Jumat, 22 Juli 2011

UBK Bukan Ponpes, Melainkan “Komplek” Tak Berstatus

Mataram - Terkait keberadaan Ponpes Umar Bin Khattab di kabupaten Bima dimana terjadi ledakan bom didalam ponpes tersebut tiga pekan yang lalu sehingga merenggut nyawa sang perakit bom tersebut, dengan kejadian tersebut menggemparkan NTB bahkan keseluruh penjuru Indonesia dan menjadi sorotan utama media. Pada saat sambutan Gubernur NTB TGH. Zainul Majdi di acara GP. Ansor NTB (21/7/2011), mengatakan “Ponpes UBK yang ada di Bima sejak terbentuknya sudah dipantau keberadaannya dan UBK tidak memiliki status resmi dari pemerintah”, ungkapnya.

“Ideologi dan pemahaman haruslah memperoleh tempat utama pada diri setiap manusia agar tidak terpengaruh dari hal-hal yang melenceng dari ajaran agama”, jelasnya. Sekolah sangatlah perlu apalagi yang berkualitas untuk memeberikan dan menunjang kehidupan masa depan, namun jangan melupaka ajaran agama yang sesuai dengan Islam, ungkapnya. “Peran dari para tuan guru adalah sangat penting untuk memberikan bimbingan kepada jalan yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam, karena dibeberapa tempat sudah terjadi radikalitas, menapikan orang lain atau menolak orang lain”, ungkpanya. Bahkan banyak para tuan guru atau kiyai yang memberikan bimbingan namun masih banyak daerah-daerah yang belum tersentuh oleh ajaran Islam yang rahmatan lila’lamin sehingga masuklah faham-faham yang tidak jelas”, bebernya.

“Masyarakat NTB kami himbau jangan cepat terburu-buru melabelkan atau mengikuti arus informasi tanpa melihat atau mengkritisi dengan jelas apa yang terjadi”, pintanya. “Kami tidak percaya bahwa UBK ini adalah ponpes dan tidak pernah kami mengatakan itu pesantren, UBK itu komplek kalau itu disebut pondok karena disana ada rumah-rumah dan UBK tidak terdaftar di kementrian Agama RI sedangkan yang utama dalam masalah UBK tersebut adalah nilai-nilai yang di ajarkan bertentangan dengan Islam yang diajarkan di ponpes lainnya”, tegasnya.

“Jangan masyarakat terjebak dengan UBK tersebut karena ini merupakan perang psykologi, karena sesuatu yang terus kita konsumsi masuk ketelinga secara terus menerus tanpa melihat kebenarannya maka dengan cepat akan meresap kepada pikiran kita”, ungkapnya. “Karena saking terus menerus menyebut ponpes, maka secara tidak langsung kita telah melabelkan bahwa ponpes tidak baik”, jelasnya.

“Dan jangan menyebut ponpes karena itu bukan ponpes seperti UBK yang sering di sebut ponpes padahal bukan ponpes”, jelasnya. “Bahkan pada saat polisi melakukan penggerebekan di tempat tersebut (red) bukan kitab kuning atau nahwu dan lainnya yang ditemukan melainkan anak panah, bom molotov, samurai dan sejenisnya”, ungkapnya. Dan tidak ada ponpes yang mengajarkan kekerasan apalagi mempersiapkan untuk di ajarkan berperang menggunakan bom molotov, samurai, anak panah dan lainnya, jelasnya.

“Dan kami mengajak masyarakat dan semua kalangan Islam untuk mengajarkan tentang simbol-simbol ke Islaman dengan tujuan hanya Allah sajalah yang tahu atas semuanya”, pintanya. Dan tidak ada sejarahnya ponpes mengajarkan menjadi teroris, radikalisme, mengajak untuk membunuh orang lain, ungkapnya. “Sedangkan musuh kita saat ini adalah kemiskinan, kebodohan inilah yang harus kita tuntaskan bersama-sama”, ujar Gubernur NTB TGH. Zainul Majdi. (zam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar