Sabtu, 13 Agustus 2011

KHUTBAH IDUL FITRI 1432 (Meningkatkan Kepedulian Kepada Sesama)

Oleh: M. Syairi

Allah Akbar 3 X
Sejak terbenamnya matahari disebelah barat hingga fajar menyingsing dari ufuk timur, suara takbir membesarkan Asma Allah mulai menggema memenuhi angkasa alam raya, sebagai pertanda bahwa kita sudah berada dalam suasana bahagia menyambut hari kemenangan, yaitu Idul Fitri 1432 Hijriyah.

Karenanya di pagi yang mulia ini mari kita tundukkan wajah kita untuk mengingat dan berzikir kepada Allah, mengagungkan dan memuji asma Allah, sebab Dialah menggerakkan denyut jantung kita. Dilah yang mengalirkan darah disekujur tubuh, sehingga kita masih bisa menikmati dan menyambut datangnya Idul Fitri sebagai hari kemanangan setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa.

Sungguh betapa banyak saudara-saudara kita, yang pada tahun lalu duduk bersimpuh ditempat yang mulia ini bersama kita, kini sudah tiada. Mereka meninggalkan suami atau istri tercinta, meninggalkan anak-anak mereka yang hidup menjadi yatim, yang sungguh pada hari ini mereka tidak dapat lagi menikmati keindahan berkumpul bersama keluarga seperti pada tahun-tahun lalu, karena beliau sudah kembali kehadapan Robbul Izzati. Semoga saudara-saudara kita yang kini sudah menjadi almarhum dan almarhumah mendapat maghfirah dan pengampuan dari Allah SWT, serta diberikan tempat yang layak disisi-Nya. Amiin

ALLAHU AKBAR – ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMDU
Saudara-saudaraku kaum muslimin muslimat rahimakumullah

Sebulan kita telah lalui ujian dari Allah SWT untuk menahan hawa nafsu yang selalu ingin mengikuti jejak dan rayuan syetan, nafsu yang selalu ingin berbelok dari garis kebenaran, nafsu yang selalu ingin menang sendiri dan menindas yang lain.

Puasa yang kita laksanakan sebulan penuh merupakan latihan dari Allah SWT untuk melatih diri agar menahan lapar, melatih diri merasakan perih dan pedihnya perut yang tidak terisi dengan makanan. Melatih diri untuk merasakan hausnya kerongkongan dan tenggorokan yang kekeringan dan
mendambakan basahan air minum, agar kita kaum muslimin dapat merasakan betapa sengsara dan beratnya penderitaan yang dialami oleh anak-anak yatim dan fakir miskin yang diwaktu pagi kadang mereka makan, dan sore hari tidak.

Shaum adalah ibadah yang dapat menambah kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan. Meski kita telah melaksanakan ibadah shaum, namun, apakah kita telah meraih kekuatan baru untuk menguasai tuntutan hawa nafsu? Baik tuntutan yang berkaitan dengan pandangan, pendengaran,ungkapan, pemikiaran, angan-angan, ataupun lainnya? Atau hanya sekedar menahan haus dan lapar laksana pelaku aksi mogok makan seperti yang disinyalir Nabi SAW:


"Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus."

ALLAHU AKBAR – ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMDU
Saudara-saudaraku kaum muslimin muslimat Sidang ID rahimakumullah

Sungguh Allah Maha Mengetahui dan menyaksikan apa yang telah kita lakukan pada bulan suci. Kini bulan yang penuh rahmat dan ampunan itu telah tiada, ia pergi meninggalkan kita. Apakah kita akan bertemu kembali pada tahun berikutnya atau kita akan dipangil untuk menghadap keharibaan Yang Maha tinggi sebelum dia kembali? Tak ada seorangpun diantara kita yang dapat mengetahui kalau dirinya akan hidup sampai esok lusa, apa lagi hidup sampai bulan Ramadan tahun depan.

Sekiranya kita belum meraih rahmat dan ampunan, apa yang akan kita lakukan bila kita sudah berada di ruang sidang untuk menghadap Hakim Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui terhadap semua prilaku insan, . Inilah pengadilan yang hakiki yang disaksikan semua makhluk meliputi manusia, jin dan binatang.

Dengan kecanggihan teknologi ilahi, semua kesalahan manusia akan tampak, semua dosa akan jelas, dan semua maksiat yang telah dilakukan akan tersingkap. Rekaman suara hati tidak dapat dipungkiri meski saat ini terus ditutupi. Ketika itulah datangnya rasa takut yang tidak akan berujung, rasa malu yang tidak akan berakhir, dan rasa ngeri yang tidak akan berhenti. Semua akan kita alami bila kita tidak mendapat ampunan ilahi akibat gagal dalam mengisi bulan suci.

Jika kesuksesan sementara di dunia tidak pernah dapat diraih kecuali dengan kelulusan dalam satu proses ujian. Apakah mungkin kesuksesan hakiki dan abadi di akhirat nanti akan dapat kita raih tanpa ujian?

Kehidupan dunia adalah lembaran ujian yang mesti diisi dengan benar untuk meraih sukses pada hari pembalasan. Hanya saja banyak sekali dari kita yang tidak menyadari bahwa kita sedang menghadapi ujian. Nikmat sehat merupakan amanah yang sering dilupakan, apakah kita telah mampu memanfaatkannya demi berjuang membela hak dan keadilan; nikmat harta merupakan amanah yang mesti dipertanggungjawabkan, apakan kita mampu menggunakannya demi kelangsungan da’wah dan keselamatan ummat dari bahaya kemusyrikan.

Bahaya kemusyrikan yang senantiasa mengancam fuqara dan masakin; Usia panjang adalah amanat yang sering diabaikan, apakah kita mampu mengisinya dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan ummat beriman; dan ni’mat ilmu adalah amanat yang sangat berharga bila diamalkan, apakah kita mampu menggunakannya untuk meluruskan aktfitas manusia dan mengarahkan mereka menuju ridha arrohman.. semua kenikmatan itu adalah materi ujian. Kita tidak lama lagi akan diperiksa tentang semua kenikmatan yang telah kita terima sejak dahulu hingga hari ini hari lebaran,. Diperiksa di hadapan Pencipta yang telah menjadikan mati dan hidup sebagai ujian.

(Dialah) yang telah menciptan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa diantaramu yang lebih baik dan ikhlas amalnya Kesempatan beribadah tidak hanya pada bulan Ramadhan. Selama kita masih dapat bernafas maka selama itu pula kita wajib beramal shaleh.

ALLAHU AKBAR – ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMDU
Saudara-saudaraku kaum muslimin muslimat Sidang ID rahimakumullah

Ibdah puasa yang baru saja selesai kita laksanakan diakhiri dengan mengeluarkan zakat fitrah, sebagai pensuci diri yang diibayarkan sebelum salat Idul Fithri, dan dibagikan kepada fuqarak wal masakin Sesuai bimbingan Rasulullah SAW, aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah meminta-minta pada hari lebaran ini.

Dalam sebuah hadis beliau bersabda yang artinya : Hakikatnya, “zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin” (HR.Abu Daud).

Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing.

Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin disekelilingnya.

Kaum Muslimin Muslimat Sidah Id yang Berbahagia

Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati.

Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.
Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak punya apa-apa, kecuali nyawa berbungkus kulit.

Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang yang dengan nasib dan takdir yang ada padanya, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru pemberian ibu, sepatu hadiah sang paman…. Alangkah malangnya nasib badan.

Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau hanya sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasihan.
Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, kita akan digolongkan kepada orang-orang yang mendustakan agama? Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ma’un

Tahukah engkau orang-orang yang mendustakan agama ? Yaitu itulah orang yang menghardik dan menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi.

Marilah kita merenung sejenak, melihat kondisi disekeliling kita, dimana terdapat puluhan bahkan rausan anak yang sudah menjadi yatim-piatu karena ditinggalkan orangtuanya menghadap ke Ilahi Robbi. Mereka hanya membutuhkan uluran tangan dan sesuap nasi untuk menyambung hidupnya, selembar pakaian untuk menutup badannya.

Pada hari bahagia ini, anak-anak yatim di sekeliling kita akan terngiang dan teringat masa lalunya ketika orang tuanya masih hidup melindunginya. Lalu pada hari raya ini, kepada siapakah mereka harus memanggil ayah dan ibu, ataukah mereka akan kita biarkan menangis diatas batu nisan orang tuanya? Tidak wahai saudara-saudaraku, ini adalah tanggungjawab kita semua.

Allahu Akbar 3 X
Saudara-saudaraku kaum muslimin-muslimat rahimakumullah

Dalam sebuah kisah diceritakan, bahwa Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah SAW masih hidup, beliau keluar menuju tempat salat ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu.

Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta. Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.
Dalam situasi seperti itu, Rasulullah SAW lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.

Sambil bertanya Rasul berkata, “Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah yang menyulitkan ?

Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.

Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti.

Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”

Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah SAW berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.

Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini.

Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka.

Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama, tidak pernah dirasakannya.
Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia.

Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi SAW disampaikan Beliau pada Kotbah Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini (lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)” (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi).

Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih (ghutsa-an ka ghutsa-as-sail), yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.

Allahumma Yaa Ghaffar,
Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU, Dan terimalah semua amal ibadah kami. Amiin Ya Rabbal Alamiin. (Khutbah Id akan dibacakan di masjid Al-Hidayah Kopang Desa Karang Bajo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar