun silam.Penyesalan pun tiada guna nasi sudah menjadi bubur.

Setelah Cilinaya mangkat, kemudian anaknya Raden Megatsih yang kira-kira kala itu baru berumur 2 tahun, kemudian dilangkepkan diatas jasad ibunya untuk di susui. Amak Bangkol dan Inaq Bangkol yang membawa Raden Megatsih kala itu tidak kuasa melihat kenyataan di depan matanya.Lalu Raden Megatsih di bawa pulang kembali ke gubuqnya oleh Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol untuk dipelihara. Sementara jasad Cilinaya ketika itu masih terkapar di atas bumi.

Dengan bersusah payah Patih Jero Tuek dan Patih Adipati mempersiapkan tablak (peti) sebagai tempat menaruh jasad Cilinaya, termasuk tenandan (tali) dari perdu untuk mengikat tablak itu juga dipersiapkan.Setelah seluruh persiapan sudah lengkap dan jasad Cilinaya juga sudah ditempatkan dalam tablak, maka tablak yang berisi jasad Cilinaya itu di hanyutkan ke tengah lautan luas hingga tidak terlihat kearah mana tablak itu terbawa arus.

Sementara di tempat terbunuhnya Cilinaya, keadaan semakin mencekam. Tiba-tiba datanglah angin pusut disertai hujan lebat dan halilintar menyambar setiap benda yang dilaluinya.Patih Jero Tuek maupun Patih Adipati sempoyongan sambil jatuh bangun akibat terjangan bencana tersebut. Sehingga dengan peristiwa tersebut Patih Jero Tuek akhirnya mangkat dan jasadnya dimakamkan di Tete Bukal, sekitar 200 meter kearah selatan dari lokasi terbunuhnya Cilinaya. Makamnya hingga saat ini masih ada dan tetap terpelihara tidak jauh dari makam Cilinaya.

Patih Adipati kemudian kembali ke istana kerajaan Datu Keling untuk melaporkan bahwa tugasnya sudah dilaksanakan serta peristiwa dan kejadian yang menimpa Patih Jero Tuek.Usai melaporkan itu, tiba-tiba Patih Adipati pun juga mangkat seketika ditempat. Makam Patih Adipati ini pun hingga sekarang masih ada dan tetap terpelihara di utara Bayan Beleq (Tempos).

Konon ceritanya, setelah berselang 8 tahun kemudian, Datu Daha berniat mengadakan acara rekreasi ke pantai “segara meneng” dengan mengajak seluruh kaula balanya. Setelah tiba waktunya keluarga besar kerajaan itu pun berangkatlah menuju pantai. Dari kejauhan Datu Daha melihat sebatang pohon terapung diatas lautan.Disaat memperhatikan batang kayu itu, tiba-tiba Datu Daha melihat burung gagak hinggap di batang itu lalu terbang kembali. Datu Daha kala itu tidak memiliki firasat apa-apa terhadap keadaan yang dilihatnya.

Batang kayu itu pun semakin lama semakin mendekat, ternyata yang tadinya di kira batang kayu oleh Datu Daha, melainkan sebuah peti yang isinya belum diketahui. Setelah agak dekat, kira-kira dalam air laut kala itu sepinggang orang dewasa, maka Raja Daha mengerahkan seluruh kaula balanya untuk mengangkat dan membuka peti itu. Namun peti itu tidak bisa diangkat, apalagi membukanya.Maka Datu Daha sendirilah yang mengambil dan membukanya dengan disaksikan oleh seluruh kaula balanya serta para pembesar istana.

Betapa terkejutnya Datu Daha ketika membuka peti itu. Ternyata di dalam peti itu adalah terdapat putrinya sendiri Cilinaya sedang duduk. Kabar tentang ditemukannya putri Cilinaya masih hidup itu, cepat tersebar ke seantero negeri kerajaan Daha maupun kerajaan Keling.

Kabar Cilinaya masih hidup ini pun sampailah ke telinga Raden Mas Panji suaminya.Maka Raden Mas Panji pun tanpa pikir panjang berangkatlah menuju istana kerajaan Daha untuk memastikan dengan membawa anak mereka Raden Megatsih. Pertemuan sepasang suami isteri dan anak ini pun berlangsung sangat memilukan. Karena mereka berpisah dulunya tidak dengan sewajarnya.

Atas pertemuan tersebut, maka kedua belah keluarga besar kerajaan mengadakan pesta syukuran selama 8 hari 8 malam.Datu Daha bersyukur karena bertemu lagi dengan putrinya Cilinaya beserta cucunya, sementara Datu Keling bersyukur karena putranya bisa kembali lagi ke istana. Kemudian kedua kerajaan, baik Kerajaan Daha maupun Kerajaan Keling dapat dipersatukan menjadi satu kerajaan yaitu Kerajaan Bayan. Karena adanya ikatan tali perkawinan antara Cilinaya putri Datu Daha dan Raden Mas Panji putra Datu Keling itulah, sehingga kerajaan Bayan itu berdiri.(Eko). www.suarakomunitas.net
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar