Pulau Lombok yang dikenal dengan pulau seribu masjid
yang semula aman dan adem ayem dari berbagai isu negative, tiba-tba dikejutkan
dengan munculnya isu penculikan anak yang kini sudah mulai makan korban. Dan tidak
tanggung-tanggung korbannya pun adalah orang-orang yang sudah diamankan petugas
keamanan di sel tahanan.
Isu penculikan anak yang konon akan diambil organ
tubuhnya itu, mulai merebak sejak bulan
lalu, namun isu itu tidak begitu dihiraukan oleh mayarakat yang tinggal di
pulau Lombok. Isu itu mulai menjadi
bahan pembicaraan, setelah munculnya berita adanya penyerbuan ribuan warga di
kantor Mapolsek Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat yang menewaskan salah
seorang yang diduga melakukan penculikan.
Tak ayal isu tersebut begitu cepat merebak di pulau
Lombok khususnya dan provinsi Nusa tenggara Barat (NTB) secara umum, karena
selain sebgai headline beberapa media cetak, juga menjadi berita semua TV
swasta secara nasional. Berbarengan dengan kejadian tersebut, tersebar isu
menyesatkan melalui pesan singkat yang mengatasnamakan Kapolres Mataram, yang
isinya meminta agar warga tetap waspada terhadap penculikan anak. Para penculik
disebutkan menggunakan mobil Avanza.
Kendati pesat singkat itu sudah dibantah oleh Kapolres
Mataram dan disebut sebagai isu yang menyesatkan, namun tetap saja menyebar di
kalangan masyarakat luas. Anehnya sebagian masyarakat ditingkat bawah
mempercayai pesan singkat tersebut dan menyebarkan kepada keluarga dan
kawan-kawannya.
Kejadian di Kediri pada 21/10 dan pesat singkat tersebut kini menjadi bahan
pembicaraan warga. Isu penculikan anak di pulau lombok, membuat warga
benar-benar was-was. Masyarakat semakin cepat terpancing jika menemukan orang
asing dengan gelagat mencurigakan.
Pada hari yang sama, korbanpun bertambah yaitu seorang
pria yang diketahui bernama I Putu Suarjana tewas setelah dihakimi massa di
wilayah kota air Narmada. Jenazah korban telah dikembalikan ke pihak keluarga
untuk di makamkan.
Sebelum tewas korban dicurigai warga sebagai anggota
penculik anak. Namun pihak keluarga membantah hal tersebut. Pasalnya, korban
yang berprofesi sebagai sales marketing itu adalah seorang pekerja keras dan
sangat perhatian kepada keluarga.
“Kalau untuk pekerjaan seperti itu saya sangat yakin
dia tidak begitu. Hubungan korban dengan masyarakat juga terkenal baik,” tutur
Gede Made Sarjana, salah satu anggota keluarga korban.
Senin, 22/10,
dua korban kembali jatuh dan cukup mengerikan, yakni cara dibakar masa Ironisnya
tewas tak jauh dari Polsek Kute, setelah kedua korban sempat mengamankan diri
di Polsek setempat. Kedua korban yakni Dedi dan Ibeng keduanya diketahui
sebagai warga Ngali Bima. Massa membakar kedua orang tersebut berikut satu unit
sepeda motor karena diduga sebagai pelaku penculikan.
Menurut saksi mata di TKP menyebutkan, sekitar pukul
10.00 Wita, kedua korban sedang membeli
minum di warung Inaq Supi (perempatan Dusun Batu Riti Ds. Kuta) untuk membeli
minuman, yang kemudian keduanya didatangi petugas Polsek Kuta karena adanya
laporan dari warga sekitar salah satunya a.n Jeri, bahwa kedua orang tersebut
diduga pelaku penculikan. "Kedua korban kita kenal dan tidak mungkin
sebagai pelaku penculikan,"katanya.
Menurutnya, sepeda motor yang digunakan diamankan di
kantor Polsek Kuta untuk diperiksa sekaligus untuk diamankan agar tidak
dihakimi massa, karena dikhawatirkan adanya tindakan main hakim sendiri oleh
masyarakat sekitar.
Massa yang sudah beringas berkumpul di Kantor Polsek
Kuta, dan memaksa agar kedua orang tersebut dikeluarkan. Massa yang sudah emosi
kemudian mengambil sepeda motor milik korban dan membakarnya di lapangan
sebelah Kantor Polsek Kuta. Massa kemudian melanjutkan pengerusakan kantor
Polsek dan berhasil membawa paksa kedua orang tersebut ke lokasi pembakaran
sepeda motor yang kemudian turut membakar kedua orang tersebut. "Massa
banyak dan tidak bisa di bendung, sambil melempar kantor Polsek,"tegasnya.
Kapolres Lombok Tengah AKBP Budi Karyono, membenarkan
adanya dua orang yang di duga sebagai pelaku penculikan di hakimi massa hingga
tewas. Sampai saat ini pihaknya masih menyelidiki motif penganiayaan dan
menyebarnya isu penculikan ini. "Kami masih mendalami motif penyebaran isu
penculikan ini,"katanya.
Akibat isu tersebut, warga terutama ibu-ibu rumah
tangga, dihantui rasa was-was melepas anaknya berangkat sekolah. Bahkan ada
yang mengaku tidak berani keluar dari desanya, karena hawatir menjadi korban salah
sasaran warga yang sudah kadung termakan isu penculikan.
Korban sudah mulai berjatuhan, akibat isu penculikan
anak. Apakah ini karena lambannya penanganan isu meresahkan itu oleh berbagai
pihak serta lemahnya analisa masyarakat terhadap isu yang berkembang? Kita tidak perlu lagi saling menyalahkan.
Saatnya kita atasi bersama isu yang berkembang sebelum
banyak memakan korban. Bila tidak mulai
dari sekarang menjaga keamanan lingkungan kita, kapan lagi. Negara kita adalah
Negara hukum, jika ada orang yang mencurigakan sebaiknya diserahkan ke petugas
keamanan terdekat. Waspada!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar