Sabtu, 19 November 2011

Pemda-PDAM Telat Bertindak

Lombok Utara — Nasi sudah menjadi bubur. Kantor PDAM Menang Mataram cabang Bayan sudah rusak akibat aksi penolakan kenaikan tarif. Karyawan PDAM tidak tenang bekerja, masyarakat pun sudah terlanjur marah, kecewa dan benci dengan PDAM. Pertemuan setelah keributan di Bayan yang digelar kemain akhirnya menjadi ajang mencari pembenaran masing-masing pihak. Pemda KLU dan pihak PDAM Menang Mataram dianggap lambat dalam merespons potensi konflik air minum ini.

Dalam pertemuan mendadak kemarin hadir Bupati KLU H Djohan Sjamsu, Wabup H Najmul Akhyar, Direktur PDAM Menang Mataram HL Ahmad Zaini dan para kepala desa. Bupati menyesalkan tindakan anarkis yang terjadi. Bupati mengatakan, mestinya ada dialog ketika ada persoalan di masyarakat. Sayangnya penyesalan bupati itu sudah terlambat. Sebab jauh hari sebelumnya masyarakat sudah menyuarakan keluhan soal kenaikan tarif. Malahan Kepala Desa Tanjung Datu Tashadi Putra sampai mengeluarkan statemen rencana boikot pembayaran air lantaran kenaikan itu.

Bupati sendiri menyatakan kecewa dengan kenaikan tarif itu. Sebab, ketika tarif itu naik tidak ada pemberitahuan dari pihak PDAM. Memang, PDAM Menang Mataram menjadi milik Lombok Barat dan Mataram, hanya saja sebagian pelanggan dan sumber air yang dimanfaatkan berasal di KLU. ‘’Mestinya komunikasi dengan kita dulu,’’ kata bupati.

Pihak PDAM memang pernah menjelaskan pada bupati tentang kenaikan tarif itu yang dalam bahasa PDAM sebagai penyesuaian tarif. Sayangnya pembicaraan itu hanya sebatas para pejabat tinggi, masyarakat pelanggan PDAM di bawah tidak tahu. Mereka hanya sadar ketika membayar tagihan bulan berikutnya sudah melonjak. ‘’Setiap apa pun bentuk pungutan pada masyarakat mestinya harus dikomunikasikan,’’ katanya.

Dalam kesempatan tersebut bupati menyalahkan aparatnya yang ada di bawah. Kenapa saat ada demonstrasi tidak mengarahkan masyarakat ke kantor pusat PDAM yang ada di Mataram. Akhirnya ketika massa berkumpul dan marah mereka merusak kantor PDAM. ‘’Namanya saja orang banyak sulit untuk dikontrol,’’ katanya.

Sementara itu, terkait tuntutan warga untuk pemutihan tunggakan, menurut bupati, hal itu  bisa saja menjadi pemicu aksi demostrasi yang berakhir ricuh tersebut. Pernyataan bupati ini berdasarkan data yang disodorkan oleh pihak PDAM. Tuntutan warga agar KLU mengambil alih PDAM, dinilai bupati belum saatnya. Jumlah pelanggan sekitar 5.000 belum cukup untuk membiayai operasional perusahaan plat merah itu. ‘’Ada keinginan kita ke sana ke depan,’’ katanya.
Dengan jumlah pelanggan yang masih sedikit tentunya bisa membebani APBD. Jumlah karyawan yang cukup banyak serta gaji yang cukup tinggi bagi para pimpinan membuat pengambilalihan PDAM belum layak dilakukan saat ini.

Sementara itu, Direktur PDAM Menang Mataram, HL Ahmad Zaini, mengungkapkan, aksi demonstrasi di Bayan itu bisa saja ditunggangi sekelompok orang. Dia menyebut warga yang menunggak dan pernah ditagih. Warga ini marah dan diduga ikut menunggangi aksi yang berakhir ricuh itu. Untuk kenaikan tarif Zaini mengklaim sudah melalui prosedur, termasuk besarnya tarif yang ditentukan. Sebelum kenaikan itu, PDAM mengontrak Fakultas Ekonomi Universitas Mataram untuk melakukan survei. Dari hasil survei itu, sebesar 75 persen menyatakan setuju dengan kenaikan.  ‘’Hasil kajian FE Unram ini pernah juga kami rapatkan dengan YLKI dan badan pengawas,’’ katanya.

Tarif air PDAM Menang Mataram termasuk murah, untuk 1 kubik dihargakan Rp 450, yang belakangan naik menjadi Rp 650. Tarif tersebut menurutnya sangat kecil. ‘’Sangat murah,’’ ujarnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKAD) KLU, Jauhari, mengatakan, PDAM boleh saja mengklaim sudah melakukan tahapan kenaikan tarif itu sesuai prosedur. Hanya saja selama ini PDAM tidak pernah sosialisasi dan melibatkan Pemda KLU. ‘’KLU memang tidak memiliki saham berupa uang di PDAM, tapi sumberdaya yang diambil selama ini ada di KLU. Mestinya ketika ada kenaikan tarif dibicarakan dulu dengan Pemda KLU,’’ kata Kades Gondang ini.

Dia juga menyayangkan PDAM dan pemerintah yang lamban merespons. Setelah ada keributan barulah digelar pertemuan dan sosialisasi. Malahan, Jauhari menyebut, seandainya tidak ada pertemuan kemarin, masyarakt Gondang pun akan demonstrasi ke kantor PDAM. ‘’Sebelum naik itu mestinya dilakukan sosialisasi,’’ katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Anyar, Windi Al Bayani, membantah tudingan dari Direktur PDAM yang menyebutkan ada warga yang menunggak membayar sebagai salah satu penggerak massa yang demo. Dikatakan jumlah yang menunggak itu sedikit, selain itu warga yang menunggak membayar lantaran naiknya tarif. ‘’Kenaikan tarif inilah yang menjadi pemicu warga tidak mau membayar,’’ katanya. (fat) Sumber: www.lombokpost.co.id



Selengkapnya... »»  

PDAM Putuskan Aliran Air ?

Lombok Utara - Setelah aksi yang berakhir ricuh pada Rabu (16/11), berkembang isu aliran air PDAM di Kecamatan Bayan terputus. Informasi yang koran ini dapatkan, pemutusan air itu sengaja dilakukan di bagian hulu. Aliran air PDAM mulai dari Desa Karang Bajo hingga ke bagian bawah macet sejak Rabu malam. Masyarakat menduga macetnya air pada Rabu malam itu lantaran disengaja.

 ‘’Mereka (PDAM, Red) sepertinya mau menantang. Kalau begini caranya silahkan sekalian bongkar pipa mereka dan bawa pulang ke Lombok Barat,’’ kata salah satu tokoh pemuda Bayan, Lalu Yanis Maladi.

Dituturkan Yanis, air yang mengalir ke rumah warga debitnya kecil malahan ada beberapa rumah yang macet total. Saat aksi itu memang warga sempat mematahkan penutup salah satu pipa di depan kantor PDAM, air pun berhamburan. Namun yang dirusak massa itu hanya pipa kecil, kecil kemungkinan sampai memengaruhi aliran air ke rumah warga. Dicurigai jika ada aksi penutupan, pengurangan debit dari bagian hulu.

Dikatakan, selama ini PDAM mengambil air dari mata air di Pawang Mandala dan Bangket Bayan. Mata air itu berada di kawasan hutan adat. Selama ini PDAM tidak pernah membeli air maupun berkontribusi menjaga kelestarian hutan adat itu. PDAM mengambil gratis lalu menjualnya dengan harga mahal.

Adanya dugaan pemutusan aliran air ini, menurut Yanis, bisa memancing emosi masyarakat kembali. Tidak menutup kemungkinan massa yang lebih besar lagi akan mendatangi PDAM. Malahan dia menyarankan agar PDAM Menang Mataram untuk angkat kaki dari KLU selamanya.

 ‘’Apa perlu kita bantu bongkar pipanya, dan sekalian angkut kantornya yang ada di KLU untuk dibawa pulang ke Lombok Barat,’’ katanya.

Dia juga membantah tudingan Direktur PDAM Menang H Ahmad Zaini di salah satu media yang menyebutkan warga yang demo bukan masyarakat KLU. Menurut Yanis, perkataan Zaini itu tidak berdasar dan memancing kemarahan masyarakat.

Dikatakan Yanis, massa yang demo sudah membuat surat pemberitahuan ke Polsek Bayan. Massa juga meminta untuk dialog dengan para petinggi PDAM. Masyarakat ingin menyuarakan langsung penolakan mereka atas kenaikan tarif, termasuk juga protes atas pelayanan yang tidak maksimal. Namun saat aksi itu tidak ada satu pun pejabat perusahaan plat merah itu yang muncul. ‘’Kok sekarang ngomong banyak di koran. Pas kita minta dialog tidak ada yang berani muncul,’’ katanya.

Yanis juga mendesak Pemda KLU dan DPRD KLU untuk mengambil langkah terkait kisruh PDAM ini. Adanya pemutusan air oleh PDAM dinilai sebagai tindakan provokatif. Pipa-pipa jaringan air yang dipakai PDAM selama ini merupakan pipa dari pemerintah yang mestinya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. ‘’Berapa tahun PDAM jual air ke masyarakat, sementara PDAM tidak pernah beli air dari hutan adat. Hutan adat itu milik masyarakat adat, bukan milik PDAM,’’ katanya.

Sementara itu pimpinan PDAM di KLU, Kardi, membantah jika air yang macet itu lantaran disengaja. Dikatakan, macetnya air itu lantaran ada jaringan yang rusak. Kebetulan saja waktunya terjadi setelah aksi demonstrasi.  ‘’Tidak mungkin kami melakukan hal seperti itu,’’ katanya.

Menurut Kardi, pihaknya langsung memperbaiki jaringan yang rusak di bagian hulu itu. PDAM tetap mengalirkan air walau dalam kondisi pelayanan yang terganggu. Dengan kondisi kantor yang rusak, pelayanan air maupun pelayanan administrasi jadi terganggu.(fat) Sumber: www.lombokpost.co.id

Selengkapnya... »»  

Tolak Tarif PDAM, Warga Ngamuk

TANJUNG—Kekecewaan masyarakat Kecamatan Bayan atas kenaikan tarif air PDAM akhirnya memuncak kemarin. Ratusan warga yang mendatangi kantor cabang PDAM Menang merusak kantor tersebut.

Seluruh kaca jendela dan kaca pintu rusak akibat lemparan warga yang aksi di depan kantor PDAM yang berhadapan dengan kantor Polsek Bayan tersebut. Selain itu warga yang emosi merobohkan pagar besi serta membongkar papan kantor PDAM Menang Cabang Bayan. Beruntung seluruh karyawan PDAM Menang Cabang Bayan sudah mengamankan diri terlebih dahulu sehingga selamat dari amukan warga.

Aksi warga ini dipicu oleh kenaikan tarif PDAM yang mulai berlaku bulan lalu. Ketika terjadi kenaikan awal, masyarakat di Bayan termasuk juga di kecamatan lainnya di KLU menyuarakan protes. Malahan di Tanjung sendiri sempat berkembang isu warga tidak mau membayar kenaikan tarif yang tidak pernah disosialisasikan ke masyarakat KLU.

Awalnya aksi yang dimulai pukul 08.30 Wita ini berjalan damai. Warga yang aksi kumpul di depan terminal Anyar Kecamatan Bayan. Dari arah terminal warga kemudian jalan ke Utara menuju Kantor PDAM. Setidaknya sekitar 30 orang warga yang ikut dalam aksi tersebut.

Sesampainya di depan kantor PDAM yang sudah dijaga aparat kepolisian dan TNI itu warga melakukan orasi sambil membentangkan spanduk, pamflet. Dalam orasinya mereka menolak kenaikan tarif PDAM Menang. Mereka menuntut tarif PDAM diturunkan.

‘’Mereka mengambil air dari Bayan. Mereka enak saja mengambil air yang dijaga oleh masyarakat,’’ kata Korlap Aksi L Lukman Hakim.
Saat melakukan orasi di depan kantor PDAM, massa meminta dipertemukan dengan pimpinan PDAM. Saat melakukan orasi inilah warga lainnya yang tinggal di sekitar Anyar keluar rumah. Selain itu beberapa warga yang melintas juga turun dari kendaraan mereka. Lambat laun jumlah massa bertambah banyak. Setidaknya 200 orang lebih berdiri di depan kantor PDAM.

Saat itulah massa yang emosi mulai beringas. Awalnya mereka meminta masuk ke kantor PDAM untuk mencari karyawan untuk dialog. Entah siapa yang memulai tiba-tiba saja terdengar suara kaca pecah. Rupanya ada yang melempar. Saat itulah warga yang sejak awal terlihat marah ikut melempar. Tidak hanya menggunakan batu, mereka juga membongkar trotoar dan menggunakan paving untuk melempar.

Warga juga merangsek masuk. Aparat kepolisian dan TNI yang jumlahnya sedikit tidak bisa membendung massa yang jumlahnya ratusan dan terus bertambah banyak. Pagar besi kantor PDAM pun roboh. Termasuk papan kantor yang kokoh dirobohkan massa. Warga yang masuk ke halaman kantor PDAM makin beringas melempar.

Sementara di atas sound system, masyarakat yang orasi dan meminta untuk tidak anarkis tidak diindahkan massa yang sudah terlanjur marah. Rupanya tidak hanya massa yang berkumpul di depan kantor PDAM saja yang melempar. Warga yang berada di belakang dan gang samping kantor PDAM pun ikut melempar. Aparat berusaha mencegah mereka, namun warga tidak bisa dibendung lantaran terlalu banyak.

Camat Bayan Fahri yang turun menenangkan massa tidak digubris. Begitu juga Kades Anyar Windi Al Bayani dicueki warga yang demo. Warga makin beringas dan terus melempar tanpa bisa dibendung aparat.

‘’Yang demo ini tidak semuanya dari Anyar. Hampir seluruh kecamatan Bayan,’’ kata Windi.

Kapolsek Bayan Ipda Kadek Metria yang beberapa kali menenangkan massa dan meminta untuk tidak melempar tidak dihiraukan massa. Bahkan ketika aparat berdebat dengan salah satu tokoh pemuda yang dicurigai memprovokasi, massa mengarahkan amarahnya pada aparat. 
Bahkan warga mengancam akan merusak kantor Polsek Bayan jika ada masyarakat yang diperiksa terkait perusakan tersebut. Begitu juga dengan Danramil Bayan Kapten R Sugondo dan anak buahnya yang membantu berjaga tidak bisa mencegah aksi anarkis tersebut. Jumlah personil di lapangan memang terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah warga yang aksi. Setiap menit, jumlah warga yang aksi bertambah banyak.

Hingga pukul 09.40 wita, massa terus saja melakukan pelemparan. Negosiasi yang dilakukan aparat tidak mempan. Seruan para orator agar tidak anarkis dicueki warga yang terlanjur marah. Bahkan massa makin beringas. Setelah berhasil membobol pagar besi kantor PDAM, warga membawa lari pagar itu.

Sekitar pukul 90.50 wita, kemarahan warga mulai reda. Namun dialog yang diharapkan tidak bisa dilakukan, mengingat tidak ada satu pun karyawan yang ada di kantor. Selain itu dikhawatirkan masyarakat yang emosi bisa meluapkan kemarahannya pada karyawan PDAM.

‘’Jangan sampai kita mengganggu karyawan PDAM. Mereka saudara kita juga, mereka orang KLU. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kenaikan tarif. Pejabat PDAM itu dari Lombok Barat dan Mataram,’’ teriak Nasrudin salah seorang orator.

Sempat terjadi perdebatan ketika massa meminta untuk melakukan penyegelan kantor PDAM. Aparat yang berjaga melarang dengan alasan khawatir warga akan lebih anarkis kalau sampai masuk ke dalam kantor. Warga lalu meminta aparat yang menyegel kantor tersebut. Setelah ada negosiasi, perwakilan warga lah yang kemudian menyegel kantor PDAM tersebut dengan memasang spanduk.

‘’Kami berharap tidak ada aktivitas dulu di kantor PDAM sampai masalah ini selesai,’’ katanya.

Dalam orasi beberapa tokoh pemuda saat aksi kemarin mereka menyerukan untuk menolak kenaikan tarif PDAM. Yanis menyebutkan masyarakat kecamatan Bayan yang masih miskin dicekik dengan harga air yang mahal. Padahal selama ini sumber air yang dijual PDAM tersebut berasal dari Bayan.

‘’Masyarakat kita yang menjaga hutan dan mata air,’’ katanya.(fat)


Warga Boikot Pembayaran

DALAM aksi kemarin, warga juga menyerukan pemboikotan pembayaran air PDAM. Bagi warga yang belum membayar diminta jangan membayar dulu. Selain itu warga diminta untuk tetap kompak menyuarakan penolakan terhadap tarif air.

Koordinator lapangan aksi ini L Lukman Hakim menegaskan warga Bayan dan bahkan seluruh warga di KLU menolak kenaikan tarif air PDAM. Menurutnya kenaikan tarif tidak pernah disosialisasikan. Selain itu kenaikan tarif PDAM tidak transparan. Masyarakat tidak tahu komponen biaya apa yang naik.

‘’PDAM ini mengambil air dari KLU. Mereka tidak butuh solar untuk operasikan mesin, mereka tidak keluar biaya untuk membeli air. Tapi mereka menjualnya dengan harga mahal, lebih mahal dari listrik,’’ katanya.

Selain itu warga juga mendesak agar PDAM Menang yang saat ini masih dikuasai oleh Lombok Barat dan Mataram diambil alih pemerintah KLU. Dikatakan Lukman dengan diambil alihnya PDAM oleh pemerintah KLU tarif air tidak akan mencekik seperti saat ini. Menurutnya, selama ini masyarakat KLU tidak lebih sekadar menjadi sumber keuangan pemerintah Lombok Barat dan Mataram. ‘’Pemerintah KLU harus mengambil alih,’’ katanya.

Sekitar pukul 10.00 Wita Wakapolres Lombok Barat Kompol Cheppy AH dan Kabag Ops Polres Lobar Kompol Muhamad Lutfi tiba di lokasi demo. Saat itu massa sudah membubarkan diri.

‘’Tadi kami ada operasi imbangan di Pelabuhan Bangsal, begitu dapat kabar keributan kami langsung meluncur kesini,’’ kata Cheppy.
Cheppy bersama Lutfi meninjau langsung kondisi bangunan yang sudah rusak. Beberapa aparat kepolisian memasang police line di sekitar kantor PDAM.

‘’Sebagian besar aparat memang berada di Bangsal dalam kegiatan tersebut,’’ katanya. (fat) www.lombokpost.co.id

Selengkapnya... »»  

World Bank Minta Program GSC Lebih Variatif

Lombok Timur - Tim Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Generasi Sehat Cerdas (PNPM-GSC) Kec. Keruak menyambut dengan baik kehadiran Tim World Bank di Keruak – Lombok Timur rabu (16/11/11). 

Kedatangan Tim World Bank tersebut dalam rangka melakukan kunjungan kerja untuk mengetahui lebih jauh program – program yang telah dilaksanakan selama tahun 2011 ini di Kec. keruak. Turut mendampingi tim tersebut yakni dari PNPM Kabupaten dan Propinsi.

Kunjungan tersebut dipusatkan di Desa Keruak, yakni salah satu desa yang masih dalam tahap persiapan. Pemilihan Desa Keruak sebagai sampel desa yang dikunjungi ditentukan atas beberapa pertimbangan dari Tim PNPM Kab. Lombok Timur.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan diskusi seputar program – program yang telah dilaksanakan di Kec. Keruak. Beberapa program yang terlihat menyedot dana yang cukup besar menjadi fokus perhatian yang menghasilkan beberapa rekomendasi untuk revisi pelaksanaan PNPM-GSC pada tahapan selanjutnya.

Menurut Turmuzi Fasilitator GSC Kec. Keruak, “Jumlah dana yang terpakai di Kec. Keruak mencapai Rp. 1.95 M yang digunakan untuk beberapa kegiatan. Lebih dari Rp. 1 M terpakai untuk kegiatan di bidang pendidikan, Rp. 600 Jt lebih untuk  kegiatan di bidang kesehatan, sisanya adalah untuk dukungan layanan dan nonmultiyears yang berjumlah hampir Rp.200 Jt.”

Salah satu kegiatan yang menjadi perhatian World Bank adalah pemberian bantuan seragam sekolah bagi siswa SD/SMP yang mencapai lebih dari 500 siswa. Menurut mereka jumlah tersebut terbilang besar untuk 1 jenis kegiatan. Dengan mengurangi angka tersebut maka cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh PNPM. Oleh karenanya World Bank menyarankan agar tahun berikutnya PNPM GSC membuat program yang lebih variatif, sehingga banyak indikator yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kemajuan pelaksanaan PNPM-GSC.
Selengkapnya... »»  

Jumat, 18 November 2011

Disbudpar Gelar Lomba Foto Wisata

LOMBOK TIMUR - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) kabupaten Lombok Timur, menggelar lomba foto pada bulan Nopember ini dengan tema bertajuk masalah yang berkaitan dengan nuansa wisata yang ada di Lotim.

"Saat ini sudah mulai dibuka pendaftaraan untuk lomba fotografer tersebut, dengan tentunya peserta yang mengikuti kegiatan ini identitasnya harus jelas," jelas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Timur, H Gufranuddin.

Dipaparkan kegiatan lomba foto wisata ini dilakukan dalam rangka untuk mengugah hati masyarakat di Lotim untuk memiliki kesadaran yang tinggi  dalam pengembangan pariwisata di Lotim. Kegiatan lomba dibuka untuk masyarakat umum, insan media, pegawai negeri maupun swasta juga terbuka lebar untuk mengikuti kegiatan lomba tersebut. Sebab, diharapkan lomba foto ini mejadi peluang bagus dalam melakukan berbagai promosi pariwisata yang ada di Lombok Timur.

"Apalagi di Lotim terdapat lokasi wisata pantai maupun alam yang bisa dijadikan obyek pemotretan oleh para peserta lomba," katanya.
Menurutnya, itu yang diserahkan kepada panitia hanya satu foto saja, untuk kemudian dilakukan penilaian tim juri yang telah dibentuk panitia," tegas Gufranuddin.

Ia  mengatakan hasil pemotretan yang dilakukan oleh peserta akan dijadikan arsip bagi Dinas Budpar Lotim untuk dijadikan sebagai bahan promosi wisata Lotim.

Yang menjadi kriteria penilaian dalam lomba ini yakni sudut pengambilan gambar maupun lokasinya, dengan mengedepankan keindahan obyek wisata itu sendiri.(dy) Koran Berita
Selengkapnya... »»  

Rabu, 16 November 2011

Pertumbuhan Penduduk Indonesia 1,49 Pertahun

Bandung, Jawa barat - Hasil sensus tahun 2010, jumlah penduduk di Indonesia 237,6 juta.  Dan diperkirakan pada tahun 2011 ini meningkat menjadi 241 juta jiwa. Ini artinya peningkatan penduduk setiap tahun 1,49 persen.

Hal tersebut dikatakan, Latif Rochyara, Koordinator Advokasi dan Informasi JRK Jawa Barat, pada acara pelatihan dan sosialisasi pengembangan Komunikasi Informasi dan edukasi (KIE) program kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) melalui radio komunitas, di hotel Image Bandung (15/11).

Menurut Latif, program KB berhasil pada era Orde Baru. “Penekanan pertumbuhan penduduk di Indonesia melalui program KB lebih berhasil pada era Orba bila dibandingkan dengan era reformasi sekarang ini”, katanya.

Dikatakan, dengan membeludaknya jumlah penduduk  sudah tentu akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Karenanya sangat penting membatasi angka kelahiran melalui program KB.

Rakom dalam hal ini, lanjut Latif, tentu lebih tahu bagaimana caranya memberikan informasi dengan bahasa lokal setempat, sehingga warga komunitas bisa sadar akan pentingnya keluarga berencana. (ari)

Selengkapnya... »»  

Menimba Ilmu Dari Fasilitator

Bandung, Jawa Barat - Ramah, sopan dan selalu tersenyum. Demikianlah yang tampak di wajah gadis cantik  utusan  radio komunitas Rasi FM Garut Jawa Barat.

Gadis yang bernama lengkap Yusniar Nur Ekawati yang lahir di Desa Cisewu Kabupaten Garut ini bergabung dengan radio komunitas Rasi FM  pada bulan Maret 2011 lalu.

“Saya datang ke pelatihan ini karena diutus oleh pengurus Rakom Rasi FM dan ingin menimba ilmu dari para fasilitator”, kata gadis yang memiliki panggilan beken Anyun yang kini duduk pada semester III di Universitas Balai Bandung (UNIBBA).

Anyun yang memiliki suara lembut ini seperti tak mengenal lelah, kendati pelatihan dan sosiliasasi pengembangan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) program kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) selesai jauh malam, namun diraut wajahnya yang ayu selalu tersenyum.

Dalam kerja kelompok, Anyun dara manis Garut ini selalu aktif dan kompak bekerjasama dengan kelompoknya. Bahkan oleh kelompoknya ia dipercaya sebagai memperesentasikan hasilnya.

Itulah sosok penyiar Rasi FM, yang memilki suara lembut yang ikut pelatihan di Hotel Image Bandung yang tujuannya ingin menimba ilmu dan pengalaman sekaligus shering dengan fasilitator dan kawan-kawan rakom dari Indonesia. (ari) 



Selengkapnya... »»  

Selasa, 15 November 2011

Pemerintah KLU Mengutamakan Pembangunan Infrastruktur

Lombok Utara - Masa pemerintahan Bupati, H. Djohan Sjamsu dan Wakilnya H. Najmul Akhyar, lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur jalan, listrik dan air bersih.

“Untuk beberapa tahun kedepan kita utamakan pembangunan infrastruktur jalan untuk menggeliatkan ekonomi masyarakat”, kata Bupati KLU, H. Djohan Sjamsu, SH, ketika ditemui di Bandar Internasional Lombok (BIL) Kabupaten Lombok Tengah.

Selama setahun ini, kata bupati, tidak kurang sudah 300 km jalan desa yang bisa diperbaiki dan sebagiannya sudah diaspal.

“Kalau jalannya sudah baik, tentu transfortasi akan lancar, dan roda perekomnomian ditingkat desa pun akan menggeliat”, katanya.

Untuk mengatasi kemiskinan di KLU, lanjutnya pemerintah sudah melakukan berbagai terobosan, seperti memberikan bantuan permodalan bagi pedagang kaki lima. 

“Kita sekarang memiliki anggaran tidak kurang dari Rp. 400 miliar, yang 60 persen diantaranya untuk pembangunan. Dan kita tidak akan membangun kantor bupati dan dewan, sebelum  program pembangunan yang menjadi kebutuhan masyarakat KLU bia kita selesaikan”, janjinya.(ari)


Selengkapnya... »»  

Pelanggan PDAM Mengeluh, Pembayaran Minta Diturunkan

Lombok Utara – Ratusan pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Menang, mengeluhkan kenaikan pembayaran air hingga 20 persen lebih.

“Yang dijual air milik warga Dayan Gunung, namun yang menikmati hasilnya orang luar kabupaten yaitu kabupaten Lombok Barat”, ungkap puluhan pelanggan.

Menurut rencana pada hari Rabu 16 November, ratusan pelanggan akan melakukan aksi demontrasi menuntut penurunan pembayaran.

“Hari rabu ini, kita akan datangi petugas PDAM, yang bila tuntutan pelanggan khususnya penurunan harga permeter kubik tak diturunkan kita akan langsung hearing ke dewan KLU”, kata Lalu Lukman.

Menurut Lukman, kenaikan pembayaran yang dilakukan pihak PDAM tidak wajar, karena pelanggan yang biasa membayar Rp. 30 ribu perbulan tiba-tiba melonjak sampai Rp. 300 ribu/bulan.

Menanggapi hal tersebut bupati KLU, H. Djohan Sjamsu, ketika ditemui di Bandar Internasional Lombok (BIL) sebelum berangkat ke Jakarta mengatakan, persoalan ini kita akan bahas dalam waktu dekat ini.

“Insya Allah persoalan ini kita akan bicarakan dengan pemerintah Lombok Barat, karena KLU sendiri belum memiliki saham di PDAM, dan kenaikan yang diberlakukan belum dibicarakan dengan pemkab Lombok Utara”, katanya. (ari)
Selengkapnya... »»  

Ransel Diduga Bom, Pegawai DKP Panik

LOMBOK TIMUR - Sebuah tas ransel yang tergeletak di sekitar kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur, sempat membuat panik dan menghebohkan para pegawai dinas setempat, lantaran diduga berisi bom, Senin siang (14/11) kemarin. 

Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan temuan mencurigakan itu langsung mengisolir area dengan memasang garis polisi, untuk antisipasi hal yang tak diinginkan, termasuk mengeluarkan seluruh pegawai yang ada di kantor itu. 

Namun setelah seluruh proses identifikasi dan penyelidikan dilakukan, ternyata tas ransel tersebut hanya berisi pakaian.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, tas ransel yang diduga bom tersebut, pertama kali ditemukan Abah Fahmi, salah seorang kontraktor yang hendak bertamu ke kantor DPK Lotim. Tas ransel tak bertuan tertinggal di pinggir jalan, sehingga ia langsung mengamankan dan membawa masuk ke dalam kantor, untuk dititipkan, karena berpikir siapa tahu pemiliknya ada.

Tak berapa lama, muncul kecurigaan, jangan-jangan tas tersebut berisi bom sebagaimana marak diberitakan di media massa, sehingga temuan itu langsung diinformasikan kepada salah seorang anggota Polres Lotim, yang dikenal oleh Fahmi. Tak berapa lama petugas langsung datang dan mengamankan TKP.

“Saya tidak ada pikiran, apakah tas itu berisi bom atau tidak,” tutur Fahmi pada wartawan di TKP.

Hanya saja, berusaha mengamankan, kasihan pemiliknya nanti lelah mencari, bahkan saat itu, dirinya sempat meninggalkan tas ransel tersebut di dekat pintu kantor DKP tersebut.

“Saya sempat meninggalkan ransel ini, dan saat dating kedua kali, tas itu masih ada,” katanya, hal ini yang memunculkan kecurigaan jangan-jangan isinya bom, sehingga menginformasikan kepada petugas.

Waka Polres Lombok Timur Kompol Darsono Setia Adji didampingi Kasatreskrim AKP Yuyan Priatmaja dikonfirmasi di lokasi, membenarkan adanya penemuan tas ransel yang diduga berisi bom tersebut.

“Kita sudah amankan TKP, termasuk tas ransel tersebut,” katanya, seraya mengatakan, pihaknya telah menghubungi petugas penjinak Bom Brimob Polda NTB.“Kita masih menunggu petugas dari Polda,” tuturnya.

Tak berlangsung lama, sebelum petugas penjinak Bom Brimob Polda NTB datang, ternyata tas ransel yang diduga berisi bom tersebut, milik kades Pijot L Wang Sukma. Yang tertinggal di pinggir jalan sepulangnya dari kunker ke Jakarta, Senin malam kemarin. 

“Sebenarnya saya lelah mencari tas ini, bahkan telah menghubungi beberapa temen Kades,yang saat malam itu bersamaan pulang,” akunya, ternyata semua mengaku tidak tahu, dan ternyata oleh anaknya yang dating menjemut ditinggal di tempat ditemukan itu.

“Saya sejak dari rumah sudah khwatir, kalau ada yang menemukan, pasti akan dikira bom atau apa,” katanya, dan perkiraannya itu benar.

 “Untung ada salah seorang anggota bercerita, kalau ada ditemukan tas ransel loreng,didepan kantor DKP ini,” katanya, dan hal itu langsung diakui itu miliknya yang tertinggal semalam. 

“Ternyata tas ini tidak dinaikkan oleh anak saya yang dating menjemput,dikira milik rekan yang lain,” tandasnya. 

Meski sudah dibuktikan, tas ransel tak berisi bom, aparat Polres Lotim, tetap menunggu kedatangan tim penjinak Bom, “Sesuai aturan, meski bukan bom, tetap diperiksa,” sambung Waka Polres.(dy)KB
Selengkapnya... »»  

Minggu, 13 November 2011

Soal Trawangan, Semua Terayomi

Lombok Utara —Bupati KLU H Djohan Sjamsu terus menginginkan penyelesaian yang baik dalam kasus sengketa yang terjadi di Gili Trawangan. Kepada wartawan usai melepas Kafilah MTQ, Selasa lalu, Bupati mengatakan, pemerintah daerah menginginkan suasana di Gili Trawangan bisa tetap damai. Sebagai wilayah yang dikenal oleh dunia jangan sampai ternoda oleh situasi yang terus memanas.

‘’Tentu ingin tetap damai, masyarakat terayomi, pengusaha juga terayomi,’’ katanya.

Djohan mengungkapkan, jangan sampai ada lahan yang ada di Gili Trawangan tanpa pengakuan, lahan yang ada disana akan dioptimalkan untuk pengembangan pariwisata, dan masyarakat yang ada disana ikut terlibat dalam pengelolaannya. Sejauh ini antara warga dengan PT WAH terus diupayakan, dari 45 orang sudah 33 yang menyepakati, sisanya masih terus dimediasi. ‘’Sebisa mungkin kita selesaikan dengan jalan terbaik,’’ sambungnya.

Disinggung langkah pemerintah daerah dalam penuntasan persolan di Gili Trawangan yang bertolak belakang dengan anggota pansus Gili Trawangan dari DPRD, bahkan cenderung sering berbeda pandangan, bupati menegaskan, tidak ada pertentangan. Misi yang dilakukan antara eksekutif dengan legislatif untuk masalah Gili Trawangan adalah sama-sama mengembalikan situasi di Gili Trawangan nyaman.

‘’Tujuan kita sama, tidak ada itu berlawanan. Hanya cara kita dalam menyelesaikan saja yang berbeda,’’ pungkasnya.(feb) Sumber: Lombok Post
Selengkapnya... »»