Lombok Utara - Nurul Bayan merupakan nama sebuah Ponpdok Pesantren (Ponpes) dan lembaga pendidikan Islam yang terletak di Dusun Telaga Bagek Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Ponpes yang diawali dengan pendirian Diniyah Islamiyah pada tahun 1992 oleh KH. Abdul Kari ini, semakin hari terus berkembang dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan.
Hal ini terlihat dari jumlah santrinya yang terus bertambah, dan pada tahun 2011 ini sudah mencapai 310 orang. Lalu seperti apa kondisi Ponpes yang jauh dari pusat kota ini, dan bagaimana pula sistim yang digunakan untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan itu? Berikut liputan wartawan Suara Komunitas dan Koran BERITA yang berkunjung pada Senin pagi 25 Juli 2011.
Dari luar, atau perbetasan sebelah barat antar Desa Sukadana dengan Desa Anyar, tampak lahan tandus, seolah-olah tiada kehidupan didalamnya. Namun jika kita berjalan kearah utara atau sekitar 200 meter memasuki Telaga Bagek, tentu pengunjung akan berdecak kagum, ternyata dibalik ketandusan itu, terdapat sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki taman yang hijau dan sejuk, serta puluhan ruang pemondokan dan tempat belajar.
Taman yang tertata apik memiliki nama yang mengingatkan umat Islam akan nama-nama syurga. Selain itu didalam pondok tampak puluhan wali santri yang mengantar anaknya untuk belajar di Nurul Bayan. Penulispun mendatangi sebuah taman yang dikenal dengan taman Raudhah. Ditaman ini terdapat sebuah berugak saka enam, yang dibawahnya sebuah kolam yang berisi ikan tawar.
Sementara di samping kiri dan kanan berugak terdapat air mancur. “Semua bangunan ini ada filosofinya, seperti ukuran kolam yang dibuat 5 X 13. Angka lima itu menunjukkan rukum Islam, sedangkan angka 13 adalah arkanussholah (rukun sholat)”, kata Pimpinan Ponpes Nurul Bayan, KH. Abdul Karim.
Ketika penulis datang, KH Abdul Karim tampak sibuk menerima puluhan tamu yang tiada lain adalah para wali santri. Beliau memberikan wejangan, bagaimana cara pembentukan karakter anak didik dan meminta kepada wali murid untuk menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk membantu kemajuan lembaga pendidikan di Kabupaten Lombok Utara.
Santun, ramah dan sederhana, demikianlah yang tampak pada sosok kiyai yang cukup energik dan istiqomah didalam berjuang memajukan dakwah, sosial dan pendidikan. Karena berkat ketekunan dan niat tulusnya sehingga Ponpes Nurul Bayan yang berawal dari sebuah diniah beratap daun kelapa, kini mengalami kemajuan yang cukup membanggakan. Terbukti dengan berdirikan puluhan buah bangunan diatas lahan seluas 7 hektar.
Santri-santriwati yang belajar di Ponpes Nurul Bayan, bukan saja berasal dari KLU, tapi juga sudah mulai banyak berdatangan dari Lombok Tengah, Kodya Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, bahkan dari Pulau Sumbawa dan Bali.
Lalu darimana saja tenaga pengajarnya? Menjawab pertanyaan tersebut, H. Abdul Karim mengatakan, bahwa tradisi pesantren itu baru bisa kuat bila peran alumninya besar. Namun para guru itu tetap harus menenuhi standar kompetensi. “Para alumni banyak yang sudah sarjana dan kembali ke pondok sebagai guru tetap. Selain itu ada juga guru yang dari luar alumni dan memenuhi standar kompetensi”, katanya.
Nilai dan Khittoh Pendidikan
Dalam rangka pembentukan karakter anak, ada lima media yang digunakan untuk mentrasformasi metodologi nilai pendididikan yaitu, keteladanan, pengkondisian, penugasan, pengarahan dan proses belajar mengajar. “Keteladanan ini merupakan urutan yang paling tinggi untuk pembentukan karakter, barulah pengkondisian, dimana 24 jam santri di pondok, tinggal dikondisikan sedemikian rupa, itu semua tidak akan keluar dari nilai-nilai pendidikan”, jelas KH. Abdul Karim
Sementara nilai penugasan itu lebih terasa pada kelas tinggi, baik di organisasi, pengembangan lembaga, koperasi pondok, peternakan dan lainnya, yang sebenarnya para santri itu mulai dibentuk kemandirian dan ekonominya serta pembentukan kpribadiannya sedang berjalan, barulah dilakukan pengarahan dan proses belajar mengajar. “Itu semua berjalan dalam siklus 24 jam”, kata Tuan guru kelahiran Mataram 17-7-1967 ini.
Ditanya tentang program bupati KLU akan kembali kepada khittoh pendidikan, Kiyai yang santun ini langsung menjawab, sangat mendukung program tersebut, karena ponpes sejak bediri sudah melakukan hal itu, yakni bagaimana mendidik kader bangsa dan agama ini menjadi kader yang mandiri dan berahlak mulia. “Saya sangat mendukung program itu, dan memang itu yang dibutuhkan oleh generasi penerus bangsa ini”, katanya sambil tersenyum.
Ponpes Nurul Bayan yang memiliki segudang program ini telah menamatkan santrinya tujuh kali, dan sudah banyak yang masuk ke berbagai perguruan tinggi yang bukan saja di Indoensia, namun juga ke luar negeri bahkan sudah ada yang S-2. “Alhamdulillah, sudah banyak santri kita yang melanjutkan pendidikannya ke berbagai perguruan tinggi baik didalam negeri maupun ke luar negeri, bahkan sudah ada yang menjadi PNS dan tenaga pengajar di Malaysia”, ungkapnya.
Untuk mentransformasi ilmu, ponpes yang jauh dari pusat keramaian ini, juga menerbitkan sebuah bulletin bulanan yang diberi nama Al-Bayan, yang dibagikan mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat santri. Isi bulletin ini cukup beragam, mulai dari kajian utama, info ponpes, hingga lintas Kabupaten Lombok Utara. “Buletin ini mendapat sambutan yang cukup positif dari pembaca, karena ini merupakan salah satu cara untuk mentransfer ilmu dan informasi kepada publik”, jelasnya.(M.Syairi)
Hal ini terlihat dari jumlah santrinya yang terus bertambah, dan pada tahun 2011 ini sudah mencapai 310 orang. Lalu seperti apa kondisi Ponpes yang jauh dari pusat kota ini, dan bagaimana pula sistim yang digunakan untuk mentransfer nilai-nilai pendidikan itu? Berikut liputan wartawan Suara Komunitas dan Koran BERITA yang berkunjung pada Senin pagi 25 Juli 2011.
Dari luar, atau perbetasan sebelah barat antar Desa Sukadana dengan Desa Anyar, tampak lahan tandus, seolah-olah tiada kehidupan didalamnya. Namun jika kita berjalan kearah utara atau sekitar 200 meter memasuki Telaga Bagek, tentu pengunjung akan berdecak kagum, ternyata dibalik ketandusan itu, terdapat sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki taman yang hijau dan sejuk, serta puluhan ruang pemondokan dan tempat belajar.
Taman yang tertata apik memiliki nama yang mengingatkan umat Islam akan nama-nama syurga. Selain itu didalam pondok tampak puluhan wali santri yang mengantar anaknya untuk belajar di Nurul Bayan. Penulispun mendatangi sebuah taman yang dikenal dengan taman Raudhah. Ditaman ini terdapat sebuah berugak saka enam, yang dibawahnya sebuah kolam yang berisi ikan tawar.
Sementara di samping kiri dan kanan berugak terdapat air mancur. “Semua bangunan ini ada filosofinya, seperti ukuran kolam yang dibuat 5 X 13. Angka lima itu menunjukkan rukum Islam, sedangkan angka 13 adalah arkanussholah (rukun sholat)”, kata Pimpinan Ponpes Nurul Bayan, KH. Abdul Karim.
Ketika penulis datang, KH Abdul Karim tampak sibuk menerima puluhan tamu yang tiada lain adalah para wali santri. Beliau memberikan wejangan, bagaimana cara pembentukan karakter anak didik dan meminta kepada wali murid untuk menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk membantu kemajuan lembaga pendidikan di Kabupaten Lombok Utara.
Santun, ramah dan sederhana, demikianlah yang tampak pada sosok kiyai yang cukup energik dan istiqomah didalam berjuang memajukan dakwah, sosial dan pendidikan. Karena berkat ketekunan dan niat tulusnya sehingga Ponpes Nurul Bayan yang berawal dari sebuah diniah beratap daun kelapa, kini mengalami kemajuan yang cukup membanggakan. Terbukti dengan berdirikan puluhan buah bangunan diatas lahan seluas 7 hektar.
Santri-santriwati yang belajar di Ponpes Nurul Bayan, bukan saja berasal dari KLU, tapi juga sudah mulai banyak berdatangan dari Lombok Tengah, Kodya Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur, bahkan dari Pulau Sumbawa dan Bali.
Lalu darimana saja tenaga pengajarnya? Menjawab pertanyaan tersebut, H. Abdul Karim mengatakan, bahwa tradisi pesantren itu baru bisa kuat bila peran alumninya besar. Namun para guru itu tetap harus menenuhi standar kompetensi. “Para alumni banyak yang sudah sarjana dan kembali ke pondok sebagai guru tetap. Selain itu ada juga guru yang dari luar alumni dan memenuhi standar kompetensi”, katanya.
Nilai dan Khittoh Pendidikan
Dalam rangka pembentukan karakter anak, ada lima media yang digunakan untuk mentrasformasi metodologi nilai pendididikan yaitu, keteladanan, pengkondisian, penugasan, pengarahan dan proses belajar mengajar. “Keteladanan ini merupakan urutan yang paling tinggi untuk pembentukan karakter, barulah pengkondisian, dimana 24 jam santri di pondok, tinggal dikondisikan sedemikian rupa, itu semua tidak akan keluar dari nilai-nilai pendidikan”, jelas KH. Abdul Karim
Sementara nilai penugasan itu lebih terasa pada kelas tinggi, baik di organisasi, pengembangan lembaga, koperasi pondok, peternakan dan lainnya, yang sebenarnya para santri itu mulai dibentuk kemandirian dan ekonominya serta pembentukan kpribadiannya sedang berjalan, barulah dilakukan pengarahan dan proses belajar mengajar. “Itu semua berjalan dalam siklus 24 jam”, kata Tuan guru kelahiran Mataram 17-7-1967 ini.
Ditanya tentang program bupati KLU akan kembali kepada khittoh pendidikan, Kiyai yang santun ini langsung menjawab, sangat mendukung program tersebut, karena ponpes sejak bediri sudah melakukan hal itu, yakni bagaimana mendidik kader bangsa dan agama ini menjadi kader yang mandiri dan berahlak mulia. “Saya sangat mendukung program itu, dan memang itu yang dibutuhkan oleh generasi penerus bangsa ini”, katanya sambil tersenyum.
Ponpes Nurul Bayan yang memiliki segudang program ini telah menamatkan santrinya tujuh kali, dan sudah banyak yang masuk ke berbagai perguruan tinggi yang bukan saja di Indoensia, namun juga ke luar negeri bahkan sudah ada yang S-2. “Alhamdulillah, sudah banyak santri kita yang melanjutkan pendidikannya ke berbagai perguruan tinggi baik didalam negeri maupun ke luar negeri, bahkan sudah ada yang menjadi PNS dan tenaga pengajar di Malaysia”, ungkapnya.
Untuk mentransformasi ilmu, ponpes yang jauh dari pusat keramaian ini, juga menerbitkan sebuah bulletin bulanan yang diberi nama Al-Bayan, yang dibagikan mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat santri. Isi bulletin ini cukup beragam, mulai dari kajian utama, info ponpes, hingga lintas Kabupaten Lombok Utara. “Buletin ini mendapat sambutan yang cukup positif dari pembaca, karena ini merupakan salah satu cara untuk mentransfer ilmu dan informasi kepada publik”, jelasnya.(M.Syairi)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar