Lombok Utara - Seorang penderita gizi buruk (GB), Muliani (3) kini sedang menjalani perawatan di Puskesmas Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Pasien ini jatuh sakit sejak orang tuanya cerai dua tahun lalu, kemudian ibu Muliani, Nunung (25) meninggalkan anaknya yang sakit pergi bekerja ke Malaysia.
Karena pola asuh yang tak mengacu pada petunjuk kesehatan, kondisi tubuh Muliani kian memburuk. Nenek Muliani, Setiasip (55) menjelaskan cucuknya mulai sakit sejak ditinggalkan ibunya bekerja ke Malaysia. Banyak penyakit yang menyerang Muliani mulai dari diare, demam, batuk dan penyakit lainnya. Setiasip tergolong warga miskin sehingga sulit baginya untuk membawa cucuknya berobat ke dokter.
‘’Selama delapan hari berobat di puskesmas sudah ada perubahan kesehatan Muliani. Tapi, sampai kapan saya di puskesmas, saya tidak tahu,’’ ujar Setiasip saat ditemui di Puskesmas Tanjung, Rabu (3/8) kemarin.
Kendati anak ini punya ayah, Narsim (25), ujarnya tapi Muliani tidak mau diperhatikan. Akibatnya, makanan yang diberikan tergantung pemberian dari keluarga Setiasip. Sebab, untuk memberikan asupan makanan yang bergizi tak bisa dilakukan karena ia tak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan bergizi. Akibatnya, asupan makanan yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan balita tak diberikan ke Muliani.
Selama ini kata Setiasip ia hanya diberikan uang oleh seorang ibu namun ia tak tahu dimana ibu itu bertugas. Uang yang diberikan sebesar Rp 100 ribu digunakan untuk membeli kebutuhan makanan Muliani. Diakui, sejak lahir Muliani kurang diperhatikan orang tuanya, terlebih lagi setelah mereka bercerai. Ia berharap ada perhatian pemerintah membantu menanggulangi penyakit yang diderita Muliani.
Kepala BIdang Yankes pada Dinas Kesehatan KLU, dr.H. Abdul Kadir yang dihubungi membenarkan Muliani terserang GB. Pada umumnnya penderita GB karena pola asuh yang tak diperhatikan. Anak tak diberikan asupan makanan sesuai yang dibutuhkan untuk perkembangan tubuhnya. Setiap anak yang baru lahir hingga usia 6 bulan harus diberikan air susu ibu (ASI). Di atas usia enam bulan diberikan makanan pendamping ASI. Pada usia 0-5 tahun dikenal dengan priode emas dimana anak harus mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Dijelaskan hasil rapat penanganan gizi kurang bbeberapa waktu lalu menetpkan penanganan jangka pendek diberikan MP-ASI (makanan pendamping ASI) berupa roti biskuit dan telur selama 90 hari. Pada Juni lalu dilakukan pendataan di semua kecamatan yang berhasil terdata sekitar 2 ribu lebih balita. Rapat koordinasi dilakukan di tiap kecamatan yang membahas masalah penanganan gizi kurang. Juga diadakan rapat sistem ketahanan pangan dan gizi (SKPG) di Kantor Bupati KLU, Rabu (3/8) kemarin.
Hasil rapat menetapkan setiap kecamatan harus bekerjasama dengan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Dari masyarakat yang tergolong mampu dan semua pejabat akan memberikan sumbangan telur selama 90 hari untuk mencegah gizi kurang. Sedangkan MP-ASI ditanggung Pemda KLU, Pemprov NTB dan dari pemerintah pusat. Dalam pertemun itu juga ditetapkan penanggulangan kemiskinan. Semua pejabat diharapkan sebagai orang tua asuh yang menanggung biaya makan dan pendidikan warga miskin. (051)
Karena pola asuh yang tak mengacu pada petunjuk kesehatan, kondisi tubuh Muliani kian memburuk. Nenek Muliani, Setiasip (55) menjelaskan cucuknya mulai sakit sejak ditinggalkan ibunya bekerja ke Malaysia. Banyak penyakit yang menyerang Muliani mulai dari diare, demam, batuk dan penyakit lainnya. Setiasip tergolong warga miskin sehingga sulit baginya untuk membawa cucuknya berobat ke dokter.
‘’Selama delapan hari berobat di puskesmas sudah ada perubahan kesehatan Muliani. Tapi, sampai kapan saya di puskesmas, saya tidak tahu,’’ ujar Setiasip saat ditemui di Puskesmas Tanjung, Rabu (3/8) kemarin.
Kendati anak ini punya ayah, Narsim (25), ujarnya tapi Muliani tidak mau diperhatikan. Akibatnya, makanan yang diberikan tergantung pemberian dari keluarga Setiasip. Sebab, untuk memberikan asupan makanan yang bergizi tak bisa dilakukan karena ia tak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan bergizi. Akibatnya, asupan makanan yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan balita tak diberikan ke Muliani.
Selama ini kata Setiasip ia hanya diberikan uang oleh seorang ibu namun ia tak tahu dimana ibu itu bertugas. Uang yang diberikan sebesar Rp 100 ribu digunakan untuk membeli kebutuhan makanan Muliani. Diakui, sejak lahir Muliani kurang diperhatikan orang tuanya, terlebih lagi setelah mereka bercerai. Ia berharap ada perhatian pemerintah membantu menanggulangi penyakit yang diderita Muliani.
Kepala BIdang Yankes pada Dinas Kesehatan KLU, dr.H. Abdul Kadir yang dihubungi membenarkan Muliani terserang GB. Pada umumnnya penderita GB karena pola asuh yang tak diperhatikan. Anak tak diberikan asupan makanan sesuai yang dibutuhkan untuk perkembangan tubuhnya. Setiap anak yang baru lahir hingga usia 6 bulan harus diberikan air susu ibu (ASI). Di atas usia enam bulan diberikan makanan pendamping ASI. Pada usia 0-5 tahun dikenal dengan priode emas dimana anak harus mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Dijelaskan hasil rapat penanganan gizi kurang bbeberapa waktu lalu menetpkan penanganan jangka pendek diberikan MP-ASI (makanan pendamping ASI) berupa roti biskuit dan telur selama 90 hari. Pada Juni lalu dilakukan pendataan di semua kecamatan yang berhasil terdata sekitar 2 ribu lebih balita. Rapat koordinasi dilakukan di tiap kecamatan yang membahas masalah penanganan gizi kurang. Juga diadakan rapat sistem ketahanan pangan dan gizi (SKPG) di Kantor Bupati KLU, Rabu (3/8) kemarin.
Hasil rapat menetapkan setiap kecamatan harus bekerjasama dengan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Dari masyarakat yang tergolong mampu dan semua pejabat akan memberikan sumbangan telur selama 90 hari untuk mencegah gizi kurang. Sedangkan MP-ASI ditanggung Pemda KLU, Pemprov NTB dan dari pemerintah pusat. Dalam pertemun itu juga ditetapkan penanggulangan kemiskinan. Semua pejabat diharapkan sebagai orang tua asuh yang menanggung biaya makan dan pendidikan warga miskin. (051)
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar