Minggu, 27 Desember 2009

Nilai Sebuah Peradaban Bertani Adat Bayan

Indonesia terkenal sebagai Negara agraris, dimana sebagian mata pencahariannya lebih banyak di sektor pertanian. Sehingga muncul dengan istilah masyarakat agraris yang memiliki posisi subsisten, artinya masyarakat yang kebutuhan hidupnya dapat tercukupi dari ketersediaan alam. Dengan modal lahan pertanian yang dimilikinya, maka mereka bisa terjamin ketersediaan pangannya selama semusim.

Masyarakat agraris biasa memiliki pengetahuan berdasarkan adapt istiadat setempat yang dihasilkan dari kehidupan sehari-hari yang disebul kearifan lokal atau local wishdom. Kearifan lokal ini dalam bentuk tradisi yang biasa dilakukan sebelum melakukan suatu kegiatan. Dan kearifan lokal itu sendiri memiliki substansi yang berbentuk pluralisme dan toleransi, yang didalamnya terdapat nilai-nilai baik itu agama, budaya maupun politik.

Begitu juga halnya masyarakat adat Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, yang memiliki adapt-istiadat yang dilaksanakan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ritual ketika akan mulai bercocok tanam padi.

Bila masyarakat Jawa mengenal namanya Dewi Sri sebagai dewi kesuburan maka mayarakan Bayan mengenal namanya Dewi Padi dengan sebutan Inak Sariti. Dan masyarakat adapt Bayan umumnya menanam varietas padi lokal yaitu padi bulu. Varietasi padi ini menurut beberapa tokoh adapt menyebutkan sebagai padi yang pertama kali ditanam di Bangket (sawah) Bayan. Selain itu ada sebagian berkeyakinan bila tidak menanam padi bulu, maka panen berikutnya akan gagal. Dan masyarakat setempat juga lebih menyukai varietas ini karena menghasilkan rasa nasinya yang lebih enak.

Sebelum menanam padi, masyarakat biasanya memilih hari yang baik untuk melakukan acara ritual yang disebut dengan selamat olor yang bertujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar sumber mata air melimpah dan padi yang ditanamnya menjadi subur. Do’a pun dipimpin oleh para kiyai adat. Dan pada acara seerti ini biasanya masyarakat adapt memotong ternak berupa ayam atau bebek yang dilakukan dibeberapa tempat sumber mata air di Bayan. Dan sekali dalam tiga tahun masyarakat adat menotong kerbau.

Setelah selamat olor selesai, acara dilanjutkan dengan ritual tun bibit (menurunkan benih) yang istilah Bayannya tunang binek dari sambi/geleng (lumbung padi), dimana benihnya dipersiapkan pada musim tanam tahun lalu.

Benih padi yang mereka miliki biasanya dalam bentuk ikatan, yakni per satu hektar lahan membutuhkan 25 ikat benih padi bulu. Kemudian benihnya direndam dengan air selama 3 hari 3 malam agar berkecambah dengan baik. Lalu ditebarkan di lahan yang sudah disiapkan untuk pembibitan selama tiga sampai empat minggu.

Setelah bibit siap untuk ditanam, barulah mereka melakukan beberpa proses seperti menggara (membajak) sawah dengan kerbau atau sapi, kemudian melakukan penanaman yang dikenal dengan istilah bahasa Bayannya dengan melong. Ketika tanaman berumur 100-120 hari padi sudah mulai berisi atau bisa dikatakan dalam keadaan hamil kecil, maka dilakukan acara nyemprek yakni sebuah acara berdo’a kepada Allah agar padinya selamat dari segala macam hama penyakit dan memberikan hasil yang melimpah ruah ketika musim panen tiba. Karena pada masa itu padi dianggap ngidam seperti halnya seorang wanita sehingga dilakukan ngisi pengidaman (mengisi permintaan ketika mengidam).

Ketika padi sudah menguning dan musim panen telah dekat, maka diadakan kembali acara selamatan bawu pare atau memotong padi. Do’a kembali dipimpin oleh para kiyai adat, dan upacara ini dikenal dengan istilah memuntah (mengumpulkan roh-roh padi) yang sebelumnya mereka anggap sedang bermain, dan keesokan harinya barulah padi ini dipanen atau bahasa Bayannya mematak.

Petani sebelum panen biasanya memilih padi yang baik untuk disimpan dan dijadikan bibit musim tanam berikutnya. Padi-padi pilihan tersebut dipisahkan dari padi-padi lainnya, yang digunakan untuk konsumsi, agar tidak tercampur, dan setelah itu barulah mereka melakukan mematak secara keseluruhan. Satu hal yang menarik bahwa selama panen (mematak) mereka tidak boleh mandi. Jadi jika waktu panennya 3 hari maka selama itulah mereka tidak mandi. Hal ini juga berlaku bagi yang membantu mematak. Saling Bantu membantu ini dikenal dengan sebutuan betulungan oleh masyarakat setempat.

Setelah selesai panen, padi-padi tersebut dijemur sampai kering lalu diadakan upacara tekang pare. Prosesi ini dilakukan sebelum padi disimpan dalam lumbung/geleng . Dan do’apun kembali dipimpin oleh para kiyai adat dan menyampaikan pesan agar padi-pai tersebut mengetahui bahwa dia akan disimpan di geleng. Geleng adalah sebuah lumbung padi yang bentuknya mirip seperti rumah panggung tapi lebih kecil dengan empat buah kayu penyangga dan beratap jerami.

Padi yang disimpan untuk menjadi bibit dipisahkan dengan padi yang dikonsumsi sehari-hari. Dan pada saat menyiompan atau mengambil padi harus mengenakan pakaian adapt yang untuk laki-laki mengenakan dodot (kain yang dibelitkan di pinggang) dan ikat kepala yang disebut sapuk.

Tradisi bertani di Bayan merupakan sebuah gambaran akan pentingnya menghargai makna dan nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya untuk selalu dijaga dan lestarikan tanpa berlebihan. Masyarakat desa masih berpegang teguh pada aturan adat yang mengatur segala bentuk hubungan antar manusia dengan Tuhan, sesame manmusia dengan mahluk lain serta dengan lingkungan sekitarnya. Dan di sisi lain sangat menjunjung tinggi nilai kehidupan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar