Lombok Utara – Sabtu, 16 Juli 2011 adalah momentum berbahagia bagi santri/wati baru Pondok Pesantren Aljariyah Nahdlatul Wathan San Baro. Pasalnya, pada momen pengukuhan santi baru itu, ratusan santri baru dan santri lama diberi siraman pengetahuan oleh pimpinan ponpes setempat.
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Ponpes Aljariyah yang diwakili HM. Munir mengatakan bahwa santri baru yang diterima di ponpes setempat diharapkan supaya disiplin dalam belajar, disiplin menghargai waktu disiplin menghargai diri sendiri. Sebab, menurut Munir, orang yang sukses adalah orang yang mampu mengelola kedisiplinan seraya mencontohkan beberapa tokoh nasional maupun internasional yang telah berhasil gemilang meniti kariernya.
Penegasan tersebut ditekankan Munir agar para santri baru semangat dan berpacu dalam belajar menggapai prestasi. Ada beberapa santri yang bisa dijadikan teladan yang bisa dikategorikan sukses dalam belajar, misalnya Abdul Ghafur, M. Sirojul Munir, Titi Yuman Santri, Neli Iswanti dan lainnya. Selain itu, Ust/ah ponpes setempat termasuk orang-orang yang kualitasnya mempunyai dan terbukti mampu membawa santrinya menuju gerbang kesuksesan.
Ia mencontohkan pada perlombaan MTQ II KLU lalu, ada beberapa santri Aljariyah berhasil meraih prestasi, misalnya Neli Cs berhasil menjadi terbaik pertama pada lomba Syarhil tingkat SMA. Begitu juga dengan Sirojul Munir Cs berhasil memboyong piala cerdas cermat tingkat SMU pada MTQ II. “Ini cerminan kualitas lembaga pendidikan kita. Saya berharap para santri baru mengikuti jejak langkah kakak tingkat kalian,” ungkap Munir menyemangati.
Acara yang dimulai pukul 19.00 wita tersebut dibuka oleh Ustadz Rahman, salah seorang guru di ponpes Aljariyah, dan dihadiri para wali santri, santri baru dan santri lama serta guru-guru ponpes Aljariyah serta bertempat di Ponpes Setempat. Bertindak sebagai MC pada acara ini ialah dua santri terbaik Aljariyah, Abdul Ghafur dan Denda Ririn.
Pola belajar yang ditempuh di Ponpes Aljariyah, tutur Rahman adalah pola klasikal dan pola sharing. Ini ditempuh agar santri/wati terpancing untuk membuka gagasan dan pikirannya sehingga mampu menganalisa masalah yang dibahas. “Strategi ini kami ambil semata-mata untuk membuka cakrawala pikiran santri untuk memehami sekian banyak ilmu pengetahuan.
Kami yakin orang yang sukses ialah orang yang cakrawala pengetahuannya luas,” ucap Rahman. Ia memberi semangat bahwa Ponpes Aljariyah juga memiliki sumber daya murid yang unggul. Mereka ini tidak kalah dengan murid sekolah lainnya baik negeri dan swasta,” paparnya berbangga.
Dalam kesempatan tersebut, Rahman menyinggung kepedulian pemerintah untuk memajukan pendidikan. Pasalnya, hingga saat ini Ponpes Aljariyah belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal, Madrasah punya peran penting dalam memajukan dunia pendidikan, bahkan kualitasnya tak diragukan dalam panggung sejarah bangsa Indonesia.
Dulu, lanjut Rahman, di masa perjuangan merebut kemerdekaan, madrasah terbukti sebagai sentrum pergerakan melawan penjajah dan peran para laskar santri-santri ponpes waktu itu di medan peperangan sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan, sehingga tak heran kalau banyak pahlawan nasional kita berlatar belakang santri, seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cut Nyak Dien, dan banyak pejuang lainnya.
Seraya dengan Rahman, Warna juga mengatakan hal yang selinir, bahwa ia merasa kecewa dengan kepedualian pemerintah, sebab sejauh ini ia melihat pemerintah, dalam hal ini, dinas terkait belum serius memperhatikan sekolah-sekolah berbasis agama. Ini ia indikasikan dari masih adanya ketimpangan dalam penerapan kebijakan pendidikan. “Semestinya pemerintah menyamaratakan status sekolah swasta dan negeri walau dalam beberapa hal,” urainya kepada Mataramnews. Ketimpangan ini terutama terlihat dari bangunan fisik/gedung sekolah yang sangat berbeda kualitasnya. Di samping fasilitas dan sarana prasarana juga senjang. Kedepan, ia berharap kepada pemerintah supaya memberi perhatian yang sama terhadap sekolah swasta laiknya sekolah negeri. (DJ
Dalam kesempatan tersebut, pimpinan Ponpes Aljariyah yang diwakili HM. Munir mengatakan bahwa santri baru yang diterima di ponpes setempat diharapkan supaya disiplin dalam belajar, disiplin menghargai waktu disiplin menghargai diri sendiri. Sebab, menurut Munir, orang yang sukses adalah orang yang mampu mengelola kedisiplinan seraya mencontohkan beberapa tokoh nasional maupun internasional yang telah berhasil gemilang meniti kariernya.
Penegasan tersebut ditekankan Munir agar para santri baru semangat dan berpacu dalam belajar menggapai prestasi. Ada beberapa santri yang bisa dijadikan teladan yang bisa dikategorikan sukses dalam belajar, misalnya Abdul Ghafur, M. Sirojul Munir, Titi Yuman Santri, Neli Iswanti dan lainnya. Selain itu, Ust/ah ponpes setempat termasuk orang-orang yang kualitasnya mempunyai dan terbukti mampu membawa santrinya menuju gerbang kesuksesan.
Ia mencontohkan pada perlombaan MTQ II KLU lalu, ada beberapa santri Aljariyah berhasil meraih prestasi, misalnya Neli Cs berhasil menjadi terbaik pertama pada lomba Syarhil tingkat SMA. Begitu juga dengan Sirojul Munir Cs berhasil memboyong piala cerdas cermat tingkat SMU pada MTQ II. “Ini cerminan kualitas lembaga pendidikan kita. Saya berharap para santri baru mengikuti jejak langkah kakak tingkat kalian,” ungkap Munir menyemangati.
Acara yang dimulai pukul 19.00 wita tersebut dibuka oleh Ustadz Rahman, salah seorang guru di ponpes Aljariyah, dan dihadiri para wali santri, santri baru dan santri lama serta guru-guru ponpes Aljariyah serta bertempat di Ponpes Setempat. Bertindak sebagai MC pada acara ini ialah dua santri terbaik Aljariyah, Abdul Ghafur dan Denda Ririn.
Pola belajar yang ditempuh di Ponpes Aljariyah, tutur Rahman adalah pola klasikal dan pola sharing. Ini ditempuh agar santri/wati terpancing untuk membuka gagasan dan pikirannya sehingga mampu menganalisa masalah yang dibahas. “Strategi ini kami ambil semata-mata untuk membuka cakrawala pikiran santri untuk memehami sekian banyak ilmu pengetahuan.
Kami yakin orang yang sukses ialah orang yang cakrawala pengetahuannya luas,” ucap Rahman. Ia memberi semangat bahwa Ponpes Aljariyah juga memiliki sumber daya murid yang unggul. Mereka ini tidak kalah dengan murid sekolah lainnya baik negeri dan swasta,” paparnya berbangga.
Dalam kesempatan tersebut, Rahman menyinggung kepedulian pemerintah untuk memajukan pendidikan. Pasalnya, hingga saat ini Ponpes Aljariyah belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Padahal, Madrasah punya peran penting dalam memajukan dunia pendidikan, bahkan kualitasnya tak diragukan dalam panggung sejarah bangsa Indonesia.
Dulu, lanjut Rahman, di masa perjuangan merebut kemerdekaan, madrasah terbukti sebagai sentrum pergerakan melawan penjajah dan peran para laskar santri-santri ponpes waktu itu di medan peperangan sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan, sehingga tak heran kalau banyak pahlawan nasional kita berlatar belakang santri, seperti Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cut Nyak Dien, dan banyak pejuang lainnya.
Seraya dengan Rahman, Warna juga mengatakan hal yang selinir, bahwa ia merasa kecewa dengan kepedualian pemerintah, sebab sejauh ini ia melihat pemerintah, dalam hal ini, dinas terkait belum serius memperhatikan sekolah-sekolah berbasis agama. Ini ia indikasikan dari masih adanya ketimpangan dalam penerapan kebijakan pendidikan. “Semestinya pemerintah menyamaratakan status sekolah swasta dan negeri walau dalam beberapa hal,” urainya kepada Mataramnews. Ketimpangan ini terutama terlihat dari bangunan fisik/gedung sekolah yang sangat berbeda kualitasnya. Di samping fasilitas dan sarana prasarana juga senjang. Kedepan, ia berharap kepada pemerintah supaya memberi perhatian yang sama terhadap sekolah swasta laiknya sekolah negeri. (DJ
Home
Tidak ada komentar:
Posting Komentar