Kamis, 21 Juli 2011

Maryam, TKI Asal Lobar Sembilan Tahun Tidak Ada Kabar

CERITA duka pahlawan devisa seakan tidak ada habisnya. Selain mengalami berbagai macam siksaan, tidak jarang para TKI (Tenaga Kerja Indonesia) itu juga hilang tak jelas rimbanya. Seperti yang dialami Maryam (27), warga Dusun Beleke, desa Beleke, kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar).

Maryam berangkat menjadi TKI ke negeri Malaysia pada Januari 2003 silam. Namun hingga kini, putri pasangan almarhumah Jamilah dan almarhum Mahsun itu tidak jelas keberadaaannya. Jangankan berkirim uang, kabar beritanya pun tak diperoleh keluarganya.

Berdasarkan penuturan Inaq Sahnah yang merupakan bibi dari Maryam Rabu (20/7) kemarin, Maryam berangkat pada tahun 2003 lewat PT. ERA Cabang Surabaya. Adapun Petugas Lapangan (PL) atau yang biasa disebut tekong yang memberangkatkan Inamah bernama Bangsawan asal Perumahan Kekaliq Ampenan Mataram. Pihak keluarga pun sempat mencari Bangsawan, namun tetap tidak ada kabar yang diperoleh. “Kami meminta agar PT yang memberangkatkan bisa bertanggung jawab. Pasalnya, sudah beberapa kali kami menanyakan kabar Maryam, namun tetap seperti ini,," ungkap Sahnah.

Diakui Inaq Sahnah yang biasa di panggil Inaq Reneq, keponakannya itu pada saat tiga bulan keberangkatannya memang sempat memberi kabar sebanyak dua kali melalui saluran telephon. Namun semenjak itu, Maryam yang berangkat ke Malaysia saat umur 19 tahun itu seperti di telan bumi.

Tak sampai disitu, setelah pengharapan akan kabar Maryam hampir pupus, di akhir tahun 2003 itu Maryam sempat mengirim surat ke keluarganya yang menyatakan saat itu dirinya bekerja bersama dengan orang India di negeri Jiran Malaysia. Dalam surat itu, dia mengatakan dirinya dalam keadaan baik-baik saja, namun sedih karena kangen kepada keluarga di Lombok Indonesia. Dalam surat terakhirnya itu, tertera alamat si pengirim yakni Jalan Girdre Nomor 4 Bukit Tungku, Kuala Lumpur, Malaysia. Namun sejak itu, kembali Maryam tak memberi kabar di mana posisinya.

Praktis, hal itu membuat keluarganya tak putus dirundung kesedihan. "Saya hanya bisa berdoa agar dia (Maryam, red) masih hidup dan bisa kembali ke rumah. Tidak membawa uang juga tidak apa-apa," kata Inaq Sahnah. Dengan wajah sedih, Inaq Sahnah berkisah, ia terakhir bertemu dengan keponakannya itu pada 2003 silam. “Saat itu, Maryam hendak ke Hongkong, namun batal dan akhirnya berangkat ke Malaysia,” tuturnya seraya menyatakan kalau tahu begini jadinya, tentu keluarga akan melarang Maryam pergi.

Yang lebih parah lagi, tutur Inaq Sahnah, ketika melihat berita di televisi tentang nasib TKI di luar negeri, dirinya pun sedih. “Mungkin melalui ini kami menyimpan pengharapan agar pemerintah turut membantu kami mencari keberadaan Maryam,” harapnya. (smd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar