Selasa, 30 Agustus 2011

Perbedaan Lebaran Jangan Dilestarikan!

SURABAYA – Pengamat pendidikan, Daniel M Rosyid, berpendapat "test case" kekuatan umat Islam dapat dilihat dari penentuan 1 Syawal 1432 Hijriah. Ia merujuk pada perbedaan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini yang tidak bersamaan.

Meski pemerintah menetapkan 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011, namun ormas Islam Muhammadiyah melaksanakan Hari Raya Idul Fitri pada Selasa, 30 Agustus 2011. Menurut Daniel, tentu aneh jika ada satu kelompok memutuskan wajib berbuka pada suatu hari, sementara kelompok lainnya memutuskan wajib berpuasa pada hari yang sama.

Dijelaskannya, tidak banyak yang menyadari bahwa imbauan agar pihak-pihak yang berselisih soal itu agar saling menghormati keputusan masing-masing sebenarnya hanya alat agar perpecahan umat Islam tetap lestari berkelanjutan. "Sesungguhnya para mukmin itu bersaudara (ikhwah), sehingga bila terjadi perselisihan hendaknya diselesaikan melalui musyawarah," ujar Daniel, Selasa (30/8).

Dengan kata lain, ia menilai perbedaan itu jangan diteruskan dan perlu dicarikan titik temu. Hal itu wajib dilakukan agar ditemukan perbedaan yang terus terjadi dalam penentuan 1 Syawal bisa diakhiri. Bukan malah membiarkan perbedaan tersebut awet tak terselesaikan dengan dalih saling menghormati.

Yang terjadi sebenarnya, kata dia, kesombongan kelompok dan elite ormas Islam yang tidak cukup berbesar hati untuk berendah hati menemukan kesepakatan. Apalagi soal 'hari apa, hari ini' sebenarnya hanya sebuah kesepakatan, bukan semata-mata perhitungan matematis. Karena itu, ia mengaku terus prihatin jika persoalan itu tidak juga dicarikan jalan keluar. Sebab yang dirugikan adalah umat Islam.Sumber: republika
Selengkapnya... »»  

Pemerintah Tetapkan 1 Syawal pada Hari Rabu, 31 Agustus 2011

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Agama Suryadharma Ali memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu (31/8). Hal ini berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang melibatkan Kementerian Agama, ormas-ormas Islam, instansi terkait dan tokoh-tokoh masyarakat yang melakukan pemantauan hilal.

Selain Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam juga menetapkan 1 Syawal 1432 H pada hari yang sama, yaitu Rabu (31/8). Dengan demikian, terjadi perbedaan Hari Raya Idul Fitri 1432 H antara Muhammadiyah dan pemerintah.

Walau demikian, diharapkan perbedaan ini tidak menjadikan ukhuwah Islamiyah antar umat Islam terganggu. Dan masing-masing pihak diharapkan menghormati satu sama lain.

Sidang Itsbat yang digelar di kantor Kementerian Agama Jakarta, Senin (29/8) malam ini juga dihadiri oleh perwakilan MUI, Ormas Islam, tokoh-tokoh agama dan undangan lainnya.
Selengkapnya... »»  

Pesan Akhir Ramadhan

Oleh : P Imron Nurtsani Lc

Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di pengujung bulan suci Ramadhan. Tamu agung itu kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan sebagai hadiah terbaik bagi kita semua. Deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihan karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya.


Andai Ramadhan bisa berpesan pada kita, maka inilah yang mungkin akan disampaikannya:

Pesan pertama: setelah aku pergi, jangan kau lupakan aku (puasa) karena aku akan datang kembali menghampirimu selama 6 hari di bulan Syawal itu tiada lain agar aku dan kamu senantiasa dekat, aku akan lebih dekat lagi ketika kau melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa ayyâmul baidh (tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan qamariyah), puasa Arafah, puasa Asyura, bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka). Itu semua tiada lain agar kau selalu mengingatku, sehingga aku pasti menunggumu di pintu ar Rayyân.

Pesan kedua: setelah aku pergi, jangan kau biarkan kitab suci Alquran bersampulkan debu, buatlah jadwal agar kamu bisa tetap membacanya seperti sediakala ketika aku ada bersamamu.

Ketahuilah bahwa Alquran itu salah satu gizi hatimu, dan Alquran merupakan salah satu yang dapat memberimu syafaat kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Puasa dan Alquran itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Alquran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah SWT memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Pesan ketiga: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan shalat malam walaupun kamu sanggup hanya melakukan beberapa rakaat saja, sungguh shalat malam mampu mendekatkanmu dengan Raja-ku.

Pesan keempat: setelah aku pergi, jangan kau tinggalkan kebaikan-kebaikan yang sudah kamu lakukan di saat aku ada di sisimu, ketahuilah bahwasanya Raja-ku senantiasa mencintai satu amalan kebaikan yang dilakukan tanpa henti walaupun itu sedikit. Sebagaimana sebuah hadis dari ’Aisyah RA, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).

Pesan kelima: saat aku pergi, duhai kasihku Muslimah jangan kau lepaskan kembali jilbabmu, karena di situ kehormatan dan kemuliaanmu terjaga, jangan kau memakainya karena aku, tapi pakailah ia karena Raja ku.

Pesan terakhir: Kun Rabbâniyyan walâ takun Ramadhâniyyan, jadilah kau insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, jangan kau beribadah hanya dibulan Ramadhan saja, karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu.

Wallahu A’lam. Sumber Republika.co.id
Selengkapnya... »»  

Senin, 29 Agustus 2011

Perbedaan penetapan Idul Fitri jangan rusak silaturahmi

Surabaya  - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur siap berbeda dalam Idul Fitri, namun perbedaan itu tidak boleh memutuskan silaturahmi warga NU-Muhammadiyah.

"Kalau Idul Fitri memang berbeda, ya tidak mungkin dipaksakan untuk sama, karena ada argumentasi dan ijtihad masing-masing. Kalau dipaksakan menjadi satu justru tidak wajar," kata Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim Prof H Zainuddin Maliki kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.

Menurut dia, masyarakat awam terlihat lebih siap dengan perbedaan itu dibandingkan kaum politisi, terbukti cara masyarakat awam menyikapi perbedaan awal Ramadhan dan Idul Fitri yang berjalan normal, dan hal itu tidak sampai memutuskan tali silaturrahmi antarmasyarakat.

"Perbedaan awal Idul Fitri tidak membuat masyarakat enggan bersilaturrahmi dengan tetangganya saat Idul Fitri datang, karena mereka merasa percaya dengan argumentasi masing-masing," kata Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) itu.

Bahkan, kata sosiolog Islam itu, masyarakat sudah menyadari bahwa awal Ramadhan dan Idul Fitri itu tidak mungkin dipaksakan untuk sama atau disatukan, kecuali hasil ijtihad dari para tokoh agama yang dianutnya memang sama.

"Kalau ada masyarakat awam yang tidak siap itu biasanya karena mereka dimanfaatkan oleh kaum elite untuk kepentingan politis dan masyarakat awam hanya menjadi korban. Jadi, masyarakat awam elite siap daripada politisi dalam berbeda Idul Fitri," ujar Ketua Dewan Pendidikan Jatim itu.(E011.Sumber Antara)
Selengkapnya... »»  

Bosscha: Lebaran pada 31 Agustus 2011

Bandung - Peneliti senior di Observatorium Bosscha - Bandung, Jawa Barat, Deva Octavian, menegaskan Idul Fitri 2011 atau 1 Syawal 1432 Hijriah akan terjadi pada 31 Agustus 2011.

Penentuan itu berdasar hasil dari pengamatan dan penerapan analisis ilmu astronomi. Oleh karena itu, ijtimak akhir Ramadhan 1432 Hijriah akan dilakukan pada pukul 10.04 WIB Senin, 29 Agustus.

"Tinggi bulan saat matahari terbenam 29 Agustus di seluruh wilayah Indonesia kurang dari dua derajat. Dari data tersebut, hilal tidak mungkin dilihat di wilayah Indonesia. Dengan begitu, 1 Syawal 1432 Hijriah terjadi pada 30 Agustus setelah maghrib. Jadi, masih ada Salat Tarawih pada 29 Agustus dan tidak ada tarawih pada 30 Agustus," ujarnya.

Dengan demikian puasa pada 1432 Hijriah kali ini berjumlah 30 hari. Meski begitu, rencananya sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1432 Hijriah akan dilakukan pada 29 Agustus.

"Makanya, tidak salah kalau yang menggunakan metode hisab dan rukyatul hilal dalam penentuan awal syawal akan berbeda. Sebab, 29 Agustus, hilal belum terlihat oleh mata karena dekat dengan matahari," katanya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul F Wibisono, mengatakan, Muhammadiyah sudah menentukan Idul Fitri 1432 Hijriah pada Selasa (30/8).

Keputusan itu merupakan hasil perhitungan hisab tim Muhammadiyah. Saat matahari terbenam pada hari ke-29 Ramadhan, posisi hilal ada di atas ufuk dengan ketinggian 1 derajat 55 menit.



35 petugas

Sebelumnya, peneliti Observatorium Bosscha - Bandung, Deva Octavian, mengatakan 35 orang akan diterjunkan dalam penentuan hari Lebaran atau 1 Syawal 1432 Hijriah. Personil sebanyak itu akan mengamati hilal pada 16 titik yang telah ditentukan.

Jumlah sebanyak itu merupakan gabungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Observatorium Bosscha, Rukyatul Hilal Indonesia, LAPAN, serta sejumlah perguruan tinggi. Sedangkan untuk pengamatan hilal akan dilakukan pada 29 dan 30 Agustus mulai pukul 16.00 WIB.

"Secara prinsip kerja dalam penentuan hari awal puasa dengan lebaran atau 1 Syawal tidak ada bedanya karena sama-sama mengamati hilal," ujarnya.

Jumlah pengamat dan titik pengamatan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1432 Hijriah lebih banyak dari pada pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadhan yang hanya melibatkan 30 orang untuk 14 titik saja.

Dia sampaikan, Kemenkominfo memang sengaja memperbanyak jumlah titik pengamatan hilal, hal itu karena lebih mempermudah pengamatan dan menjamin ketepatannya. Karena bisa jadi, pengamatan yang dilakukan di suatu daerah terhalangi, tapi di daerah lainnya bisa dilakukan. (ANT-215)
Selengkapnya... »»  

Hilal Rendah, Bakal Ada Perbedaan Penetapan 1 Syawwal?

JAKARTA—Perbedaan hari raya Idul Fitri, 1 Syawwal 1432 H di Tanah Air sulit dihindari. Menyusul ketinggian hilal pada 29/8 diseluruh wilayah Indonesia hanya 1-2 derajat di atas ufuk.

''Dalam kondisi itu, hilal tidak mungkin bisa diamati dengan mata telanjang,'' kata peneliti senior Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin, Kamis (26/8). Ia menambahkan bahwa potensi berbeda besar.

Kondisi ini, kata Thomas, berbeda dengan awal Ramadlan. Pada akhir Sya’ban tinggi bulan di Indonesia sekitar 7 derajat, cukup tinggi untuk bisa diamati. Dampak posisi hilal yang rendah itu maka, bagi kalangan yang menggunakan criteria wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk dengan prinsip wilayatul hukmi Indonesia), maka dipastikan Idul Fitri jatuh pada tanggal 30/8 .

Sedangkan kalangan yang memakai criteria visibilitas hilal (imkan rukyat), maka besar kemungkinan berhari raya pada 31/8. Menurut criteria tersebut, batas ketinggian hilal yang bisa dirukyat mesti berada pada di atas 2 derajat.

Thomas menekankan kemungkinan potensi pelaksanaan berbeda baik Idul Fitri ataupun Idul Adha. Menyikapi hal itu, selama belum ada kesamaan criteria, maka ia mengajak semua pihak saling menghormati. Tetapi, ke depan, ia menyarankan agar Indonesia memiliki criteria hilal yang satu. Terdapat tiga syarat utama untuk mewujudkannya. Indonesia sudah memenuhi dua syarat yaitu, batas wilayah dan otoritas tunggal dalam hal ini menteri agama. Tetapi, Indonesia belum memiliki kesamaan criteria.

Nahdlatul Ulama mendukung upaya penyamaan. Langkah intensif telah dilakukan. Tetapi disadari, kata Ketua Lajnah Falakiyyah Nahdlatul Ulama (NU), Ghazalie Masroerie, penyamaan tersebut membutuhkan sikap toleransi dari masing-masing pihak.

Ghazalie juga meminta semua pihak agar tak mengaitkan perbedaan berpuasa atau berhari raya dengan dua kutub ormas besar, NU dan Muhammadiyah. Opini seakan mengesankan kedua kubu itu berselisih akibat Ramadlan dan Syawwal berbeda, misalnya. Padahal, perbedaan yang terjadi tidak bersifat institusional, melainkan perbedaan pada metode dan kriteria penentuan hilal.

Sementara, NU belum menetapkan 1 Syawwal 1432 H. Penetatapan Idul Fitri dilakukan menunggu hasil rukyat yang digelar oleh NU pada 29 Agustus mendatang. Hasilnya, akan disampaikan dalam sidang istbat oleh pemerintah. NU sendiri akan menetapkan dan mengikhbarkan setelah mengetahui hasil sidang tersebut. Ia menegaskan, NU tak pernah menafikan metode hisab dalam penentuan awal bulan. Justru, metode itu digunakan pada tiap permulaan tahun.Sumber: Republika
Selengkapnya... »»  

Semburan Gunung Lokon Capai 500 Meter

Ancaman gunung Lokon di Kota Tomohon Sulawesi Utara terus saja berlangsung. Sepanjang Sabtu (27/8) terjadi 18 kali letusan dan mengeluarkan abu vulkanik setinggi 500 meter. Warga disekitar kaki gunung diminta waspada terhadap gunung Lokon yang terus menunjukan aktifitasnya.

Seperti disampaikan Bina, petugas pemantau gunung api Lokon dan Mahawu, gempa tremor kecil yang terus berlangsung mengakibatkan terjadinya letusan berulang-ulang di kawah Tompaluan. “Sepanjang Sabtu, tercatat 18 kali letusan diikuti lontaran abu vulkanik setinggi 300 meter hingga 500 meter,” ujar Bina.

Namun warga di kawasan Lokon tidak terlalu kuatir dengan letusan yang terjadi sebab abu vulkanik tertiup angin menjauh dari Kota Tomohon menuju Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa dan sebagian mengarah ke Kota Manado. “Angin bertiup kencang kearah Manado, jadi kami tidak begitu risau oleh gangguan abu vulkanik itu,” jawab Eki, warga Kinilow.

Sebelumnya, pada Jumat (26/8) telah terjadi 19 kali letusan vulkanik dan terus berlanjut hingga Sabtu (27/8). Diperkirakan aktivitas vulkanik gunung Lokon masih tetap tinggi sehubungan dengan genpa tremor kecil yang terus menggoyang dasar kawah Tompaluan. (jrksulut)
Selengkapnya... »»  

Minggu, 28 Agustus 2011

Akibat Dihakimi Massa, Maling Sapi Tewas

Lombok Utara - Sungguh na’as nasib Mustim alias Keleboh (44) warga Nyiur Bali Dusun Sambik Bangkol Desa Sambik Bangkol Kecamatan Gangga, Sabtu (27/08/2011) malam, sekitar pukul 01.30 wita dini hari, babak belur dihajar massa.

Pasalnya, ketika masyarakat warga Santong yang rutin melakukan ronda malam berkeliling kampung untuk memeriksa keadaan, tiba-tiba dikejutkan dengan kabar bahwa ada warga Veteran Melepah Desa Gumantar, Jaswandi alias Amaq Jas (40) kehilangan sapinya.

Menurut cerita dari berbagai sumber yang dihimpun MataramNews, bahwa Amaq Jas yang baru pulang dari taraweh dan tadarrus Alqur’an di masjidz, saat hendak istirahat dipondoknya, tiba-tiba dikejutkan dengan sapi miliknya sudah tidak ada dikandangnya.

Setelah mengetahui sapinya tidak ada dikandangnya, Amaq Jas pun berusaha untuk mengejarnya. Dan menurut Abdul Wahab (43) warga Sesait ketika ditemui diantara kerumunan massa di Puskesmas Kayangan, yang datang ingin menyaksikan dari dekat pelaku pencurian tersebut, mengatakan bahwa ketika A.Jas tidak mampu lagi melakukan pengejaran, lalu dia menghubungui warga masyarakat Santong yang sedang melakukan ronda.

Ketika pelaku pencurian Mustim melintas di Batu Mesir (jalan setapak menuju Senjajak yang sempit) Dusun Sempakok Desa Santong, langsung ditangkap dan diintrogasi. Namun karena Mustim ini menjadi bulanan amukan massa, lalu diambil langkah persuasif guna mengamankannya ke kantor Desa Santong.

Kapolsek Kayangan, Ipda Komang Sugatha, ketika dikonfirmasi suarakomunitas di ruang kerjanya, membenarkan tentang peristiwa yang menewaskan Mustim warga Nyiur Bali Dusun Sambik Bangkol Kecamatan Gangga tersebut, akibat dihakimi massa di desa Santong sekitar pukul 03.00 wita dini hari.

Dijelaskan Komang Sugatha, peristiwa yang menewaskan Mustim alias Keleboh warga Nyiur Bali itu, karena ketangkap basah sedang mencuri seekor sapi milik Jaswandi alias Amaq Jas Dusun Veteran Melepah Desa Gumantar Kecamatan Kayangan.

Warga masyarakat yang tengah ronda malam tersebut, memang sebelumnya dibuat resah oleh ulah para pencuri bercadar yang terjadi menimpa Amaq Suparman (45) yang sempat berduel dengan kawanan pencuri bercadar, beberapa waktu lalu di Sumur Pande Desa Sesait.

Sejak itulah, lanjut Komang Sugatha, warga masyarakat dengan bekerja sama dengan kelompok ronda dari desa tetangga untuk meningkatkan kewaspadaan, mengantisipasi terjadinya pencurian terutama sapi dibeberapa wilayah yang dianggap rawan pencurian.

Pencurian sapi yang terjadi akhir-akhir ini, yang mengakibatkan tewasnya Mustim yang ketangkap sedang membawa sapi hasil curiannya dari daerah Veteran Melepah,oleh masyarakat Santong yang sedang ronda di wilayah tersebut, membuat warga geger.

“Mustim ketangkap beserta barang buktinya berupa seekor sapi betina, oleh masyarakat Santong yang sedang aktif ronda malam,”kata Kapolsek berkumis tebal ini.

Dikatakan Kapolsek, bahwa Mustim sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, sempat dilarikan ke Puskesmas Kayangan sekitar pukul 05.00 wita untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, malang nasibnya, pada pukul 07.00 wita nyawanya tidak tertolong. ”Jenazahnya sudah kita serahkan ke pihak keluarganya,” jelasnya.
Menurut Kadus Sambik Bangkol Licatim yang mendampingi pihak keluarganya, mengatakan bahwa kasus tewasnya Mustim ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan. “Pihak Kepolisian, untuk penyelidikan lebih lanjut memerlukan hasil outopsi pihak dokter. Namun, pihak keluarganya yang diwakili oleh anak sulungnya Heri (23) tidak mengijinkan,” kata Licatim.

“Jadi masalah ini, selesai hingga disini dan jenazah Mustim kami bawa pulang untuk dimakamkan di tempat kelahirannya di Nyiur Bali Sambik Bangkol,” tambahnya.

Memang diakui Komang Sugatha bahwa, Mustim ini adalah pemain lama. Dalam catatan Kepolisian Sektor Kayangan, Mustim pernah diproses dalam kasus yang sama beberapa tahun silam. Dengan terjadinya peristiwa naas yang menimpa Mustim kali ini adalah untuk yang kedua kalinya. (Eko)
Selengkapnya... »»  

Sabtu, 27 Agustus 2011

Tiga truk Kayu Omprongan Ditahan

Lombok Utara — Sebanyak tiga truk kayu dari Kecamatan Bayan yangakan dijual pada petani tembakau di Lombok Tengah dan Lombok Timur ditahan oleh tim Polhut Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan Kelautan dan Perikanan (DPPKKP) KLU. Penahan itu untuk mengidentifikasi sumber kayu dan izin-izin yang mereka miliki.
Penangkapan tiga truk bermuatan kayu ini dilakukan di Dusun Lendang Bagian, Desa Gondang, Kecamatan Gangga. Truk bermbuatan kayu yang sudah dipotong kecil-kecil ini dihadang petugas tak jauh dari rumah kediaman Bupati KLU H Djohan Sjamsu. ‘’Penangkapannya sehabis salat Tarawih,’’ kata Kasi Keamanan DPPKKP KLU L Sahrip pada Suarakomunitas, kemarin.
Truk dengan nomor polisi DR 8553 KZ, DR 8561 DA, DR 8147 D itu awalnya tidak dicurigai membawa muatan kayu. Truk yang berangkat dari Desa Akar-Akar dan Desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan itu, menutup bagian atasnya dengan terpal. Cara seperti ini dilakukan sepertinya untuk mengelabui petugas. Tidak lazim muatan kayu ditutup rapat dengan terpal, pun demikian dengan pengirimannya dilakukan pada malam hari.
Dari hasil identifikasi petugas, truk-truk pembawa kayu itu memang dari kebun, bukan dari hutan. Hanya saja, sesuai dengan perda yang berlaku di KLU, setiap penebangan kayu dan pengangkutan harus ada izinnya. ‘’Ini sekaligus bagian dari sosialisasi perda,’’ katanya.
Ada dua orang pemilik kayu dalam truk itu, Sukanem dari Desa Akar-Akar dan Ketut Alit dari Desa Mumbul Sari. Sukanem mengaku kayu yang dia bawa itu sudah memiliki izin, baik izin penebangan dari pemerintah setempat dan izin usahanya ‘’Lengkap izin saya,’’ katanya.
Dituturkan Sukanem, kayu-kayu itu rencananya akan dibawa ke Montong Gamang, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Kayu sebanyak tiga truk itu sudah dipesan untuk kebutuhan pengovenan tembakau. ‘’Ada yang nampung di sana, nanti tinggal dipanggil warga yang mau membeli,’’ katanya. (Ayu)
Selengkapnya... »»  

Proyek Macet Lantaran Konflik Internal

Lombok Utara —Para tokoh masyarakat di Desa Bentek, Kecamatan Gangga menyoroti konflik internal yang terjadi di PT Suar Investindo Capital sebagai pelaksana proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Mereka khawatir adanya konflik itu bisa menggangu pekerjaan proyek dan ujung-ujungnya masyarakat sendiri yang merugi. ‘’Berbagai ketegangan yang terjadi di masyarakat justru pemicunya konflik internal di tubuh perusahaan ini,’’ kata tokoh masyarakat Bentek H Junaidi Arif.

Dia menyebut persoalan pembayaran tanah, rekrutmen tenaga kerja dan pemindahan  kantor yang berujung pada kurang kondusifitasnya kondisi di masyarakat. Dengan  kondisi seperti ini, proyek yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat itu  akhirnya menjadi terganggu. ‘’Proyek listrik ini sangat dinantikan masyarakat,’’  kata pria yang juga anggota DPRD KLU ini.

H Junaidi menyebut konflik internal di tubuh perusahaan itu terjadi lantaran para petingginya membuat kebijakan yang berbeda. Ada yang mengurus persoalan tanah,  tapi di belakangnya ada persoalan yang tidak dibeberkan secara terbuka pada  perusahaan. Ada juga yang memberikan janji-janji pada masyarakat. Akhirnya ketika  janji itu tidak dipenuhi, masyarakat komplain. ‘’Saya melihat ada dualisme  kepemimpinan di bawah,’’ katanya.

H Jun, panggilan akrabnya, meminta agar pihak PT Suar Investindo Capital bisa  memberikan ketegasan terkait persoalan di lapangan. Perusahaan harus tegas  menunjuk siapa sebenarnya perwakilan utama mereka di lapangan. Sebab pengalaman  selama ini, ada beberapa orang dari perusahaan yang bertindak sebagai direktur.

‘’Kami di bawah bingung, siapa sebenarnya atasan,’’ katanya. 
Beberapa orang tokoh masyarakat, tokoh pemuda yang hadir dalam undangan buka  puasa bersama di rumah kediaman Project Director, Hamid Chaniago, juga menyatakan  hal yang sama. Terjadinya beberapa persoalan di masyarakat lantaran adanya  indikasi dualisme kepemimpinan di perusahaan yang berpusat di Bali itu.
Sementara itu, Hamid Chaniago mengatakan, berbagai persoalan yang terjadi di
bawah dan masukan-masukan dari para tokoh masyarakat, tokoh pemuda akan  disampaikan pada jajaran direksi. Dalam kesempatan buka bersama itu dia  menegaskan, dirinya sebagai penanggungjawab proyek pembangunan PLTMH yang akan  menghsailkan listrik 6,7 MW itu. ‘’Saya sebagai direktur proyeknya dan SK-nya masih saya,’’ katanya menegaskan.
Kalau ada persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat, dia meminta para tokoh  masyarakat di Bentek bisa memberikan pemahaman pada masyarakat. Selama ini juga  berbagai persoalan yang muncul di lapangan banyak dibantu penyelesaiannya oleh  para tokoh masyarakat. ‘’Saya sangat mengharapkan dukungan dari para tokoh  masyarakat,’’ katanya.
Terkait jalannya proyek, saat ini akses jalan yang dibuat sudah hampir rampung.  Pelaksana proyek juga akan melakukan survei detail untuk rencana pembangunan  PLTMH Segara I dan Segara II. ‘’Setelah semuanya rampung barulah kami masukkan alat-alat berat,’’ katanya. (Ayu)

Selengkapnya... »»  

Inilah Amal Berbuah Cinta Allah

Oleh: Ustadz Aam Amiruddin

Orang yang paling bahagia adalah orang yang menjadi kekasih Allah. Seorang hamba yang menjadi kekasih Allah pasti akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amal saleh merupakan fondasi utama yang akan mengantarkan kita menjadi kekasih-Nya. Lalu, bagaimana caranya agar ibadah yang kita lakukan bisa mengantarkan pada cinta Allah SWT? Paling tidak ada lima kiat yang harus kita lakukan.

Pertama, lakukan ibadah dengan penuh cinta. Cinta manusia kepada Allah adalah puncak cinta manusia yang paling bening dan jernih. Cinta sebagai media untuk mengikat atau menghubungkan hamba dengan Allah. Adanya kerinduan ingin bertemu dengan Allah dan kerinduan kepadanya bukan hanya dengan berkomunikasi dalam bentuk shalat, doa, zikir, dan membaca Aquran tetapi diwujudkan juga dalam sikap istiqamah atau konsisiten dalam berpegang teguh pada ajaran Islam.

Rasulullah SAW mengingatkan, "Seorang hamba tidak disebut beriman kecuali bila aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya." (HR Bukhari).

Kedua, lakukan amal saleh secara maksimal sesuai dengan kemampuan. Seorang pengusaha tidak mungkin sukses tanpa mengalami rintangan. Seorang pelajar tidak mungkin menjadi ilmuwan tanpa melalui tahap pendidikan dan ujian. Begitu pula dengan surga. Seorang hamba yang berniat ingin meraih kenikmatan surga, tentu saja harus melewati tahapan ujian dari Allah.

Ketiga, mujahadah, yakni bersungguh-sungguh melakukan amal saleh sehingga setan tidak memiliki peluang untuk menggelincirkan manusia ke dalam kesesatan. Allah SWT akan memberikan petunjuk ke jalan yang diridai-Nya kepada orang yang ibadahnya disertai mujahadah.

Sifat mujuahadah ini tampak jelas pada Rasulullah SAW yang selalu melakukan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika itu, Aisyah RA bertanya, "Mengapa engkau lakukan hal ini (shalat malam), bukankah Allah SWT sudah mengampuni dosamu yang sudah lalu dan yang akan datang? Rasulullah SAW bersabda, "Bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, sabar ketika beramal. Ibadah apa pun, shalat, puasa, zakat, haji, shalat malam, maupun ibadah lainnya, hendaknya dilaksanakan dengan sabar. Kelima, berjamaah dalam melakukan amal saleh.

Sebuah peribahasa menyebutkan, "Seekor harimau tidak akan pernah menerkam kambing yang sedang berkelompok." Peribahasa itu menunjukkan, musuh takut akan perlawanan yang dilakukan secara berkelompok. Begitu juga setan. Ia akan kesulitan menggelincirkan manusia dalam kesesatan jika ibadah selalu dikerjakan secara berjamaah. Apalagi, ibadahnya disertai dengan keikhlasan yang murni karena Allah SWT.

"Tidaklah tiga orang penghuni desa atau penghuni pegunungan yang tidak mendirikan shalat berjamaah kecuali mereka telah dikuasai oleh setan. Karena itu, hendaknya kamu melakukan shalat dengan berjamaah karena harimau hanya mau menangkap kambing yang sedang sendirian." (HR Abu Daud dan Nasa'i). Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk meraihnya. Amin.

Dimuat di Republika cetak dengan judul Amal Berbuah Cinta Allah
Selengkapnya... »»  

Akuisisi 7 Persen Saham Newmont Dewan Tunggu Hasil Audit BPK

Mataram - DPRD NTB memilih cooling down terhadap tawaran Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo terkait saham 1,75 persen untuk Pemda di NTB. Wakil Ketua DPRD NTB Suryadi Jaya Purnama mengatakan, pihaknya lebih memilih tidak berkomentar banyak sambil menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap kepemilikan 7 persen saham dari hasil divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) jatah tahun 2010

Suryadi Jaya Purnama Jumat (26/8) menjelaskan, BPK memang sedang melakukan audit terhadap saham 7 persen sesuai dengan desakan dari DPR. Pasalnya DPR tidak menyetujui Kementrian Keuangan membeli saham tersebut dengan dana dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP).

Menurut Suryadi, Kementerian Keuangan pernah memohon agar BPK juga melakukan audit terhadap divestasi saham PT NNT sebesar 24 persen yang telah diakuisisi oleh pemda bersama perusahaan korsorsium. Ia menjelaskan, penyebab BPK tidak mau mengaudit saham yang 24 persen tersebut yaitu karena tidak diajukan oleh DPR atau Presiden.”Kalau mau diaudit yang mengajukan itu adalah DPR atau Presiden. Nah yang 7 persen itu diajukan oleh DPR sedangkan permintaan audit yang 24 persen itu hanya diajukan oleh Menteri Keuangan, bukan Presiden,”tandasnya.

Suryadi mengungkapkan Dewan akan melakukan langkah selanjutnya terkait divestasi 7 persen saham tersebut walaupun pemerintah sudah memberikan batas waktu pada 17 Agustus mendatang untuk menentukan pilihan. Namun dewan akan tetap menunggu hasil audit akhir dari BPK terhadap 7 persen saham PT NNT itu.”Tergantung hasil audit BPK,”ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menkeu menawarkan 1,75 persen saham NNT setelah pemerintah pusat membeli 7 persen saham. Harga 1,75 persen saham tersebut sebesar 61,7 juta dollar AS atau lebih dari Rp500 miliar, sehingga Gubernur NTB bersama DPRD menolak tawaran tersebut dengan alasan kekuatan fiskal daerah masih lemah. Daerah baru mau menerima 1,75 persen tersebut jika pusat menghibahkan kepada daerah. (nas/ris)Sumber: suarantb
Selengkapnya... »»  

Aparat Dinilai Lamban Laporkan Kesulitan Air Bersih

Lombok Utara - Adanya tujuh desa di Kabupaten Lombok Utara (KLU) belum menerima bantuan air bersih disinyalir karena aparat di tingkat desa dan dusun terlambat memberikan laporan ke instansi terkait. Seharusnya krisis air yang terjadi di desa segera dilaporkan aparat setempat agar bisa ditanggulangi secepatnya oleh pemerintah.

Demikian sejumlah warga, Jumat (26/8) kemarin menanggapi tujuh desa di KLU belum mendapatkan bantuan air bersih dari instansi terkait. Sulitnya distribusi air bersih karena desa itu berada di atas pengunungan. Contoh, katanya, Dusun murmas, Desa Bentek, Kecamatan Gangga baru dilayani air bersih setelah dusun itu diberitakan di media massa kesulitan air bersih.

Sekretaris Dukcapil Sosnakertrans KLU H. Rubain, S.Sos., M.Si., menjelaskan belum menerima laporan dari tujuh desa yang kesulitan air bersih. Kalaupun ada desa yang membutuhkan air tetap dilayani sampai lokasi jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Yang jelas, katanya kalau ada laporan dari petugas tentang kekurngan air bersih tetap diperhatikan.

Dijelaskannya, droping air ke dusun atau desa sesuai permintaan warga. Hingga kini ia belum mengetahui jalan ke beberapa dusun yang dikatakan rusak. Kalau benar rusak, itu tugas instansi terkait. Kalau kondisi jalan rusak, katanya petugas akan membwa sampai ke lokasi yang bisa dilalui kendaraan roda empat. Nanti warga yang mengambil air sendiri ke tempat kendaraan parkir.

Kepala Bidang Sosial pada Dinas Dukcapil Sosnakertrans KLU Farurrahman menyatakan mungkin yang dimaksud itu tujuh dusun yang belum mendapat bantuan air bersih. Selama ini, katanya, setiap ada laporan dari desa tetap diperhatikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan air bersih.

Keterangan yang diperoleh menyebutkan Dinas Dukcapil dan Sosnakertrans KLU sedang membantu warga yang mengalami krisis air bersih di beberapa tempat. Petugas mengangkut air menggunakan mobil tangki milik Dinas Dukcapil dan Sosnakertrans KLU, ditambah dengan mobil tangki yang didatangkan dari Dinas Sosial kependudukan dan Catatan Sipil (Disosdukcapil) NTB.

Petugas Sosial Masyarakat (PSM) Sapar menjelaskan informasi yang ia terima dari PSM di beberapa desa masih ada dusun yang sulit dijangkau mobil tangki karena jalan yang rusak. Seperti di Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Mumbul Sari dan Desa Akar-akar, Kecamatan Bayan. Di semua desa itu ada tujuh dusun yang sulit dilalui mobil tangki.

‘’Informasi ini saya terima dari tokoh masyarakat dan beberapa warga. Di beberapa lokasi warga terpaksa menunggu air bersih di jalan sekalipun jaraknyanya cukup jauh dari rumahnya,’’ jelas Sapar. Kades Salut Karianom yang dihubungi menerangkan di desanya ada beberapa dusun yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat karena kondisi jalan yang parah. Seperti Lokoq Beru, Sebang dan Sambik Rindang. Kades Loloan, Kecamatan Bayan R. Nyakrasana menyatakan, dari sembilan dusun yang ada, Dusun Telaga Segoar dan Montong Kuning tergolong sering terjadi kekurangan air bersih karena debit air yang ada berkurang. Pada saat tertentu warga di dua dusun ini butuh bantuan air bersih dari pemerintah. (051)Sumber: suarantb
Selengkapnya... »»  

Perang Topat, Refleksi Kerukunan Beragama

Tradisi perang topat atau perang ketupat yang berlangsung setiap tahun di Desa Lingsar, Narmada, Lombok Barat (Lobar) merupakan tradisi yang merefleksikan kerukunan umat beragama. Warga yang terlibat dalam perang topat tersebut berasal dari dua agama yaitu umat Islam dan Hindu yang bermukim di sekitar pura Lingsar, Lobar.

SIMBOL kerukunan umat beragama terdapat di dalam kawasan Pura Lingsar yaitu pura Gaduh dan kemalik (mata air) yang merupakan tempat sakral bagi agama Hindu dan Islam. Diperkirakan kemalik telah ada sejak tahun 1661 dan lebih dulu ada daripada Pura Gaduh yang dibangun sekitar tahun 1740. “Kemalik merupakan tempat upacara sakral orang Sasak. Orang Bali yang kemudian membangun Pura Gaduh tidak dilarang oleh mangku kemaliknya,” terang budayawan Jalaludin Arzaky.

Hal tersebut menurutnya sangat menarik karena mengandung nilai historis yang merefleksikan kerukunan dua agama. “Terbangun kerukunan hidup bersama dalam satu wadah tempat melakukan persembahyangan. Tempat yang dianggap sakral,” imbuhnya. Di bawah kemalik, orang Bali juga biasanya melakukan ritual bekemit atau berkemit sebagai tanda syukur terhadap Tuhan. “Kawan Sasak tidak pernah mengganggu kawan Bali begitu juga sebaliknya,” tambahnya.

Kedua umat tersebut saling menghormati dimana kemalik yang dianggap sakral bagi orang Islam, orang Bali tidak akan membawa daging babi atau apapun yang ada unsur daging babinya. “Dulu kawan-kawan Bali yang mengadakan acara maturan tidak akan membawa peralatan yang kena daging babi. Harus dibersihkan dulu. Waktu saya tinggal disana (Lingsar) sekitar tahun 1963-1964 pernah ada kejadian hujan besar tiba-tiba turun karena ada bagian yang kotor. Itu pertanda tempat itu adalah tempat suci bagi orang Islam,” ceritanya.

Tak hanya orang Islam dan Hindu yang menjadikan kawasan Pura Lingsar tersebut sebagai tempat yang disakralkan, namun Jalaludin Arzaky mengatakan orang Cina yang ada di Lombok juga demikian. Konon orang Cina tersebut mendapatkan kekayaan setelah berdo’a di tempat tersebut. Etnis Cina tersebut kemudian ikut menyumbang untuk renovasi tempat persembahyangan di sekitar kemalik tersebut. “Pada tahun 80-an, di kemalik ditemukan piranti-piranti upacara sakral orang Cina berupa cermin yang bukan bagian dari Bali ataupun Sasak. Cina juga punya hubungan secara spiritual dengan tempat itu,” ungkapnya.

Dijelaskan budayawan Jalaludin Arzaky bahwa sejarah berlangsungnya perang topat bukan hanya milik orang Bali tapi jauh sebelum kedatangan orang Bali, orang Sasak sudah melakukan perang topat setiap kali melakukan upacara syukuran terhadap keberhasilan panen, dan ketika orang yang dicintai kembali ke rumah dengan selamat. “Perang topat bukan semata-mata dilaksanakan dalam rangka upacara Pujawali di Lingsar,” ujarnya.

Pada masyarakat Sasak yang beragama Budha di Lombok Utara, setiap ada syukuran atas keberhasilan panen atau tanamam padi para petani yang terlihat bagus, mereka mengadakan upacara ngaji makam. Mereka juga mengadakan perang topat ketika padi mulai menguning dan berisi yang menandakan tanaman padi akan dipanen dengan hasil yang banyak.

Jauh sebelum Islam, tradisi tersebut juga ada. Konon ketika pangeran Sandubaya dari kerajaan menghilang ke Pulau Sumbawa, setelah kembali dengan selamat, rakyat kerajaan Selaparang mengadakan acara perang topat. “Itu diperingati oleh masyarakat Sasak yang merasa keturunan Selaparang sebagai bagian dari kegembiraan ketika mereka melihat pangeran masih hidup,” jelasnya.

Tradisi perang topat yang telah turun temurun dilakukan masyarakat setempat. Menurut Jalaludin Arzaky bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sasak yang ada di sekitar Lombok Barat. “Karena itu simbol yang menunjukkan bahwa kita akrab dalam membangun pertemanan dan persaudaraan dengan orang yang berbeda agama dan suku. Jadi peristiwa budaya perang topat merupakan pencerminan betapa bangunan pertemanan dan persaudaraan itu bisa dilakukan oleh orang Sasak dan Bali yang ada di Lombok,” jelas dosen di Akademi Pariwisata Mataram ini. (yan)
Selengkapnya... »»  

Jumat, 26 Agustus 2011

Oknum Ketua P3A Perjual Belikan Bibit Bantuan Pemerintah

Lombok Utara - Oknum ketua Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Gading Datu yang sekaligus Ketua Kelompok petani di Dusun Teres Genit Desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara memperjual belikan bibit bantuan dari dinas Pertanian Kabapeten Lombok Utara berupa bibit padi dan jagung ke para nggota kelompok yang berjumlah sekitar 90 orang atau 3 kelompok, dimana bantuan tersebut seharusnya diberikan cuma-cuma atau gratis kesemua anggota kelompok.

Untuk bibit padi oknum ketua P3A dijual ke anggota kelompok Rp 30 ribu per sak (isi 5 kilo gram-red), sedangkan untuk bibit jagung dijual Rp 150 ribu per sak (isi 5 kilo gram-red).” Kita diminta bayar oleh ketua kelompok dengan alasan untuk uang transportasi,”ungkap Sukarna salah satu anggota kelopok tani P3A Dading Datu, Dusun Terse Genit, pada Suara Komunitas Kamis (25/8) kemarin.

.“Kita akan pertanyakan pada dinas Pertanian Kabupaten Lombok Utara terkait penarikan uang, “ungkapnya dengan nada tinggi seraya mengatakan bibit padi dan jagung untuk anggota kelompok itu dianggkut menggunakan mobil dinas, bukan angkutan kota (angkot) sehingga menimbulkan kecurigaan dari semua anggota kelompok.

Kepala KCD Pertanian Kecamatan Bayan, Munayip, SP dikonfirmasi terkait hal ini mengaku tidak mengetahui persoalan itu, namun pihaknya berjanji akan menelusurinya dan akan menayakan langsung ke ketua kelompok termasuk PPL. “Tidak ada aturan bibit bantuan dari pemrintah diperjual belikan, kecuali kalu bibit itu diturunkan ke kantor desa, itu pun harus di musyawarahkan dengan semua anggota kelompok katanya.

Terkait dengan bibit jagung yang diperjual belikan, pihaknya mengaku untuk bibit jagung belum ada bantuan dari dinas, sehingga pihaknya belum tahu persis bibit jangung dari mana yang diperjual belikan oleh oknum ketua kelompok yang sekaligus sebagai ketua P3A.

Sementara, Kepala Bidang Pertanian, Dinas Kelautan Pertanian Perkebunan dan Kehutan (DKPPK), KLU, Hadari dihubungi melalui saluran telpon tidak diangkat, dikonfirmasi meluai pesat singkat (sms) pun tidak dibalas. Sedangkan hingga berita ini diturunkan, oknum ketua P3A itu belum dapat dihubungi.(adam)
Selengkapnya... »»  

Dinas Perhubungan KLU Tidak Menyiapkan Posko Mudik Lebaran

Lombok Utara, - Dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi Dan Informatika (Dishubparkominfo) Kabupaten Lombok Utara (KLU), khususnya bidang perhubungan darat, hingga beberapa hari menjelang lebaran 1432 hijriyah, tidak menyediakan posko Mudik Lebaran, yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk beristirahat selama perjalanan mudik. Pihak kepolisian dilima kecamatan yang ada disepanjang jalur kecamatan Pemenang-BAYAN, juga belum terihat mendirikan Pos Operasi Ketupat Gatarin 2011, sebagaimana yang dilakukan daerah lainnya di NTB.

Kendati demikian, belum terlihat terjadi lonjakan mobilitas masyarakat setempat, yang hendak mudik keluar atau masuk daerah Lombok Utara. Pantauan Suara Komunitas, terminal Tanjung hingga H -5 lebaran hari ini, aktivitas transportasi masih terlihat lengang, tidak ada peningkatan jumlah angkutan barang dan penumpang yang signifikan. Hanya saja jalur menuju pasar tradisional, dan jalur utama kota Tanjung yang menghubungkan dengan kecamatan lain dan desa-desa sekitar, kerap terjadi kemacetan kendaraan, namun hal itu disebabkan oleh sempitnya kondis jalan, karena masih ada perbaikan jalur disamping karena kesibukan warga menjelang lebaran.

Demikian pula dikawasan pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang yang menjadi pusat bongkar muat barang menuju kawasan wisata. Aktivitas penyeberangan menuju dan kembali dari tiga pulau, masih nampak biasa dan normal. Belum ada peningkatan penyeberangan, namun tetap terlihat sibuk dengan kedatangan para turis asing, karena saat ini musim liburan bagi wisatawan Eropa.

Sementara Kepala dinas Perhubungan Pariwisata Komunikasi dan Informatikan KLU, Sinar Wugiyarno, SH , mengatakan, arus lalu lintas di Lombok Utara menjelang lebaran masih normal meski terjadi kemacetan terutama di pusat ibu kota bupaten Lombok Utara. “ Kemacetan terjadi karena memamng ada perbaikan jalan dan saluran, “ungkap Sinar.

Sedangkan untuk penyeberangan ke kawasan wisata tiga gili juga masih relatif normal termasuk jumlah armada (Perahu) yang digunakan untuk mengakut penumpang masih stabil dan masih dapat mengimbangi jumlah penumpang. “Kita tetap melakukan pengawasan dan selalu mengutamakan keaman dan kenyaman terutama bagi penumpang ke kawasan tiga gili, “tandasnya. (adam)
Selengkapnya... »»  

DPRD Tak Hadir, AMAN Kecewa

Lombok Utara, - Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Paer Daya, Lombok Utara mengaku sangat kecewa atas ketidak hadiran anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam acara workshop mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang berlangsung selama dua hari di Tanjung kemarin.

Pasalnya, pelaksanaan workshop tersebut untuk membahas terkait keberadaan atau memepertegas posisi masyarakat adat di Lombok Utara dalam upaya pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berbasis kearifan lokal, termasuk mendorong pihak eksekutif dan legslatif untuk terbentuknya perda terkait keberadaan masyarakat adat berikut dengan hak dan kewajibannya dalam melestarikan kearifan lokal yang dimiliki komunitas adat.

Ketua AMAN Paer Daya, Lombok Utara, Husnul Munadi pada Suara Komunitas Kamis (25/8) kemarin mengatakan, seharusnya momen seperti ini pihak eksekutif harus hadir karena masyarakat adat membutuhkan dukungan penuh dari wakil rakyat terkait tentang rancangan pembentukan peraturan daerah (perda) tentang keberadaan masyarkat adat dan kearifan lokal yang dimiliki Lombok Utara, “ungkpanya.

Hal senada juga dikatakan Anggota Dewan AMAN Pusat, Kamardi, SH, saat ini masyarakat adat mempertanyakan kebijakan eksekutif dan legeslatif dalam mendukung dan melestarikan kearifan lokal yang ada di Lombok Utara, karena beijakan terkait pembentukan dan penetapan perda menjadi ranahnya legeslatif, namun tidak hadir, “ungkap Kamardi menyayangkan.

Dikatakannya, semua materi untuk pemebentukan perda sudah ada mulai dari pemetaan, naskah hingga dukungan masyarakat sudah lengkap, namun dukungan dari legeslatif yang belum ada. “Kita sudah undang unsur ketua DPRD KLU tetapi tidak hadir, masak dari 25 anggota DPRD KLU tidak satu pun yang dapat hadir, “ungkapnya dengan nada tanya seranya mengatakan dari enam pemateri dalam kegiatan tersebut hanya satu pemateri yang tidak dapat disampaikan karena pihak DPRD yang tidak hadir, “tandasnya. (adam)
Selengkapnya... »»  

Peran Masyarakat Adat Lombok Utara dalam Menyikapi Perubahan Iklim

Oleh Husnul Munadi (Ketua PD AMAN Lombok Utara)

Dampak Perubahan iklim sangat dirasakan oleh umat manusia, Kenaikan suhu udara bumi sangat berdampak langsung pada perubahan musim, arah angin, gelombang laut, mencairnya es di kutub bumi serta perubahan pola kehidupan berbagai makhluk hidup, tumbuhan maupun hewan. Bahkan dengan berlipat gandanya kandungan karbon (zat arang) di udara, akan menghentikan pertumbuhan alami hutan di bumi.

Perubahan cuaca yang ekstrim ini, juga sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat adat yang bermukim di wilayah rentan terhadap perubahan iklim seperti, kawasan pulau-pulau kecil, pesisir dan hutan tropis. Perubahan iklim secara global telah mempengaruhi iklim mikro, yang selama ini menjadi patokan bagi masyarakat adat untuk merencanakan suatu kegiatan dalam kaitannya untuk pemenuhan kebutuhan hidup.

Hutan di 5 Kecamatan di Lombok Utara seluas 21.957 Ha, adalah bagian dari kawasan Hutan Gunung Rinjani yang merupakan bagian dari hutan tropis di Indonesia, dimana kawasan ini mempunyai luas sekitar 125.199,73 ha, terdiri dari Hutan Lindung seluas 59.810,50 ha, Hutan Produksi seluas 20.745,40 ha, Taman Wisata Alam seluas 396,10 ha, Taman Nasional Gunung Rinjani seluas 41.330,00 ha dan Taman Hutan Raya Sesaot seluas 3.155,00 ha. Sementara sumberdaya hutan gunung Rinjani sebagai sistem penyangga kehidupan masyarakat Pulau Lombok mempunyai fungsi dan manfaat sebagai (1) Unsur Produksi, (2) Perlindungan alam, (3) Sarana Rekreasi, (4) Laboratorium alam dan (5) Sarana pelestarian plasma nutfah serta nilai-nilai budaya ( sumber : Dinas Kehutanan Prop.NTB )

Dampak nyata perubahan iklim ini sangat dirasakan juga oleh masyarakat adat di Gumi Paer Daya Lombok Utara, yaitu pada saat masyarakat adat sedang menghadapi musim tanam, musim panen dan melakukan aktivitas penangkapan dan budidaya ikan serta budidaya rumput laut. Ketidakpastian kalender musim dikarenakan adanya pergeseran waktu, menyebabkan masyarakat adat tidak lagi mengusahakan ladang, terjadinya gagal panen bagi petani, gagal untuk usaha budidaya ikan dan rumput laut bagi nelayan.

Hal ini disebabkan karena, masyarakat adat di Lombk Utara ini sudah tidak dapat lagi dapat mempergunakan hitung-hitungan atau kalender musim dengan menggunakan kearifan adatnya (Uriga).Menurun secara derastisnya daya dukung sumberdaya alam di Lombok utara disinyalir sebagai dapak perubahan iklim (pemanasan Global),musim hujan tidak beraturan,sungai lebih cepat mengering dan kebanjiran pada musim hujan ( banjir Bandang tahun 1999 dan tahun 2009) suhu udara meningkat pada kisaran 3 – 5 derajat celsius, daya dukung alam semakin menurun produksi cengkeh menurun sampai 40 % (kasus 2005), Hama penyakit terutama pada tanaman perkebunan ( kakao ), munculnya penyakit kangker pisang yang memaksa masyarakat harus mencabut dan membakar pohon pisangnya ( kasus tahun 2004-2005 ), Intensitas serangan hama padi meningkat,tanaman palawija ( kacang-kacangan ) pada lahan kebun mengalami kerusakan karena keterlambatan mendapatkan hujan,panas yang berkepanjangan. Secara sosial budaya; Menyempitnya sumber penghidupan Masyarakat, perebutan sumber mata air oleh masyarakat umum (Konflik horizontal), terjadi penebangan liar oleh masyarakat diluar hutan Adat.

Aliansi Masyarakat Adat Paer Daya dalam menyikapi terjadinya perubahan iklim yang sangat ekstrim dewasa ini, telah melaksanakan beberapa kegiatan penting seperti, Diskusi Komunitas Penguatan Kapasitas Masyarakat Adat di beberapa komunitas di Lombok Utara dalam Mitigasi Perubahan Iklim dan REDD, road Show Pemutaran film perubahan iklim di seluruh komunitas anggota AMAN di Lombok Utara, seminar tentang perubahan iklim dengan melibatkan berbagai unsur secara multifihak, seperti dari SKPD pemerintah dan akademisi. Pelatihan Pemetaan Partisipatif yang melibatkan masyarakat adat sebanyak 16 orang dan Pemetaan Partisipatif Wilayah adat Karang Bajo, Semokan dan Anyar.

Maka menindaklanjuti hasil-hasil sementara kegiatan yang telah dilaksanakan mulai Sejak 2009 sampai dengan 2011 tahun ini, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Paer Daya mulai melaksanakan kegiatan Workshop Multipihak Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dengan tema ”Mendorong Peran Serta Masyarakat Adat Lombok Utara dalam Menyikapi Perubahan Iklim” yang bertujuan untuk :
- Merumuskan dan menyepakati kebijakan pengelolaan sumberdaya alam (SDA) Lombok Utara yang berkelanjutan dan berbasis kearifan adat.
- Menyepakati strategi yang relevan untuk kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Lombok Utara.
- Mempertegas posisi masyarakat adat Lombok Utara dalam pengelolaan SDA berbasis pranata dan kearifan adat.
- Menggagas kebijakan relevan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berdasarkan tindakan lokal masyarakat adat Lombok Utara.

Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Paer Daya dengan melihat realitas kondisi SDA Lombok Utara, khususnya hutan yang semakin menurunnya kualitasnya dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat adat Paer Daya, khususnya yang berprofesi sebagai nelayan dan petani, maka merasa penting untuk melaksanakan kegiatan ini dalam kaitannya untuk merumuskan dan menyepakati kebijakan-kebijakan yang relevan pengelolaan SDA yang berbasis kearifan dan pranata adat yang telah diwarisi oleh masyarakat adat Lombok Utara dari leluhurnya. Hal ini menjadi urgent, karena sebelum kebijakan negara ini lahir, masyarakat adat Paer Daya telah memiliki nilai-nilai kearifan dan pranata adat dalam pengelolaan SDA.

Selama ini, begitu banya kebijakan kebijakan perlindungan dan pemanfaatan SDA yang dipraktekkan oleh negara telah gagal dalam melindungi hutan dan memberikan rasa aman terhadap masyarakat adat. Contoh kongkrit misalnya, kebijakan perlindungan SDA dengan status Hutan Lindung, Cagar Alam, Suaka Margasatwa dan Taman Nasional, ternyata dikalahkan oleh sektor-sektor lain yang justru mengeksploitasi kawasan-kawasan lindung tersebut untuk kepentingan devisa semisal, HPH, HTI, IPK, Perkebunan, Pertanian dan Pertambangan, terjadi inkonsistensi dalam menerapkan kebijakan perlindungan SDA. Hal lain pula, kebijakan perlindungan SDA yang dipraktekkan oleh negara ternyata membatasi hak dan akses masyarakat adat atas wilayah adatnya dengan berbagai macam stigma antara lain masyarakat perambah hutan, peladang berpindah dan perusak hutan.

Kearifan masyarakat adat dalam pengelolaan SDA secara filosofi dan substansial adalah alternatif solusi untuk mengeliminir laju kerusakan SDA yang terus terjadi akibat dari perizinan yang dikeluarkan oleh Pemerintah di masa lalu kepada perusahaan skala besar untuk mengeksploitasi hutan di kawasan Monggal isalnya. Paling tidak dengan merevitalisasi aturan dan kearifan adat dalam pengelolaan SDA di kawasan gugusan pulau-pulau kecil ini, potensi SDA yang sangat terbatas ini dapat terjaga keberlanjutannya. Harus diakui bahwa kerusakan dan penurunan kualitas SDA yang terus terjadi akibat begitu banyaknya kebijakan Pemerintah yang cenderung ekstra aktif dalam memanfaatkan potensi SDA.

Menyikapi problem serius yang dihadapai oleh umat manusia, khususnya masyarakat adat dengan adanya perubahan iklim yang ekstrim akhir-akhir ini, karenanya melalui kegiatan Workshop Multipihak Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim ini, para pihak diharapkan memiliki komitmen dan strategi bersama dalam menyikapi dampak perubahan iklim yang telah dirasakan oleh manusia dewasa ini. Sangat diharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan ini, upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, perlu mengakomodasi kearifan dan pranata adat masyarakat adat dalam mengelolaan hutan. Hasil penting lainnya yang sangat diharapkan dari pelaksanaan Workshop Multpihak ini adalah, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara perlu mendorong adanya kebijakan pengelolaan Hutan adat yang dituangkan dalam peraturan Daerah yang diharapakn sebagai satu kebijakan strategis mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di Lombok Utara.
Selengkapnya... »»  

Kamis, 25 Agustus 2011

Primadona Gelar Siaran Langsung workshop

Lombok Utara - Jarak, kini bukan lagi menjadi halangan bagi Rakom Primadona FM untuk melakukan siaran langsung. Hal ini dibuktikan dengan digelarnya siaran langsung acara workshop multi pihak mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang berlangsung di aula kantor desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara, 24/8/11.

Acara wordshop yang digelar Pengurus Daeran Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD AMAN) Lombok Utara ini berlangsung selama dua hari yaitu 24-25 Agustus, dan selama dua hari pula Rakom Primadona yang berlokasi di Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan KLU melakukan siaran langsung.

Untuk mempermudah siaran, pengurus Rakom Primadona menggunaka dua hp, yaitu satu hp sebagai pengirim suara dan satunya lagi sebagai penerima.

“Jarak sekarang sudah tidak menjadi halangan lagi untuk melakukan siaran langsung, sehingga selama bulan ramadhan ini, primadona selalu menyiarkan beberapa kegiatan, seperti safari ramadhan yang dilaksanakan oleh tim kabupaten Lombok Utara”, kata Ayu, salah seorang penyiar Primadona. (ari)
Selengkapnya... »»  

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Lombok Utara - Peringatan Nuzulul Qur’an atau turunnya Al-Qur’an merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun oleh umat Islam. Dan yang paling penting dari peringatan ini adalah bagaimana kita menjadikan Al-Qur’an itu sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Hal tersebut dikemukakan camat Bayan, Pahri, S.Pd dalam sambutannya memperingati Nuzulul Qur’an di Masjid Jamik Al-Fatah Ancak desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Rabu malam 24/8/11.

Menurut Pahri, yang paling penting dalam setiap peringatan keagamaan itu adalah bagaimana kita menterjemahkan dan mengimplementasikan dalah menjalani kehidupan kita dimuka bumi ini.

“Ibarat kita membeli hp baru atau sepeda motor, yang dilengkapi dengan buku petunjuknya, yang bila digunakan tidak sesuai dengan buku petunjuknya, hp atau sepeda motor tersebut akan rusak. Demikian juga manusia yang hidup didunia, dilengkapi dengan kitab suci Al-Qur’an sebagi petunjuk bagi hamba_nya yang bertaqwa”, kata Pahri memberi contoh.

Sementara TGH. Mustafa Alawi dalam uraian hikmah Nuzulul Qur’an mengungkapkan, sebagai manusia, entah itu ulama, cendikiawan ataun orang pintar, tentu tidak luput dengan salah dan dosa. Karena musuh manusia itu ada dua yaitu nafsu dan syetan. “Kedua musuh itu tidak bisa dilawan kecuali dengan bantuan Nur Ilahi, karenanya perlu banyak beristighfar”, katanya.

Dikatakan, ibadah puasa yang kita laksanakan adalah sebagai latihan untuk melawan hawa nafsu yang selalu mengarahkan kita kejurang kehancuran, sehingga puasa itu sendiri disebut juga bulan rahmat, maghfirah dan bulan pembebasan atau penghapusan dari dosa.
Selengkapnya... »»  

Rabu, 24 Agustus 2011

Koperasi Karya Bahari Belum Ada Kontribusi Untuk Daerah

Lombok Utara - Keberdaan Koperasi Karya Bahari Pelabahunan Bangsal Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang melanyani jasa penyeberangan ke kawasan wisata tiga gili (Gili Trawangan, Meno dan Air) hingga saat ini belum memberikan kontribusi sedikit pun untuk daerah Lombok Utara baik dalam bentuk ritribusi, pajak maupun pendapatan lainnya.

Bahkan keberadaan koperasi yang hampir setiap detik mencetak uang itu belum mampu dikelola maupun dibina oleh pemerintah terkait sehingga jasa atau pun perputaran uang yang dikelola koperasi yang sempat mau dibekukan Pejabat Bupati KLU yang pertama (Drs.HL. Bakri-red) itu belum mampu menambah nominal Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Utara sedikit pun.

Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), Kabupaten Lombok Utara, Drs. H. Kholidi Kholil, MM ditemui wartawan diruang kerjanya Rabu (24/8) kemarin mengatakan, hingga saat ini koperasi Karya Bahari belum memberikan kontribusi pendapatan sedikit pun untuk Lombok Utara.

Meski persoalan ini bukan kewenangan DPPKAD, namun pemerintah juga harus tetap tegas salah satu cara dengan mencabut kewenangan pengelolaan, terutama aspek penjualan tiket. “Koperasi biarkan jalan hanya sebatas bada usah saja, “kata mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM KLU ini.

Selain persoalan Koperasi Karya Bahari yang belum mampu memeberikan peningkatan PAD KLU, pelayanan jasa parkir yang ada di beberapa lokasi strategis seperti kawasan Tlok Nare, Tlok Kodek termasuk kawasan Pelabuah Bangsal juga belum dikelola dengan baik. “Kita akan segera panggil pengelola atau pemilik lahan parkir untuk diberikan pembinaan dan peyuluhan terkait dengan aturan yang harus di taati dan dijalankan untuk kemajuan dan kepentingan Lombok Utara, “tandasnya. (adam)
Selengkapnya... »»  

Komisi I Soroti Pelabuahan Tak Memilki Ijin

Lombok Utara - Komisi I DPRD Kabupaten Lombok Utara yang menaungi Pemerintahan dan Perundang-Undangan menyoroti pelabuhan milik Adi Nugroho yang diketahui tidak mengantongi ijin. Bahkan keberadaan pelabuhan yang satu paket dengan pabrik pengolahan batu apung yang berada di wilayah Desa Selengan Kecamatan Kayangan tersebut tidak memiliki kontribusi sedikit pun untuk pemda KLU.

Hal tersebut dikatakan Ketua Komisi I DPRD KLU, Jasman Hadi ditemui wartawan, Selasa (23/8) kemarin. Menurut Jasman, pengolahan batu apung dan pelabuhan milik Adi Nugroho itu yang juga ditengarai sebagai pemilik PT. WAH yang saat ini berkonflik dengan masyarakat Gili Trawangan hanya sebagai investor yang merusak lingkungan termasuk jalan yang berada disepanjang wilayah Lombok Utara.

“Perusahan batu apung dan pelabuhan itu hanya merusak lingkungan Lombok Utara dan sekarang mau mengobok-obok masyarakat gili Trawangan, ini yang harus kita pertanyakan dan tidak bisa kita biarkan begitu saja, bila perlu kita usir dari wilayah Lombok Utara, “tegasnya.

Pelabuah dan perusahaan itu sampai sekarang belum ada kontribusi positif apa pun bagi daerah dan masyarakat Lombok Utara, bahkan dulu di pelabuhan tersebut dimanfaatkan untuk bongkar muat barang bekas seludupan, “tandasnya. (adam)
Selengkapnya... »»  

Ironis, Desa Penghasil Air Warganya Minum Air Irigasi

Lombok Utara- Mungkin tidak masuk diakal dengan kondisi masyarakat Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Salah satu desa yang dimiliki Kabupaten Lombok Utara yang terkenal dengan potensi sumberdaya alam (SDA) hingga menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Desa ini juga menjadi salah satu daerah yang memiliki sumber mata air yang sangat besar sehingga dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Anehnya, meski demikian hampir sebagian besar masyarakatnya mengkonsumsi air irigasi untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk kebutuhan air minum. Data yang ada sebanyak delapan dusun di Desa Senaru sampai sekarang masih mengkonsumsi air dari saluran irigasi untuk kebutuhan minum dan kebutuhan lainnya.

Sedangkan beberapa desa yang menjadi penikmat air dari PDAM yakni Desa Anyar, Desa Sukadane, Desa Karang Bajo termasuk beberapa daerah lainnya. “Delapan dusun di desa Senaru masih minum air saluran atau air irigasi, “ungkap Kepala Dusun Bun Gontor Desa Senaru Kecamatan Bayan, Sekarnawadi pada wartawan Rabu (24/8) kemarin.

Memang sepintas menggunakan air bersih karena menggunakan perpipaan tetapi sumber airnya berasal dari saluran atau irigasi yang biasanya untuk kebutuhan bertani. “Ada juga masyarakat yang langsung mengambil air dari saluran irigasi, “sebutnya.

Dikatakanya, air saluran yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari pun datangnya sekali seminggu sehingga masyarakat setempat sering mengalami krisis air bersih. “Air irigasi datangnya sekali seminggu sehingga masyarakat lebih sering mengalami krisis air bersih meski memiliki sumber mat air yang besar, “tambahnya. Masyarakat berharap, pemerintah mampu mengelola potensi tersebut untuk kepentingan dan kesejahtraan masyarakat sehingga masyarakat tidak menjadi penonton dirumah sendiri. (adam)
Selengkapnya... »»  

Masyarakt Adat Dalam Menyelamatkan Alam dari Pemanasan Golbal

Lombok Utra - Sebagai warga Kabupaten Lombok Utara (KLU) sepatutnya bangga , karena kita masih memiliki adat dan budaya lokal yang masih kental dalam menyelematkan alam dari pemenasan global yang menimpa seluruh dunia.

Penegasan tersebut disampaikan Wakil Bupati KLU, H. Najmul Akhyar, SH, MH didepan puluhan komunitas adat yang mengikuti workshop multi pihak mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang berlangsung di aula kantor desa Tanjung 24/8/11.
Menurut Najmul, pada zaman dahulu, bila kita memasuki hutan terlebih dahulu diberi sembek, dan tidak boleh membawa tali atau parang, karena disebut “pemalik” (larangan) yang tidak boleh dilanggar. “Saya sangat senang bila masuk ke pawang adat Semokan Desa sukadana, dimana amak lokaq cukup eksis menjaga hutannya, bahkan sampai kayu tumbangpun di hutan adat tersebut tidak boleh diambil”, katanya.

Namun kearifan lokal seperti itu sedikit demi sedikit sudah mulai hilang, malah sekarang ini setiap hari sinso masuk ke dalam hutan. Hal ini bukan masalah kecil, tapi ini adalah ancaman buat kita semua.

Dari data di provinsi Nusa tenggara Barat, bahwa luas lahan KLU, 80.942 ha. Dan bila dilihat luasnya cukup signifikan, dan petensi inilah yang harus diselamatkan. Dari jumlah ini terdapat sekitar 384 hektar masuk ke lahan sangat kritis dan 5.760 hektar masuk katagori kawasan lahan kering.

H. Najmul mengaku, bahwa dalam illegal loging ditemukan modus baru, diamna masyarakat yang menebang kayu didalam hutan, sebelum kayunya dibawa keluar terlebih dahulu dibuat kusen, karena mereka beranggapan tidak akan ditangkap oleh petugas.

Menyoroti tentang terjadinya penebangan liar, menurut Wabup, beberapa bulan lalu, tidak kurang dari 30 truk kayu setiap hari dibawa keluar dari KLU. Dan pohon yang menjadi primadona yang ditebang adalah pohon asam. “Mereka menebang beralasan karena belum ada payung hukumnya, sehingga Pemda KLU mengeluarkan surat edaran dan Peraturan Pemerintah No. 6 tentang tentang pengurusan dan pengendalian kayu yang berasal dari hutan hak atau tanah milik”, jelasnya.
Selengkapnya... »»  

Selasa, 23 Agustus 2011

Khutbah Hari Raya Idul Fitri (Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo)

MAKNA TAQWA BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN
Oleh : H. Muhammad Shafwan Ali, M.HI

 Maha Suci Allah, yang telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
 Maha Kuasa Allah, yang telah menciptakan alam semesta sebagai tempat hidup bagi ummat manusia dan tempat untuk berkarya mencari ridha-Nya.
 Maha Kasih Allah, yang tidak pernah berhenti mencurahkan rahmat dan karunia-Nya - sekaligus membimbing manusia dalam memanfaatkannya.
 Maha Adil dan bijaksana Allah dalam meratakan rizki dan hidayah-Nya. Hanya saja, manusia tidak pernah puas dan enggan mensyukuri nikmat rizki-Nya, serta selalu menghindar dari hidayah-Mu.
 Maha Basar Allah, yang telah menetapkan bulan Ramadhan sebagai bulan bagi kaum yang beriman melakukan puasa, menahan diri untuk melebur dosa demi untuk mencapai puncak derajat keimanan – yaitu taqwa.
 Dengan keagungan-Mu Engkau terima segala ampunan yang dimohon oleh pelaku puasa - seraya Engkau taburkan butiran pahala baginya. Sungguh beruntung orang-orang yang ihlas menegakkan ketetapan-Mu - dan merugi bagi mereka yang hanya melakukannya setengah hati, kurang ihlas, yaitu mereka yang berpuasa tetapi amalannya condong pada cinta dunia. Mereka lebih megutamakan kebiasaan mereka dari pada tuntunan syari’ah-Mu.

ALLAHU-AKBAR .... daripada-Nya kita datang di dunia ini dan kehadirat-Nya kita akan berpulang kelak. Marilah kita agungkan Dia melalui asma-Nya, kita syukuri segala nikmat karunia-Nya, kita panjatkan puja dan puji kehadirat-Nya, seraya kita kukuhkan hati dan pikiran untuk memohon ampunan dan ridha-Nya.
Jama’ah Ied. Rahimakumullah
Hari ini bilangan bulan Syawwal mulai menapaki harinya menjumpai kita dalam suasana fitrah, setelah ijtima' akhir Ramadhan kemarin berlalu meninggalkan kita dengan sejumlah kenangan, mulai dari kenangan suasana semarak sahur dan ramainya jalan-jalan di waktu pagi menyongsong matahari terbit, kenangan suasana gembira ketika berhadapan dengan sajian buka puasa, kenangan meramaikan masjid dengan shalat taraweh dan tadarus al-Quran, kenangan mengunjungi pasar senggol dan menyemarakkan malam tumbilotohe, sampai pada kenangan ketika hati kita bimbang menentukan shalat ied hari ini atau besok. Itu semua telah kita alami bersama Ramadhan, walau sebenarnya masih banyak yang tidak sesuai dengan kehendak Ramadhan tersebut. Ramadhan menghendaki sahur dan buka puasa kita secukupnya, namun kita lakukan dengan penuh keserakahan karena takut akan kelaparan. Ramadhan menghendaki kita untuk membakar kecintaan terhadap dunia, namun yang kita lakukan malah lebih mencintai dunia.
Ramadhan menghendaki persatuan dan persaudaraan antar sesama ummat manusia menjadi kuat, kokoh dan serempak, namun yang terjadi malah perbedaan yang menyolok karena adanya paham yang harus dipertahankan. Ramadhan menghendaki iman kita utuh bahkan bertambah, namun pada kenyataannya justru malah kebanyakan orang diantara kita, imannya menjadi acak dan berkurang. Hal ini terbukti dengan adanya perlakuan kita yang lebih condong untuk menjadikan Ramadhan sebagai suatu model atau budaya, padahal Ramadhan itu ibadah yang tidak boleh terlepas dari perlakuan sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Saw.
Jema’ah Ied Rahimakumullah
Kumpulan segala kenangan yang telah kita lalui bersama bulan Ramadhan ini haruslah kita jadikan sebagai bahan untuk mengoreksi diri kita terhadap semua perlakuan ibadah yang kita lakukan selama ini.
Sungguh Allah tidak memuji lezatnya atau melihat banyaknya makan sahurmu, Allah tidak menghendaki
keserakahanmu diwaktu berbuka, Allah tidak menilai amalanmu yang sia-sia, Allah tidak rela bila bulan Ramadhan- Nya dikotori oleh perbuatan maksiatmu. Sungguh Allah tidak menerima rekayasa akal pikiranmu tentang kebutuhan akan dunia, Allah tidak meridhai budayamu yang merusak amalan ibadahmu kepada-Nya. Sungguh Allah tidak akan mendatangkan manfaat puasa bagi orang yang lalai
menjalankannya.

Sidang Jema'ah Ied. Rahimakumullah

Sesungguhnya Allah Swt. menilai puasamu hanya dengan imanmu, yaitu keyakinanmu akan keberadaan-Nya dan kepatuhanmu terhadap ibadah yang Dia syari’atkan melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. Oleh karena itu Dia memanggilmu dengan sapaan yang penuh kasih sayang “Wahai orang-orang yang beriman”, kepada kaum yang melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dengan satu tujuan untuk menjadi orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik sesuai aturan-Nya sekaligus mampu memerangi kemungkaran terhadap diri dan lingkungannya.

ALLAHU AKBAR 3 x
Sidang Jema'ah Ied. Rahimakumullah
Apapun yang terbetik di hati kita, yang ada dalam benak pikiran kita saat ini, tetap kita harus memiliki satu pengakuan bahwa hari ini adalah hari kemenangan bagi orang-orang yan diliputi rasa menang karena dengan susah payah telah berjuang melawan hawa nafsu, sekaligus sebagai hari perenungan untuk mengakui kesalahan dan tobat serta memohon ampunan-Nya karena telah kalah oleh godaan dunia dan hawa nafsu.
Hari ini adalah hari dimana Ramadhan menyatakan dirinya pergi meninggalkan kita semua dan pasti akan kembali untuk datang mengajak kita beribadah yang sepuas-puasnya dalam mencapai keridhaan Allah di dalam menapaki kehidupan dunia ini. Sungguh ia pergi dan pasti akan datang lagi namun kita semua tidak tau pasti apakah kedatangnya akan berjumpa dengan kita. Mungkin masih berbekas dalam hati dan ingatan kita, ketika orang-orang yang kita cintai, yang kita kasihi masih berada disekeliling kita. Saat ini, mereka tidak lagi bersama kita. Sungguh kekesalan hati seolah tak berujung, penyesalan terasa tak ada gunanya.
Hari ini adalah hari dimana masjid-masjid mulai sepi dari suara azan lima waktu, sepi pengunjung yang datang berjama’ah, sepi dari suara lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an, sepi dari keliaran anak-anak yang belajar shalat dan puasa, sepi dari kunjungan ibu-ibu yang mengaji tadarrus, sepi dari orangorang yang ihlas mengisi celengan dana pemeliharaan masjid.
Hari ini adalah hari dimana iblis-iblis memasang spanduk selamat datang kepada kita, mengajak kita untuk bergabung bersamanya dalam merekayasa kehidupan dunia ini dengan kemaksiatan, keserakahan, kebohongan, penipuan, pemalsuan, penindasan, penyalah-gunaan wewenang dan perlakuan sewenang-wenang terhadap kaum yang lemah.
Hari ini adalah hari dimana kita mengukur nilai keimanan kita kepada Allah beserta ketundukan kita untuk melakukan segala syari’at-Nya, meneguhkan keyakinan kita untuk menyata-laksanakan nilai taqwa yang telah menjadi kewajiban kita sebagai makhluk yang hanya menumpang di bumi Allah ini.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Dengan memperhatikan kenyataan sebagaimana tersebut, marilah kita mempertanyakan kembali akan keberadaan diri kita, terhadap nilai dan makna puasa yang baru saja laksanakan. Sudahkan kita menghitung berapa kali kita mencuri ?, berapa kali kita berbohong ?, berapa kali kita menipu ?. berapa banyak kita mengkonsumsi makanan yang haram bukan hak kita ?. Sudahkah kita menghitung berapa kali kita menghardik orang tua kita ?, berapa kali menyakiti hati orang lain ?, berapa kali kita menggunjing, mengumpat dan menghina ? Tahukah kita bahwa semua itu adalah sama dengan memakan daging saudaranya yang mati ?
Sudahkah kita menghitung-hitung berapa lama kita telah meninggalkan kewajiban shalat, berapa banyak hari puasa kita yang rusak dan yang sengaja kita ditinggalkan ?. Sudah berapa banyak jumlah zakat yang kita keluarkan ?, sudah berapa tahun kita menunda untuk pergi ibadah haji padahal kita memiliki kemampuan untuk itu ?. sudahkah kita menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi kita yang telah menyatakan diri orang Islam ?.
Sungguh masih banyak lagi yang seharusnya kita pertanyakan pada diri kita, dan ternyata betapa banyaknya dosa-dosa yang telah menutupi jasad ini, sehingga diri kita hanya sepantasnya di siksa di dalam kubur dan di bakar dineraka.
Wahai ummat yang saat ini hadir mendengar khutbah saat ini, sungguh telah banyak dosa yang kita pelihara, sungguh banyak kesalahan yang telah kita banggakan, dan sungguh masih banyak lagi dosa dan kesalahan yang mungkin telah kita rencanakan dan menanti seluruh indra kita untuk melakukannya.
Marilah kita terus bertanya dan senantiasa mengingat kesalahan dan dosa, karena dengan demikian berarti kita mendekatkan diri pada tobat - dan tobat sungguh mendekatkan kita pada kasih sayang Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih, sehingga betapapun banyaknya kesalahan kita, sungguh masih lebih banyak kasih sayang-Nya, dan betapapun besarnya dosa kita, sungguh masih lebih besar ampunan-Nya, selama kita mau menyadari arti kehidupan ini - dan mau merubah cara hidup kita sesuai dengan tuntunan-Nya.
Sungguh masih ada amalan Rasulullah yang patut dijadikan amalan dalam memelihara taqwa kita dari pengaruh iblis yang terkutuk. Kalau saja puasa kita rasakan dapat mencegah kita berbuat maksiat, maka maukah kita berpuasa di luar bulan Ramadhan, sebagai benteng pertahanan dari pengaruh godaan syetan ?.

Kaum Muslimin Jama’ah Ied Rahimakumullah
Semoga kita semua Allah jadikan sebagai orang-orang yang senantiasa memelihara diri dengan mengingat akan segala dosa dan kesalahan kita, dan semoga Allah memberkahi niat kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa bertobat atas dosa dan kesalahan tersebut, Amin yaa Rabbal 'alamin.
Akhirnya, marilah kita berdo’a - bermunajad kepada- Nya. Dia Allah yang telah menciptakan kita semua, Dia Allah tempat kita memohon ampunan, dan Dilah Allah tempat kita akan kembali nanti.
Yaa Allah, bukalah pintu tobat bagi kami agar kami senantiasa memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan kami, jika seandainya pantas bagi kami maka panjangkanlah usia kami, hingga kami dapat bertemu dengan bulan Ramadhan-Mu yang penuh rahmat, berkah dan ampunan-Mu.
Yaa Allah, sucikanlah hati untuk melepas kepergian bulan suci, walau sungguh banyak amalan kami yang masih kotor, bahkan menjijikkan - izinkanlah kami menyambut datangnya bulan kemenangan, walau kami sebenarnya tak pastas bersamanya karena kegagalan yang kami sengajakan untuk meraihnya.
Ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.Sertakan kami bersama orang-orang yang berbuat baik, dan masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang "mukhlishina lahuddin", yaitu orang-orang yang senantiasa mengikhlaskan ketaatan hanya kepada-Mu. Jadikanlah kami semua orang-orang yang bertaqwa.
Selengkapnya... »»  

Gubernur Akan Lakukan Evaluasi Terhadap Seluruh SKPD

Mataram - Gubernur NTB, Dr. TGH.M.Zainul Majdi MA, mengatakan dirinya akan tetap melakukan evaluasi terhadap seluruh pejabat di SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTB menyusul adanya rekomendasi dari Panitia Kerja (Panja) Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI DPRD NTB agar beberapa pejabat di SKPD NTB dapat di evaluasi dan diberikan sanksi tegas oleh Gubernur.

Ia mengatakan, dirinya akan melihat dulu apa-apa masalahnya secara lengkap. Sebagai contoh, adanya penimbunan rekening di lingkup RSUP NTB, namun setelah di cross cek ke Direktur RSUP, hal itu merupakan perintah langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

“Pasti tetap akan kita evaluasi,” kata Gubernur seusai menghadiri Rapat Paripurna DPRD NTB, Senin (22/8/2011) kemarin.

Lebih lanjut, orang nomor satu di NTB itu juga menegaskan dalam evaluasi nantinya, tentu akan termuat juga sanksi yang akan diberikan apabila ditemukan ada penyimpangan. Apakah kasus itu hanya bersifat administratif atau ke ranah hukum dan lain sebagainya. Namun, saat ditanya lebih lanjut apakah dari rekomendasi itu pihaknya akan memberikan sinyal mutasi, Ia enggan berkomentar.

Sebelumnya, dalam rapat paripurna DPRD NTB kemarin, Juru Bicara Panja LHP BPK RI DPRD NTB, Ruslan Turmuzi, mengungkapkan beberapa pejabat SKPD NTB yang dinilai berkinerja buruk. Beberapa diantaranya, yaitu Direktur RSUP NTB, Kepala Biro Umum Setda NTB, Kepala Biro Keuangan, Bappeda NTB, Dishubkominfo NTB dan beberapa pejabat lainnya. Bahkan, dua diantaranya yang disebut sebagai hasil temuan BPK RI itu, yakni adanya penimbunan rekening dan penjualan rumah dinas sebagai asset NTB yang dilakukan Direktur RSUP NTB.

Penilaian BPK RI yang tidak menyatakan Disclaimer terhadap keuangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Disebabkan, beberapa pejabat di lingkup SKPD NTB dinilai berkinerja buruk. Hal ini berimbas ketidakberesan keuangan Pemprov NTB, seperti ketidakjelasan asset milik Pemprov NTB. (imn)
Selengkapnya... »»  

Ketika Ulama Tidak Konsisten Pada Kebenaran

Oleh: H. Sahlan Rafiqi Mashal

Ketika masyarakat menyaksikan ulama tidak konsisten pada kebenaran, menjalin hubungan dengan jamaah koruptor, dan menjalani hidupnya dengan glamour; hal itu merupakan kontribusi besar bagi kerusakan negeri ini. Jika ulama sudah tidak dipercaya, maka kalangan awam akan menjauh dari agama, karena mereka tidak mempercayai lagi omongan ulama. Hal ini, memberi peluang bagi penguasa untuk menjauhkan agama dari praktek kehidupan masyarakat. Sebab, ulama’ yang rusak akhlaknya dapat diperalat penguasa untuk merusak masyarakat menggunakan dalil-dalil agama.

Menjelang Ramadhan kita mendengar kaum ulama dan juga pejabat negara, melarang supaya ormas Islam tidak melakukan sweeping tempat maksiat. Mengapa bukan maksiatnya yang dilarang, sehingga tidak perlu ada sweeping? Akibatnya, segolongan orang yang masih komitmen pada agama, tetapi dengan bekal ilmu yang dangkal menempuh cara-cara yang bertentangan dengan Islam untuk melestarikan amar ma’ruf – nahi mungkar. Maraknya radikalisme dan liberalisme di negeri kita sesungguhnya bermuara dari kolaborasi ulama jahat dan penguasa zalim ini.

Kolaborasi ulama dengan penguasa yang melawan agama, dapat dibuktikan dengan menelaah sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang salah terjemah. Di dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya yang diterbitkan Depag RI, sejak 1965, terdapat 3140 ayat dari jumlah 6326 ayat Al-Qur’an yang salah terjemah. Akibat kesalahan ini, sangat dahsyat, melahirkan aliran sesat, memicu terorisme dan merajalelanya dekadensi moral.

Misalnya, terjemah harfiyah Al-Qur’an Depag terbukti memicu kekerasan dan terorisme : “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah) ….” (Qs. Al-Baqarah, 2:191)

Kata bunuhlah dalam terjemah di atas berkonotasi perorangan, bukan antar umat Islam dengan golongan kafir. Seolah-olah setiap orang Islam boleh membunuh orang kafir yang memusuhi Islam di mana saja dan kapan saja dijumpai, sekalipun di luar zona perang. Pembunuhan terhadap musuh di luar zone perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror; suatu keadaan yang tidak dibenarkan oleh syari’at Islam. Apabila terjadi teror atau konflik horizontal, bahkan pembunuhan disebabkan membaca teks terjemahan di atas. Maka bukan hanya salah pembaca, tapi juga tanggungjawab ulama dan penguasa negara, karena kalimat terjemahan memang salah, dan menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut.

Terjemah yang benar dari ayat ini: “Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian dimanapun kalian temui mereka di medan perang dan dalam masa perang…”

Adapun contoh terjemah harfiyah Qur’an Depag, yang dapat disalahpahami sebagai pembenaran atas perzinahan, Qs. Al-Ahzab, 51:

“Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu…”

Kalimat ‘Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu,’ pada terjemah di atas sesat dan menyesatkan. Sebagai pengamal Al-Qur’an paling sempurna, Nabi Saw. tidak pernah menceraikan istrinya, maka mustahil beliau menggauli perempuan yang telah dicerai, apalagi tanpa rujuk pula. Padahal ayat ini berkaitan dengan kebebasan Nabi Muhammad Saw menukar giliran bermalam diantara istri-istri beliau. Karena itu, terjemah di atas bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak beliau yang sangat terpuji.

Terjemah harfiyah Qs. An-Nisa’ ayat 20 lebih menyesatkan lagi: “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain…” Kalimat mengganti istrimu dengan istri yang lain, jelas terjemah yang salah dari ayat tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istri adalah perempuan yang bersuami. Kata menggati berarti menukar dengan yang lain. Mustahil Islam membenarkan seorang suami menukar istrinya dengan istri orang lain.

Terjemah ini menyesatkan, seolah Islam membenarkan para suami saling bertukar istri. Maka terjemah yang benar adalah: “Wahai para suami, jika kalian ingin menceraikan istri kalian, lalu menikah dengan perempuan lain…” Terjemah tafsiriyah seperti ini tidak mungkin mengundang salah paham terhadap Al-Qur’an.

Ada lagi tarjamah harfiah Depag yang salah, Qs. An-Nur, 24:60 : “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka….”

Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian berarti membuka atau melepaskan pakaian yang dipakainya alias telanjang. Padahal maksud ayat ini, adalah melepas kerudung yang menutup kepalanya. Mustahil Islam membenarkan seorang perempuan menopause melakukan pornoaksi dengan telanjang di depan umum.

Al-Qur’an adalah sumber kebenaran dan pedoman hidup kaum muslimin. Apabila pemerintah tidak segera mengoreksi bahkan menarik predaran Al-Qur’an Terjemah Depag ini, patut dicurigai adanya msisi penodaan kitab suci umat Islam. Seperti yang dilakukan pendeta Yahudi dan Nasrani terhadap Kitab Taurat dan Injil. Kita menyaksikan, semakin banyak jumlah kaum Muslimin yang mengikuti paham sesat dan menolak syari’at Islam di lembaga negara, mengikuti provokasi pengikut agama lain yang memiliki doktrin, ‘agama urusan pribadi, sedang urusan sosial, ekonomi, politik terserah pada nafsu masing-masing’.

Apabila sikap beragama seperti ini terus dipertahankan, berarti penguasa dengan sengaja menjerumuskan bangsa ini ke lembah kebinasan. Melestarikan kejahatan, berarti memfasilitasi turunnya hukuman dari Allah Swt. Allah Swt berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri yang penduduknya zhalim, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat sesat di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat durhaka di negerinya. Akibat perbuatan durhaka pemimpin mereka, turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.“ (QS. Al-Isra‘ [17] : 16)

Inilah hukum kausalitas, ada sebab pasti diikuti akibat, sehingga berlangsunglah keputusan Allah. Tampilnya ahlul ma’siat, tokoh masyarakat yang durhaka pada Allah sebagai figur pemimpin nasional dan regional, merupakan hukuman bagi negara yang tidak tunduk pada hukum Allah Swt.
Selengkapnya... »»  

Mendengar Suara Petasan Seorang Gadis Jatuh Pingsan

Lombok Utara - Petasan kembali terdengar ditengah-tengah umat Islam melakukan buka puasa, bahkan suara petasan yang terdengar begitu dahsyat pada Senin malam 21/8/11 di Dusun Ancak Timur Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara itu membuat seorang gadis yang bernama Evi (20) langsung pinsan tak sadarkan diri dan dibawa ke Puskesmas Kecamatan Bayan.

Namun karena mengingat peralatan yang dimiliki di Puskemas masih minim, sehingga Evi harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) Mataram. “Memang pasiennya terkejut mendengar suara petasan dan kita tidak mampu tangani, sehingga perlu kita rujuk ke RSU Mataram”, kata salah seorang perawat di Puskesmas Bayan.

Menurut ayah Evi, Ya’kub, malam itu dirinya sekeluarga sedang menikmati buka puasa dirumahnya di Dusun Ancak Timur, namun tiba-tiba terdengar suara petasan berukuran besar yang cukup keras, sehingga membuat Evi langsung jatuh pingsan karena terkejut mendengar suaranya. “Anak saya Evi memang mengalami lemah jantung dan tidak bisa mendengar suara terlalu keras. Karena tempat membunyikan petasan terlalu dengan rumah saya, sehingga langsung anak saya tidak sadarkan diri”, kata Ya’kub yang ditemui di Puskemas Bayan, sebelum dirujuk ke RSU Mataram.

Ketua BPD Karang Bajo, Rianom, S.Sos menuturkan, dirinya juga sempat terkejut mendengar suara petasan, dan langsung keluar mencari orang yang meledakkan petasan, dan pada saat itu ditemukan salah seorang pemuda yang benama Mujahidin (25), warga Dusun Kedaro Desa Sekotong Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat yang lagi memegang petasan berukuran besar. Sementara pelaku lainnya langsung melarikan diri dengan menggunakan mobil.

“Karena yang saya temukan hanya Mujahidin, ditempat tersebut sehingga saya langsung pegang tangannya dan melayangkan pukulan serta melaporkan ke pihak kepolisian terdekat (Polsek Bayan-red) bersama keluarga korban.
Mendengar laporan tersebut, pihak kepolisian langsung turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan mencari beberapa orang yang diduga membunyikan petasan. Dan selang beberapa jam, beberapa pelaku langsung digelandang ke kantor Polesk Bayan untuk dimintai keterangan.

Adapun pelaku yang diamankan pihak petugas kepilisian antara lain, Andry bertindak sebagai pembeli, Bayu sebagai pembakar petasan yang keduanya warga Dusun Tumpangsari Desa Senaru dan Mujahidin yang bertindak memegang petasan yang diluncurkan. Ketigasnya diamankan pihak kepolisian dengan satu barang bukti yaitu petasan berukuran besar merek Roman Gandles.

Setelah dimintai keterangan, ketiga pelaku langsung minta maaf kepada keluarga korban dan berangkat ke RSU Mataram untuk menjengok Evi yang tak sadarkan diri dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya yang dinilai mengganggu kenyamanan umat Islam sampai menimbulkan korban.

Kapolres Lombok Barat melalui salah seorang petugas Polsek Bayan, Bripda Made Sukadana ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. “Pelakunya sudah kita mintai keterangan dan meminta maaf kepada keluarga korban”, katanya singkat.
Sementara kondisi korban hingga malamini sudah mulai membaik dan sadarkan diri. “Alhamdulillah Evi sudah mulai membaik, mudah-mudahan kejadian ini sebagai pelajaran bagi pelaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya”, kaya Ya’kub ketika dihubungi via hp malam ini.
Selengkapnya... »»  

Pengunjung kesal- Puskesmas Tanjung Tak Layak Jadi RSUD KLU

Lombok Utara - Kebersihan yang seharusnya menjadi factor utama dan tolak ukur bagi lembaga kesehatan atau puskesmas tidak bias dirasakan dipuskesmas tanjung yang diancang- ancang menjadi Rumah Sakit Daerah (RSUD), ini terlihat dari banyaknya sampah yang berserakan dimana- mana, tentu ini membuat para pasien dan pengunjung akan merasa kesal hingga ada yang mengeluarkan kata- kata yang tidak seharusnya delontarkan.

Apabila hanya mengandalkan selogaan atau pemplet kebersihan yang ditempel disetiap dinding kamar pasien dari pesan kebersihan adalah sebagian dari iman hingga jangan meludah disemabarang tempat tidak akan membuat para pengunjung sadar akan hal itu, terkecuali dari pihak pouskesmas dengan menjamin kebersihan itu sendiri.

Seperti salah satu keluarga pasien Ibu Salmah ketika di wawancarai mengaku kesal dengan pelayanan dan tata lingkungan puskesmas tanjung yang kotor dan bauk, saya heran saja dengan kondisi puskesmas tanjung ini ternganya, ia kalau saja pihak puskesmas peduli dengan hal tersebut sudah tentu akan melakukan perubahan dasar mulai dari kebersihan kamar pasien hingga kamar mandi pasien, lihat saja kamar pasien sepertinya tidak terurus, lantainya kotor jendela dan tempat tidur pasienpun sudah tidak layak pakai, tegasnya.

Selain itu saya juga heran(red) apakah ini memang perbedaan yang dikedapnkan oleh pihak puskesmas atas kami sebagai pasien yang menggunakan pasilaitas JAMKESMAS dengan pasien yang menggunakan ASKES, bisa anda bayangkan bagai mana perasaan kami sebagai masyarakat kecil seolah- olah pembeda itu sangat kami rasakan, keluhnya.

Kami berharap pemerintah daerah untuk segera memperhatikan ini khusus puskesmas tanjung karena sudah memang sudah tidak layak lagi dijadikan sebagai tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga KLU, bukannya warga KLU akan tambah sehat dan sejahtera malahan akan membuat warga KLU akan menjadi sakit dan tambah menderita karena anggaran yang seharusnya dipergunakan sebaik- baiknya untuk kesehatan dan kesejahteraan rakayt KLU ditilep, ungkapnya kesal (Ria Sukandi)
Selengkapnya... »»  

Oknum Petugas Dinas Pemerintah KLU Diduga Lakukan Pungli

Lombok Utara - Hampir tak ada henti- henti masalah yang dihadapi oleh daerah penyumbang PAD terbesar bagi KLU ini yaitu gili trawangan,. Mulai dari masalah sengketa lahan PT. WAH dengan masyarakat, Oprasi Gatrin Premanisme, miras dan Narkotika, ketidak jelasan penanganan limbah sampah hotel hingga pada pungutan liar pajak yang dilakukan oleh salah satu oknum dinas pemerintah Kabupaten Lombok Utara yang terjadi waktu- waktu ini.

Seperti laporan masayarakat yang diserap dari bawah oleh media adanya pungutuan liar ini dilakukan oleh oknum yang mengaku dari salah satu dinas pemerintah kabupaten Lombok utara, tentu dengan memakai atribut lengkap seperti baju seragam dan perlengakapan- perlengkapan lain seperti nota retribusi dan pajak.

Pengakuan warga gili terawangan ditangkap dan segera dilakukan investigasi, ternyata hal tersebut benar adanya, seperti salah satu keterawngan warga gili terawangan yang tidak mau disebutkan namanya mengaku bahwa setiap sekali tiga bulan dilakukan pungutan pajak terhadap pengelola hotel rata rata mereka dikenakan pajak berkisar dari enam ratus ribu rupiah sampai satu juta lima ratus ribu rupiah sesuai dengan klasifikasi hotelnya.

Sementara itu sekartaris Dinas Pendapatan Daerah Sahabudin, SE, MM ketika dikonfirmasi setelah menghadiri undangan HUT RI di lapangan super semar tanjung (17) agustus mengakau baru pertama kali dikethui dari wartawan. "Saya sangat berterima kasih kepada kawan- kawan wartawan yang sudah memberikan informasi ini kami akan cobe segera melakukan penelusaran kebawah agar masalah ini tidak berkepanjangan, padahal pungutan yang dilakuakan pemerintah daerah sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku yaitu self asisment dan kawan- kawan dewan sudah membenarkan metode yang dilakukan kuhusus pada dinas pendapatan daerah", ungkapnya. (Ria Sukandi)
Selengkapnya... »»  

Rapat Paripurna KUA- PPAS Berlangsung Hikmad

Lombok Utara - Beredasarkan keputusan DPRD kabupaten lombok utara Nomor: 02 Banmus/ 2011 tentang perubahan kedua jadwal masa sidang ke II Tahun Dinas 20011 berlangsung hikmad, terlihat dari seriusnya para tamu undangan sidang menyimak sambutan Bupati H. Djohan Samsu, dan sambutan pimpinan sidang ketua DPRD KLU Mariadi, S. Ag.

Dari penjelasan serta penyampaian kepala daerah terhadap KUA- PPAS tahun 2011 pada rapat paripurna tanggal 9 Agustus lalu melalui rapat internal badan anggaran dengan tim anggaran pemerintah daerah (TPAD) dibahas secara mendalam dan selanjutnya diparipurnakan hari ini tanggal 22 agustus 2011.

Terlihat penandatangan pengesahan serta serah terima MOU atau nota kesepahaman oleh kedua belah pihak yaitu kepala daerah selaku pimpinan ekskutif dan ketua DPRD dan ketua badan anggaran tidak ada kritkan dari peserta sidang, Nampak 25 para peserta sidang dari kedua pihak eksutif dan legislative memenuhi ruangan, tidak terlepas juga dari pantuan kami wartawan Nampak SEKDA KLU Suhardi bercengkrama mesra dengan pejabat eksutif lainnya disaat penyampaian materi persidangan oleh Pimpinan sidang.

Pimpinan sidang yang dilakoni oleh Mariadi, S, Ag melalui penyampainannya ungkapnya setelah menyimak laporan badan Anggaran DPRD terhadap kesepakatan KUA- PPAS APBD perubahan tahun 2011 menyimpulkan atas nama lemabaga Dewan Perwakilan Rakyat Kab. KLU dapat menyimpulkan beberapa kesimpulan antara lain rancangan kesepakatan KUA- PPAS APBD tahun 2011 menjadi KUA- PPAS APBD perubahan tahun 2011, yang selanjutnya akan dijadikan penyusunan prioritas dan pelafon angggaran sementara perubahan dan perubahan ABPD tahun 2011.

Selanjutnya dilaksanakan acara penanda tanganan MOU atau nota kesepahaman KUA- PPAS APBD perubahan tahun 2011 antara kepala daerah dengan DPRD Kabupaten Lombok utara, melalui penaymapaian kedua kali pimpinan sidang berharap kepada pihak ekskutif selaku skskutor anggaran menitip pesan agar dalam menggunakan anggaran, hendaknya lebih mengutamakan program yang mendesak sebagai sekala prioritas dengan mengutamakan prinsif transfaran, akuntabel, ungkapnya. (Ria Sukandi)
Selengkapnya... »»  

Minggu, 21 Agustus 2011

Menelusuri Jejak Sembahyang Tarawih Kyai Adat Bayan

Bayan adalah salah satu kecamatan terujung dan terjauh dari pusat ibu kota kabupaten Lombok Utara yang terkonsentrasi di wilayah kecamatan Tanjung, Bayan juga dikenal sebagai daerah yang memiliki peradaban tertua di pulau lombok karena daerah pertama yang menerima penyebaran agama Islam, sekaligus pintu masuk penyebaran agama Islam yang datang dari pulau Jawa.

Bayan juga banyak menyimpan legenda dan cerita unik yang dilengkapi dengan bukti-bukti sejarah yang diritualkan bahkan prosesinya masih kukuh menggunakan ritual adat dalam setiap pelaksanaan acara adat atau gawe adat yang masih kental diyakini sebagai peninggalan nenek moyang terdahulu yang harus tetap dilestarikan dan dijaga. Salah satunya pelaksanaan sembahyang (sholat) tarawaih yang dilakukan para kyai-kyai adat Bayan yang prosesinya dipusatkan di masjid Kuno Bayan yang berukuran 12 x 10 meter. Arsitektur bagunannya sepintas penuh dengan nuansa sederhana, ditambah lagi hamparan lantai masjid yang masih alami dan dilapisi dengan tikar pandan. Masjid kuno ini juga sekaligus sebagai bukti sejarah masuknya ajaran agama Islam di daerah ini sekitar abad ke 14.

Pelaksanaan Sembahyang Tarawih Kyai Adat Bayan memang tidak memiliki perbedaan dengan sholat tarawih yang dilakukan secara umum tertutama dalam segi bacaan, rukun, witir hingga pelaksanaan tadarusan lainnya. Hanya saja dari segi pakaian yang digunakan memang sangat berbeda dan unik, namanya saja Tarawih Adat yang sudah tentu harus menggunakan pakaian adat khusus yang juga memiliki nilai dan unsur kearifan lokal yang terkandung didalamnya.

Satu contoh putih yang digunakan melambangkan arti kesucian, sedangkan kain panjang (dodot) berwarna merah memberi arti jiwa kepemimpinan, dilengkapi dengan sapuq atau bongot yang juga sudah menjadi tradisi tersendiri.

Sholat Tarawih di masjid Kuno dilakukan tiga hari setelah pelaksanaan sholat tarawih pada umumnya dengan maksud agar tidak terjadi benturan waktu pelaksanaannya, hingga pelaksanaan lebaran adat juga dilakukan 3 hari setelah lebaran idul fitri secara umum. Pendapat lain hitungan ini juga dimasudkan agar agama tetap diikuti adat dan bukan sebaliknya.

Pelaksanaan Tarawih Kyai adat ini hanya boleh dilakukan oleh para Kyai-kyai adat yang berjumla h 44 orang. Dari ke 44 kyai ini juga tidak mesti harus fokus pada masjid kuno saja, akan tetapi juga dapat melakukan sholat tarawih pada masjid umum lainya. Kyai yang dimaksud terdiri dari Kyai Kagungan yang meliputi 4 unsur yakni Penghulu, Lebe, Ketib, dan Mudim dan Kyai Santri yang berjumlah 40 orang.


Agama dan Adat Harus Seimbang

Agama adalah pemberian dari Tuhan, sedangkan adat adalah peninggalan dari orang tua atau nenek moyang, yang keduanya harus dijaga dan diseimbangkan.

Memang sebagian kalangan masih menilai pelaksanaan ajaran Watu Telu kental dan identik dengan pelaksanaan ibadah sholat yang dilakukan 3 waktu dan puasa yang dikerjakan hanya pada awal, tengah dan akhir bulan saja, namun yang pasti agama dan adat yang sudah tentu memiliki kaitan erat dalam semua sendi kehidupan manusia memang tidak dapat dipisahkan, terlebih dalam komunitas adat bayan yang selama ini tidak pernah ada larangan pada semua generasi dan penerus untuk menuntut ilmu dan menyempurnakannya, asalkan adat - istiadat tidak dikesampingkan agar tetap berimbang dan seimbang, tutur Raden Gedarip laki paruh baya yang sudah memiliki 31 orang cucu ini.

Sumber lain yang berhasil ditemui Primadona adalah Raden Jambianom, Penghulu Raden Adat Bayan, ia menjelaskan, “Sebelum menyandang status Kyai Adat maka tidak diperbolehkan mengikuti sembahyang tarawih kyai adat dimasjid kuno. Dalam pelaksanaan sembahyang tarawih Kyai Adat ini ayat-ayat Al-Qur’an yang biasa dipakai harus dibacakan secara berurutan, sedangkan filosofi pelaksanaan sembahyang tarawih kyai adat setelah tiga hari sembahyang tarawih secara umum karena berpatokan pada tanggal dan posisi bulan, dimana menurut filosofi ini diyakni sahnya sesuatu itu dikerjakan apabila dapat dilihat secara langsung oleh mata. Sedangkan pada tanggal 1 dan 2 posisi bulan belum dapat terlihat dan kemudian baru dapat terlihat pada tanggal 3. Pelaksanaan ritual adat juga selalu berpatokan pada hari ketiga setelah ritual umum lainnya, karena masyarakat adat selalu berpegang teguh pada sistem penaggalan".

Sedangkan Kyai Kagungan yang melipuiti 4 unsur (Penghulu, Lebe, Ketib, dan Mudim) pada dasarnya memiliki tugas pokok yang sama, yaitu sebagai imam. Sedangkan tugas lainnya juga masih memilki tahapan dan bagian sesuai dengan wilayah adat yang dimilki, hanya saja Penghulu dapat berperan di semua wilayah adat. Sedangkan Kyai Santri yang berjumlah 40 orang hanya bertugas sebagai makmum atau disebut juga sebagai pembantu yang bertugas mengurus semua ritual adat atas perintah dan mandat dari Kyai Kagungan. Yang boleh berperan sebagai Kyai Kagungan dan Kyai Santri ini harus berdasarkan keturunan.

"Terkait makna Watu Telu memang tidak terlepas dari filosofi masyarakat adat Bayan yang selalu berpegang teguh pada tiga unsur atau keyakinan, yakni hubungan Tuhan dengan Manusia yang melibatkan para Kyai. Hubungan Manusia dengan Manusia yang melibatkan Pranta-pranta dan sesepuh adat, dan yang terakhir adalah Hubungan Manusia dengan Lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq (para orang tua). Ketiga unsur ini memerlukan dan harus diseimbangkan, karena bagaimanapun juga kalau salah satunya tidak nyambung atau seimbang maka tidak mungkin kehidupan dapat berjalan dengan baik", ungkap Raden Jambe.

Saat ini keberadaan komunitas adat beserta hak-hak yang dimilikinya juga semakin kuat dengan UUD 45 yang sudah diamandemenkan dan tertuang dalam pasal 18 ayat b bahwa Negara mengakui hak ulayat dan ritual masyarakat adat. Jadi posisi dan keberadaan komunitas adat dan kearifan lokal yang dimilikinya juga semakin kuat untuk mendapat perlindungan dan harus tetap dilestarikan, tambah raden Jambianom.
Selengkapnya... »»