Lombok Utara - Di antara lima kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Bayan memiliki angka anak kurang gizi dan gizi buruk yang tertinggi di kabupaten yang bermotto tiok-tata-tunaq. Ini terbukti, dari jumlah 4717 balita, yang mengalami anak gizi kurang 943 orang dan gizi buruk 189 anak.
Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) KLU, dr. H. Beny Nugroho, pada acara sosialisasi Pekan Penimbangan yang berlangsung di aula kantor camat Bayan (19/7/11), yang dihadiri para kepala desa, kader posyandu, pengurus PNPM, SPMD, bidan desa serta anggota komisi III DPRD KLU.
Menurut Beny, ada beberapa penyebab muculnya kekurangan gizi dan gizi buruk yaitu terjadi krisis ekonomi dan politik yang berdampak kepada kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, ketersediaan pangan menurun dan sempitnya lapangan kerja. “Untuk meningkatkan asupan gizi yang cukup pada ribuan anak ini diperlukan pemberdayaan masyarakat dengan melakukan kegiatan penimbangan, dan semua ibu hamil dan balita harus mendatangi posyandu yang terdekat”, katanya.
Sementara camat Bayan, Pahri, S.Pd yang diwakili Sekcam Bayan, B. Rusmiatun dalam sambutannya mengatakan, Bayan dikenal dengan Gerakan Sayang Ibu (GSI), yang tujuannya untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak dan meningkatkan kunjungan ke petugas kesehatan serta dilarang melahirkan di dukun beranak.
Program kecamatan Bayan ini mendapat dukungan dari kepala Dikes KLU yang melakukan pemberdayaan ibu hamil dan semuanya melahirkan dibidan desa. “Namun dukun terlatih jangan dilepas, bagaiaman kita bisa merangkulnya, karena bangtuan para dukun terlatih ini masih dibutuhkan terutama oleh ibu-ibu melahirkan”, timpal Beny.
Untuk mengatasi ribuan anak yang kekurangan gizi, Beny meminta kepada petugas kesehatan, untuk bisa mengatasinya dalam tiga bulan kedepan, karena Dikes sudah membantu makanan tambahan berupa biscuit yang hasupan gizinya memadai, dan khususnya untuk Kecamatan Bayan sudah disipkan biscuit 1,5 ton.
Dalam acara tersebut diperoleh beberapa kesepakatan antar Dikes, kepala desa, dan pelaku PNPM GSC, diantaranya akan dipersiapkan makanan tambahan berupa telur untuk diberikan kepada balita yang kekurangan gizi. “Pokoknya dalam tiga bulan kedepan harus semuanya sudah tuntas, artinya tidak ada lagi balita yang kurang gizi dan gizi buruk di Kecamatan Bayan”, pungkas Beny.
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar