Selasa, 19 Juli 2011

Anak Buah Ustadz Abrori Serahkan Diri

Pemda Diminta Awasi Kelompok Radikal di Lotim

Mataram - Satu per satu pengurus Pondok Pesantren Umar Bin Khattab yang juga anak buah Ustadz Abrori dari Ponpes Umar Bin Khattab menyerahakn diri. Santri berinisial F menyerahkan diri melalui orang tuanya dan F dijemput aparat Kepolisian di kediaman orang tuanya di Desa Ule, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima pada Minggu (17/7).

Dalam keterangan persnya, Senin (18/7) kemarin Kapolda NTB Brigjen Pol Drs Arif Wachyunadi menjelaskan, proses penangkapan terhadap F hampir sama dengan atasannya. Semua berlangsung lancar dan didukung sikap kooperatif santri tersebut. Dipastikan Kapolda, masih banyak lagi santri Ponpes UBK yang diharapkan menyerahkan diri untuk segera diperiksa.

Sebelum memberi keterangan pers kepada wartawan, Kapolda sempat menemui Ustadz Abrori di ruang pemeriksaan Sat Ops I Ditreskrim. Tidak jelas apa yang dibicarakan, lantaran wartawan diminta menunggu di luar gedung.

‘’Kami terus melakukan pendalaman – pendalaman atas tertangkapnya Abrori Cs,’’ jelasnya. Sementara ini belum ada pasal tertentu yang diterapkan kepada mereka, meskipun statusnya sudah tersangka. Kepolisian masih meneliti antara barang bukti yang diamankan berupa senjata tajam serta bahan – bahan untuk bom rakitan. Abrori pun mengakui bahwa benda tersebut dan sajam yang diamankan, bagian dari alat pelatihan militer selama di camp atau ponpes Umar Bin Khattab.

Kapolda tak menjawab beberapa pertanyaan tentang pasal sangkaan, keterkaitan dengan penyelidikan terhadap Abrori dan pengakuannya soal jaringan radikal yang selama ini jadi pertanyaan. “Kalau pengakuan – pengakuan tidak akan saya sampaikan, itu teknis penyidikan,” tandasnya.

Dalam kasus ini, masih tetap ditangani tim yang disebutnya sebagai Satgas 86. Poin pendalaman kasus ini dimulai dari ledakan yang terjadi di ponpes Umar Bin Khattab. Abrori selama pemeriksaan dipastikannya dalam kondisi sehat dan telah menunjuk kuasa hukum pendamping.

Dengan penyerahan diri F, Polda NTB telah menetapkan sembilan tersangka terkait ledakam bom di Ponpes Umar Bin Khattab yang menewaskan Ustadz Firdaus serta penemuan barang-barang berbahaya seperti bom molotov, senjata tajam serta buku-buku jihad dan lainnya di ponpes itu.

Sementara itu, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta, Senin (18/7) siang, mendatangi Mapolres Bima guna mengusulkan kepada Kapolres bersama unsur Muspida untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang terjadi di Bima.
Disebutkannya juga, kedatangan LPPI sendiri untuk mencari tahu peristiwa yang terjadi di Bima. Pasalnya dirinya merasa prihatin, dengan beberapa pemberitaan di TV mengenai seorang santri yang membunuh anggota Kepolisian di Kantor Polisi. Kebetulan di televisi menyebutkan jika tempat latihannya di Waworada dan Sila. ‘’Oleh karenanya kita kemari untuk mencari tahu mengenai ponpes tersebut,” katanya.

Setelah dicari tahu, rupanya ponpes ini juga tak memiliki sertifikat dan tidak memenuhi syarat dari Kemenag. Di akte notaris ponpes ini juga tak terdaftar.

Awasi Kelompok Radikal
Selain terus mengejar para santri yang diduga terkait dengan Ponpes Umar Bin Khattab, pihak Polda NTB berharap Pemda Lombok Timur (Lotim) mengawasi dan membina kelompok yang terindikasi radikal di sana. Sesuai dengan keterangan sebelumnya, Kapolda mengakui sudah mengidentifikasi beberapa ponpes di Lotim yang teridentifikasi mengarah pada ajaran radikal, tidak jauh dengan yang di Bima.

Dia berharap ada kerjasama dengan Kesbanglinmas, umumnya Pemda Lombok Timur (Lotim) untuk membantu mengawasi sekaligus membina kelompok tersebut agar tidak melanjutkan aktivitasnya. Lebih jauh soal keterkaitan erat Umar Bin Khattab dengan ponpes di Lotim, Kapolda enggan berkomentar. Secara umum disampaikannya, Kepolisian belum mengawasi lebih jauh, namun pada tahap antisipasi. (ars/use)Sumber: suarantb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar